Saatnya Manusia Harus Belajar dari Hewan-Hewan Ini

 

Di antara sesama penghuni bumi, dikatakan bahwa derajat manusia-lah yang tertinggi. Manusia dibekali pikiran, bisa memikirkan mana yang baik, mana yang buruk. 

Derajat manusia di atas hewan, tapi dalam banyak kasus, sering kali manusia lebih rendah daripada hewan. Masalah kesetiaan, masalah keserakahan, dan lain-lain, terkadang kita (manusia) harus belajar dari hewan. Manusia yang berakal budi harus belajar dari hewan yang bertindak berdasarkan naluri.

 

  

Punya Nenek Kamu? *

Sumber foto Niagara Falss: Google

Saya betulan bingung lihatnya.

Di Indonesia itu, masuk pantai bayar. Lihat air terjun bayar. Lihat danau apalah, bayar.
Sampai saya bertanya-tanya, seriusan deh, itu pantai yang bikin nenek kamu? Itu air terjun yang buat kakek kamu? Itu danau yang ciptain bapak ibu kamu? 'Kan nggak?

Dan selalu argumennya, demi kebersihan, demi keamanan. Ini dikelola oleh penduduk, adat, apalah, dan lain-lain. Bohong deh, yang menikmati karcis-karcis, tiket-tiket ini memangnya semua penduduk setempat, atau kamu-kamu doang? Bagi rata semua penduduk dapat? Dan bicara soal kebersihan, lihatlah sampah berserakan, toilet bau, dan lain-lain. Ambyar.

Coba kamu ke LN. Apakah di Amerika, Eropa, negara-negara maju itu kalau mau ke pantai bayar? Kagak! Gratis.

Kamu mau ke air terjun Niagara Falls misalnya, bayar? Kagak. Gratis. Sepanjang tahun, kamu mau datang kapan pun bebas, gratis. Kamu tahu Niagara Falls?

Nah, yang bayar itu adalah, jika pengunjung mau makan, minum. Mau naik ferry, fasilitas ini itu, dan lain-lain. Mereka baru bayar. Dan pihak restoran, pemilik ferry, fasilitas dikenai pajak. Lantas, pajak inilah yang jadi biaya mengelola kebersihan, keamanan, dan lain-lain.

Gitu loh logikanya! Yang dijual itu layanan penunjang. Semakin bagus kamu bikin layanan penunjang, semakin cuan. Sementara wisata alamnya, duh Gusti, itu punya Tuhan.

Kamu mah terbalik. Ada sepotong tempat viral, kamu bergegas dengan teman-teman rakus kamu langsung bikin pagar, bikin loket, bikin karcis, mulai narikin duit.

Seriusan, itu pantai, air terjun, danau, dan lain-lain, yang bikin nenek kamu? Itu yang bikin Tuhan! Sejak kapan kamu jadi pemiliknya dan mungutin duit masuk? Tuhan ciptakan gratis, kok kamu mungut?

Tidak akan pernah maju sebuah tempat jika begini terus. Negara orang itu pengunjung satu lokasi saja bisa 1-2 juta turis asing. Karena diurus dengan baik. Di Indonesia ini, seluruh Indonesia, turis asingnya cuma segitu, kalah sama tempat segede upil, kayak kota Paris, Singapura, dan lain-lain.

Cobalah bercermin. Jangan-jangan, masalahnya itu di kamu, karena dikit-dikit duit, dikit-dikit duit! Semoga generasi berikutnya, yang sudah terbiasa ke LN, belajar, nyontoh. Dan saat mereka jadi penguasa, semua logika kacau ini bisa diperbaiki.

* Tere Liye

Sumber: FB Bahasa Hati 

Paduan Suara, Aneka Keberagaman dalam Sebuah Harmoni

Anggota paduan suara ini bagaikan pelangi. Mereka berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Aneka agama, usia, profesi, warna kulit, pandangan politik, dan sebagainya. Musik menyatukan mereka semua. Ah ... betapa indahnya dunia jika semua bisa bersatu-padu seperti ini, tanpa sekat. Mari dengarkan indahnya suara mereka ... 


Angel City Chorale Choir Gets GOLDEN BUZZER “Baba Yetu” America's Got Talent 2018 Judge Cuts 2 AGT

Saksikan juga video mereka berikut ini: Angel City Chorale Choir GOLDEN BUZZER Winner FULL STORY America's Got Talent 2018 AGT Judge Cuts 2

Wow, Indahnya Suara Anak-Anak Ini

 
 
 
abcs