Ahok Dikeroyok!



Begitu kuat dan mapannya elektabilitas, popularitas dan kredibilitas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat ini maka bila satu lawan satu menghadapinya para partai pada keder (takut kalah), itu sebabnya kemarin ada berita bahwa sebanyak10 parpol berkumpul di Hotel Artha Yudha Jakarta hanya untuk menggalang kekompakkan supaya menjegal Ahok pada Pilkada DKI 2017 mendatang.

Lucunya para pemimpin parpol mainannya makin seperti kanak-kanak saja?, hanya anak-anak yang mainannya keroyokan. Jikalau pada jaman almarhum Presiden Gus Dur beliau pernah berkata bahwa DPR itu seperti Sekolah Taman Kanak-Kanak, maka pada Jaman Presiden Jokowi kita melihat bahwa para pemimpin Partai Politiknya juga seperti murid Taman Kanak-Kanak, nah para pengikutnya nanti menjadi apa ya? Para pengikutnya barangkali murid pra – sekolah. Tapi tidaklah, para pengikut partai terutama penduduk Jakarta saat ini juga sudah cerdik, walau pimpinan parpolnya ngomong apa, jikalau tidak masuk akal, kekanak-kanakan dan memalukan ya mereka tidak bakal turuti.

Walaupun secara gamblang motivasi 10 pemimpin Partai Politik itu berkumpul tidak dijelaskan, tetapi dari gelagatnya dapat diketahui bahwa mereka sedang membicarakan bagaimana cara jitu menjegal Ahok pada Pilkada DKI 2017 yakni dengan menampilkan sosok tokoh yang dianggap sangat layak untuk melawan Ahok. Nah jikalau Ahok itu gila akan jabatan, maka barangkali ia akan merasa stress menghadapi kondisi seperti ini, karena posisinya bakal goyah dan bakal digoyang; tetapi dari sikap Ahok sehari-hari yang terlihat semestinya ia tidak mempermasalahkan hal ini karena bagi Ahok jabatan Gubernur bukan segala-galanya, jabatan itu amanah dari Tuhan, baginya yang paling penting ia telah bekerja keras, berencana dengan baik, dan hasil kerjanya sudah terbukti nyata dirasakan dan dinikmati oleh masyarakat Jakarta.

Itu sebabnya, di dalam pidatonya ia bicara makin hari makin keras dan makin keras, ia mati-matian berjuang agar Jakarta itu lebih bagus, berantas korupsi, disiplin kerja, Jakarta harus berubah, bebas banjir dan untuk itu ia tidak segan-segan memecat mereka yang tidak sanggup atau sengaja tidak menuruti perintahnya. Ahok bukan hanya membangun kota Jakarta, tetapi Ahok juga membangun orang-orang Jakarta. Jikalau Ahok tergiur dan tergila-gila akan jabatan itu tentu ia akan berlaku baik-baik saja untuk sementara satu tahun ini supaya banyak orang merasa simpatik padanya dan memilih dia kembali.

Model keroyokan adalah model anak-anak, jikalau benar nantinya gara-gara keroyokan ini Ahok kalah dalam Pilkada DKI 2017 maka warga Jakarta dan semua masyarakat dunia akan memakluminya, dan sambil senyum-senyum mereka berkomentar “ya kalahlah Ahok , wong caranya memakai keroyokan.”. Namun jikalau ternyata Ahok yang menang maka terlebih-lebih lagi yang keroyokan itu akan dianggap remeh. Jadi seperti makan si buah mala kama saja jikalau mencoba jegal Ahok, tetap saja menuai ejekan.

Yang menjadi pertanyaan adalah, ada apa dan kenapa ya para petinggi partai itu bukannya membantu memikirkan program pemerintah saat ini khususnya di Jakarta yang sudah kelihatan membaik untuk bersama-sama membangunnya, daripada setiap hari hanya mengganggu kinerja orang dan mencari kesalahan? Apa yang tidak disukai dari Gubernur yang ada sekarang ini? Apakah itu karena ia Berani? Apakah Karena ia memberantas Korupsi? Apakah ia sangat disiplin? Apakah karena ia pekerja keras? Apakah zona aman para petinggi partai terganggu? Atau apakah memang Jakarta lebih butuh pemimpin yang lemah lembut, santai-santai saja bekerja, korupsi dibiarkan berkembang biak? Mari warga Jakarta pikirkanlah sebaik-baiknya.


Saud, SF

Medio Awal Februari 2016

Sumber: Kompasiana


Baca juga:  Terungkap, Siapa yang Dapat Mengalahkan Ahok
0 Responses

Poskan Komentar

abcs