Inilah (Sebagian) Wajah Birokrasi dan Kinerja PNS Kita

Ketika Gubernur DKI Jakarta, Jokowi, melakukan blusukan, banyak yang nyinyir. Itu pencitraan, hanya untuk publikasi biar terkenal.  Terlepas dari pencitraan atau bukan, blusukan atau sidak (inspeksi mendadak) memang wajib dilakukan. yang pro tentu setuju dengan turun langsung yang dilakukan pemimpin (tidak hanya duduk di kantor dan dengar laporan ABS saja). Semua lancar dan aman terkendali. Jalanan berlubang, laporannya mulus, pungli jadi tradisi, dilaporkan semua sesuai prosedur. PNS sering datang terlambat, jam kerja main games (pernah dipergoki Jokowi), kalau hanya menunggu laporan, pasti laporannya bagus. Lha...gubernurnya sudah sampai ke kantor kelurahan, eh... petugas di kelurahannya entah di mana? 

Kita melihat fakta, setelah tahu gubernur mereka (Jokowi dan Ganjar Pranowo) sering sidak saja, PNS ini masih berani pungli dan bekerja seenaknya sendiri (tidak disiplin), apa mental seperti itu memang harus dibiarkan saja???

Ketika dipergoki hal-hal yang tidak wajar, banyak yang akan membantah dan mengatakan, ini hanya oknum. masih banyak PNS yang jujur, bersih, bekerja sungguh-sungguh, tidak korupsi. Hmmm... entah angka berapa sesungguhnya yang dikatakan banyak. Kalau dibandingkan antara yang jujur dan tidak jujur, yang kerjanya baik dan tidak baik, mana yang lebih banyak??? Silakan lihat komentar pengunjung situs YouTube. 

Tapi sebelumnya, silakan lihat 3 video kegiatan sidak yang dilakukan Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah) dan memergoki penyimpangan dan kinerja PNS kita yang memang jauh dari yang seharusnya. Saat ditanya Ganjar Pranowo, mereka bingung harus bilang apa. Siapa yang bertanggung jawab, bingung. Di mana file yang dibutuhkan bingung. Mana ruangannya, bingung. 

Apa sih kerja sebenarnya...? Inilah (Sebagian) Wajah Birokrasi dan Kinerja PNS Kita. Entah sebagian besar atau sebagian kecil, Anda-lah yang bisa menjawabnya sendiri...






Untuk memperbesar tampilan, silakan klik pada gambar


Mari Buktikan Secara Ilmiah

Penulis bukan orang yang tidak percaya kepada hal-hal di luar nalar (memang ada hal-hal di luar logika atau bahasa umum adalah hal gaib). Hal seperti itu memang ada dan terkadang sulit dibuktikan. 

Kita tidak bicara, mana Tuhan, buktikan bagaimana wujudnya, bla... bla... bla... Yang akan penulis bahas di sini adalah hal-hal keseharian yang sederhana. Banyak hal-hal unik, terasa ganjil, sebenarnya  fenomena alam biasa yang bisa dijelaskan secara ilmiah.

Semestinya kita yang sudah hidup di zaman modern ini, jangan mudah "tertipu" oleh kelicikan orang-orang (yang mencari keuntungan) dengan memanfaatkan kemajuan teknologi tapi mengatasnamakan kekuatan gaib, mukjizat, dan sejenisnya.

Jika Anda pernah menonton film, kita jangan sampai dijadikan seperti Nixau dalam film berseri "God Must Be Crazy". Ketika menemukan hal-hal tidak biasa (mungkin di luar jangkauan pikiran kita), jangan cepat menyerah dan langsung mengambil kesimpulan itu kekuatan gaib, mukjizat, dan sejenisnya.

Kita mungkin akan tertawa jika melihat dalam film/ sinetron, ada tokoh dari suku pedalaman yang jadi menyembah orang asing karena orang asing itu menyalakan korek api gas (suku pedalaman ini penyembah dewa api). Kita akan tertawa dan menilai orang pedalaman tersebut bodoh, karena "memunculkan api" dari genggaman tangan adalah teknologi biasa. Setiap orang bisa membeli korek api gas dan mampu "memunculkan api" dari genggaman tangannya kapan saja ia mau.

Di satu sisi, kita menertawakan perilaku orang pedalaman, tapi di sisi lain, kita seringkali juga melakukan hal sama. 

Jika Anda seorang pesulap, atau punya teman pesulap, pernah beli alat sulap, atau mungkin pernah menyaksikan acara TV yang membongkar trik sulap, Anda akan menyadari, banyak hal-hal di luar logika atau nalar kita, ternyata semua itu bisa dilakukan dengan teknologi. 

Penulis berharap, para ahli kita (mungkin bekerja sama dengan polisi atau departemen yang terkait) bisa melakukan penelitian ilmiah atas "fenomena" yang digunakan orang-orang untuk mencari uang (menipu).

Salah satunya adalah pengobatan alternatif (mungkin departemen kesehatan, polisi, dan ahli) bisa meneliti para penyembuh yang menggunakan nama pengobatan alternatif. Ada yang menggunakan telur untuk menyedot penyakit dan cara-cara lain.  Saat telur dipecahkan, isinya kawat, belatung, pasir, tanah, dan lain-lain.

Jika penyembuh tersebut memang punya kemampuan gaib (bukan penipu), penulis yakin mereka tidak keberatan diteliti secara ilmiah. Coba bawa pasien yang sakit lalu bawa ke penyembuh alternatif. Peneliti diperbolehkan menyaksikan proses penyembuhan yang dilakukan. Sebelum telur digunakan, boleh diperiksa bahwa telur itu benar-benar telur asli (bukan telur yang sudah dimodifikasi). Atau boleh menggunakan telur yang dibawa peneliti. Lakukan secara transparan, boleh disorot kamera. 

Penulis tak tahu, bagaimana reaksi para penyembuh alternatif ini?

Bagi yang mengerti sulap, hal-hal semacam itu (telur bisa berisi belatung, paku, atau barang lain), di dalam buah semangka ada buah jeruk, atau hal-hal aneh lainnya, bukanlah "pekerjaan" sulit.

Obat-obatan herbal yang diberikan para penyembuh alternatif juga harus diteliti. Apakah obat itu murni berasal dari ramuan herbal atau justru ada bahan kimia berbahaya yang dicampurkan dan terkesan "mampu menyembuhkan" tapi efek sampingnya justru berbahaya. 

Jika para pemilik benda-benda gaib seperti jenglot tidak keberatan, seharusnya para peneliti bisa melakukan riset. Banyak yang menggunakan jenglot untuk menipu. Jika Anda tidak percaya, silakan klik: Fakta Jenglot Batara Karang dan Jenglot Blorong.

Ketika menemukan kadal berekor 2, buah nangka yang bentuknya seperti manusia, dan lain-lain, sikapi secara bijak. Tidak perlu-lah sampai "diagungkan atau sampai disembah". Itu fenomena alam. Jika Anda ingin ada nangka berbentuk unik, cobalah cari tahu ke ahli tanaman buah atau kepada petani buah. Dalam sebuah perkebunan (khusus buah tertentu), pada saat panen, jika Anda rajin mencari, kemungkinan besar Anda bisa menemukan buah yang bentuknya tidak lazim. Bisa terjadi dengan sendirinya, bisa juga dibuat oleh tangan kreatif. 

Petani di China bisa membuat buah pir berbentuk Buddha, silakan klik: Pir Buddha. Jika Anda menemukan buah atau binatang (misalkan ikan atau kucing dengan motif seperti tulisan atau gambar tertentu), sikapi-lah dengan bijak. Lagi-lagi di China, petani di sana bisa menghasilkan apel dengan tulisan aksara Mandarin: Apel Bertulisan Mandarin. Jika ingin dibuat tulisannya rapi seperti itu bisa, tulisan yang samar-samar dan terlihat seolah terjadi secara alami juga tentu bisa dibuat.

Mari sikapi fenomena alam dengan bijak, jangan sampai jadi korban "orang licik" yang menggunakannya untuk menipu.

Apakah Harus Selalu Menunggu Korban Dulu???

Banyak sekali kasus di Indonesia yang membuat para penentu kebijakan dan aparat bertindak setelah ada korban dulu.

Kasus terbaru adalah pelecehan seksual di sekolah internasional JIS  (Jakarta International School). baca (klik saja): Mengapa Teknologi Internet Tak Dimaksimalkan???

Padahal pepatah mengatakan, "Mencegah lebih baik daripada mengobati". Banyak kasus yang seharusnya tidak terjadi seandainya tindakan pencegahan dilakukan, penanganan agar kasus tersebut tidak terulang dilakukan berkelanjutan, dan hukuman yang diberikan kepada pelaku menimbulkan efek jera. Sering pula, para pucuk pimpinan saling lempar tanggung jawab ketika ada permasalahan terjadi.

Ketika ada mahasiswa tewas karena perpeloncoan (di IPDN misalnya, klik saja: Mahasiswa IPDN Tewas dan Sampai Kapan PLONCO Akan Dipertahankan???), semua berharap kejadian tersebut tidak terulang. Tapi kejadian sejenis, selalu terulang. Entah karena tindakan pencegahan tidak dilakukan, penanganannya hanya dilakukan saat itu (semua bergerak aktif saat heboh diberitakan, setelah itu hilang, artinya tindakannya tidak berkelanjutan), dan mungkin juga hukuman kepada pelaku tidak membuat efek jera.

Pencegahan, pihak departeman pendidikan atau pihak sekolah harus menghapuskan semua kegiatan berunsur perploncoan. Pengenalan kampus dan kegiatan belajar bisa dilakukan dengan seminar atau kegiatan akademik lainnya, dosen (pembina) harus memantau selama kegiatan berlangsung, dan tidak ada kegiatan yang bersifat fisik. Ini dilakukan seterusnya, bukan hanya setahun setelah terjadi tragedi tewasnya mahasiswa baru. Pihak penegak hukum memberikan sanksi hukuman maksimal (sekolah/ kampus juga bisa memberhentikan secara tidak hormat).

Haruskah kejadian-kejadian ini tidak terjadi lagi jika korban tewas adalah anak pejabat tinggi???


Berikut ini catatan penulis aneka peristiwa (mari lakukan pencegahan agar tidak terjadi lagi):


PERPLONCOAN
Daftar korbannya sudah banyak, tapi kejadian sama terulang lagi. yang terbaru (klik saja): Mahasiswa STIP Marunda Tewas Diduga Disiksa Senior.  

Mari sudahi tewasnya para penerus bangsa secara sia-sia saat menempuh pendidikan akibat plonco. Susah payah orangtua merawat sejak kecil, anak yang sudah dewasa harus tewas di tangan senior.

Pihak penyelenggara pendidikan ambil alih penyelenggaraan masa orientasi dan pengenalan kampus. Tidak ada kisah sebuah universitas jadi favorit karena plonco-nya paling sadis. Kegiatan orientasi bisa berupa seminar, penataran (seperti Penataran P4 di masa lalu),... Datangkan orang-orang sukses di karir untuk berbagi pengalaman masa kuliah bereka. Datangkan psikolog untuk menginformasikan kepada calon mahasiswa bagaimana perbedaan sekolah di SMU dan kuliah di kampus (harus lebih mandiri dan lain-lain). 

Mahasiswa baru harus dibekali ilmu, bukan disuruh menerima pukulan dan tendangan sekuat tenaga tanpa boleh melawan seperti maling yang tertangkap massa. Mereka bukan calon petinju yang harus tahan pukulan (petinju bertanding pun boleh menangkis serangan, tapi junior digebukin senior harus diam dan pasrah). 

Coba bayangkan, bagaimana jika itu anak Anda? Bagaimana seorang tunas bangsa yang pintar bahkan jenius dan bisa berkarya serta mengharumkan nama bangsa hanya tewas di tangan senior yang tidak lebih pintar dalam studi maupun karir?


PERLINTASAN TANPA PALANG & PENJAGA
Anda mungkin sering membaca berita atau mendengar berita adanya korban tewas di perlintasan kereta api tanpa palang dan penjaga. Kalau belum, silakan klik ini:  Tewas di Perlintasan Kereta Api Tanpa Palang

Seringnya dalam pemberitaan disebutkan, kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Nah... mengapa masih terus dibiarkan? Sampai ada korban dalam jumlah besar dan jadi pemberitaan nasional? Tolong pihak PJKA atau departemen perhubungan, sisihkan sebagian keuntungan atau anggaran yang ada untuk membuat palang dan membayar penjaga perlintasan kereta api. Nyawa manusia tak ternilai, tak bisa diganti dengan uang.


TOKO OBAT TANPA IZIN
Di mana-mana kita dengan mudah menemukan toko obat (khususnya yang menjual kosmetik dan obat-obat untuk urusan seksual) dengan nama-nama toko yang dimirip-miripkan dengan nama China. 

Besar kemungkinan toko ini tidak berizin dan menjual obat serta kosmetik tanpa izin edar. Ayo pihak yang berwenang, adakan razia. Mereka mudah dijumpai di mana-mana dan terbuka (bukan sembunyi-sembunyi dalam bertransaksi). Iklan mereka di "koran kuning" dan internet juga banyak. Polisi bisa bertindak sebagai calon pembeli khusus yang online karena mungkin tidak ada toko-nya secara nyata.

Tidak perlu tunggu korban (misal ada pengguna Viagra yang tewas) dulu baru diadakan razia dan para pejabat berwenang baru mengatakan obat-obatan dan kosmetik yang mereka jual itu ilegal, tokonya tidak punya izin dan lain-lain. 


PENATAAN PKL 
Di kota mana pun, kita menemukan banyak PKL yang menggunakan trotoar dan jalan untuk berdagang. Wajah kota jadi kumuh dan terjadi kemacetan di mana-mana. 

Mustahil pejabat berwenang tidak tahu keadaan ini. Ini bukan melarang hak asasi manusia untuk mencari nafkah. Semua punya hak mencari nafkah, tapi jangan ganggu hak orang lain. Tri Rismaharini (wali kota Surabaya), Jokowi (gubernur DKI Jakarta), dan Ridwan Kamil (wali kota Bandung) bisa jadi contoh untuk penataan PKL.

Cegah dari awal. Jangan biarkan PKL sudah banyak baru ditertibkan. Daerah yang terlarang, memang harus disterilkan dari PKL. 

Jangan biarkan sudah jadi banyak dan PKL sudah menetap (sudah punya bangunan permanen). Awal-awal memang satu atau dua orang, barang dagangan akan dibawa kembali jika selesai berdagang. Lama-lama akan dibuat bangunan semipermanen dan akhirnya permanen. Ketika diminta pindah, PKL yang selama ini menggunakan lahan pemilik toko/ pabrik atau bahkan lahan milik pemerintah, sudah tak pernah membayar sewa tempat selama memakai lahan orang lain tanpa izin, malah balik minta pemilik lahan membayar ganti rugi kepada mereka (tidak perlu tertawa membaca tulisan ini, memang lucu tapi inilah fakta yang terjadi).


PARKIR LIAR
Semua lahan (trotoar di depan toko, pabrik, kantor, jalan umum) jadi milik para preman. Semua dengan sesuka hati menjadikannya sebagai lahan parkir dan meminta uang untuk itu. Bukankah ini wewenang pemerintah? Parkir sembarangan menimbulkan kemacetan, perebutan lahan parkir strategis sering menimbulkan pertumpahan darah. Tidakkah pemerintah mengetahui hal ini?


TKI Tertipu PJTKI Ilegal
Sering TKI jadi korban (tidak digaji, dideportasi, dan lain-lain). Pemerintah susah menyelesaikan berbagai kasus yang timbul. mari umumkan semua PJTKI yang resmi dan berizin (umumkan di situs depnaker, lengkap dengan alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi, baik PJTKI atau pihak depnaker yang bisa dimintai konfirmasi). 

Semua bahu-membahu mencegah TKI berangkat tanpa bekal keahlian yang memadai dan berangkat lewat PJTKI ilegal. Kalau memang bisa dimudahkan, jangan persulit sehingga masih banyak TKI memilih jalur ilegal.

TKI yang berangkat itu pahlawan devisa, mereka juga mengurangi beban di Indonesia yang masih kesulitan menyediakan lapangan kerja. So... mengapa mereka harus dipersulit?


VCD & DVD (BAJAKAN & PORNO)
VCD dan DVD bajakan jelas melanggar undang-undang (merugikan para pekerja seni yang salah satu penghasilannya adalah menjual VCD dan DVD asli. Pemerintah juga dirugikan dari sisi penerimaan pajak. Kehadiran VCD dan DVD porno jelas menambah masalah yang ada (kriminal seperti meningkatnya pemerkosaan, seks bebas, dan lain-lain).

Mengapa penjualan tidak diberantas? Penjualan CVD dan DVD bajakan dilakukan secara terbuka (mustahil polisi tidak tahu). Kecuali VCD dan DVD porno, mungkin relatif tertutup. Tapi berpatokan pada jagonya polisi kita (densus 88 misalnya, yang bisa mengetahui dan menangkap teroris yang tertutup, mestinya intel dari kepolisian juga bisa tahu di mana VCD dan DVD bajakan atau porno diproduksi). Tidak perlu menunggu kasus besar yang diakibatkan peredaran VCD dan DVD porno baru ditindak.


Vila di Puncak
Bangunan yang tak memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan) akan dibongkar. Sudah banyak bangunan liar (di pinggir kali) yang dibongkar/ digusur. Selain melanggar karena tak memiliki IMB, juga menyebabkan banjir (penyempitan dan pendangkalan sungai).

Di sisi lain, vila juga sama. Banyak yang tak ada IMB dan dibangun di daerah resapan air yang akan menyebabkan banjir. Kok susah sekali menggusur vila tak ber-IMB ini??? Pasti ada yang tidak beres di sana. Ini sudah berlangsung lama, dan akhir-akhir ini (setelah ramai diberitakan) barulah dibongkar. Bangunan vila tersebut bukan baru semalam berdiri di sana. Sudah bertahun-tahun "bangunan liar" tersebut ada.

Jika tanpa IMB, kok bisa sekian lama berdiri dan tak ditertibkan? Mungkinkah aparat berwenang tidak tahu? Ketika sudah tahu tak memiliki IMB pun masih sulit untuk ditertibkan. Mengapa??? Klik: Ini Koleksi Vila Para Jenderal di Citamiang dan Dihadang Perwira Polri, Satpol PP Gagal Bongkar Vila Liar Di Puncak - Bogor

Banyak juga vila yang punya IMB, padahal kawasan tersebut tidak diperuntukan untuk penyerapan air hujan dan konservasi (baca: Fungsi Puncak Bukan untuk Vila, Tapi Resapan Air

Jika ada IMB, apakah pemberi izin tidak tahu jika di sana tak boleh didirikan bangunan? Jika tak ada IMB, mengapa bangunan tersebut boleh berdiri?  Mengapa tidak dicegah sejak awal (memang tak boleh mendirikan bangunan di sana)? Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? 


Paranormal, Dukun,... Profesi yang Halal? 
Jika Anda mengalami masalah dalam kehidupan, ke mana Anda curhat dan mencari solusi? Sebagai orang beragama, semestinya kita berusaha lebih giat, banyak berdoa, dan curhat ke pemuka agama. 

Menurut penulis, sebagai orang beragama (dan negara ini, meski bukan negara berdasarkan agama tertentu, tapi berdasarkan Pancasila), kita wajib memiliki agama. Curhat ke pemuka agama dan mencari solusi dari kitab suci, tentu langkah yang ideal.

Nah... adakah ajaran agama yang menganjurkan kita meminta ke jalur lain (bukan meminta lewat doa ke Tuhan, minta nasihat pemuka agama, dan cari solusi dari kitab suci)? Rasanya sih... tidak ada. Itu melenceng dari ajaran agama.

Jadi (menurut penulis), minta bantuan ke dukun, paranormal dan sejenisnya adalah jalan yang salah. Kalau Anda sepakat, artinya Anda sepakat profesi itu bukanlah profesi yang halal. 

Kalau benar demikian, mengapa profesi itu "diperbolehkan" dan bebas berpraktik di Indonesia? Anda lihat "koran kuning" atau cari saja dengan bantuan Google. Anda akan melihat banyak sekali iklan jasa paranormal. Mereka pasang iklan bahwa mereka ahli masalah jodoh, urusan rumah tangga, naik pangkat, pengasihan, dan lain-lain. 

Jika ada masalah mencuat ke publik (ada korban dukun yang melapor, ada korban paranormal yang tertipu,...), ramai-ramai publik akan mem-bully korban.

Sakit kok ke klenik bukan ke klinik? Cari jodoh kok minta bantuan dukun, itu musyrik. Mau terpilih jadi caleg bukannya sosialisasi program kok malah minta bantuan paranormal? Supaya suami betah di rumah, kok minta bantuan dari dukun. Supaya disayang atasan bukan kerja yang benar dan menjaga sikap tapi minta susuk pengasihan, dan lain-lain.

Benar 'kan? Jika memang begitu (dukun, paranormal,...) itu bertentangan dengan ajaran agama, kok profesi ini dan iklan mereka dibiarkan saja? Bukan hanya masyarakat dari golongan bawah (yang kurang berpendidikan) yang percaya kepada mereka, public figure (artis, pejabat,...) pun banyak yang menggunakan jasa mereka.

Anda tentu pernah dan sering melihat sosok paranormal terkenal di TV dan punya rumah mewah bernilai miliaran rupiah. Dari mana ia dapat uang banyak? Tentu dari jasa paranormal 'kan? Itu artinya banyak pasien yang menggunakan jasa mereka. Aneh 'kan? Tapi inilah faktanya
   



Baca juga (klik saja):

  1. Banyak yang MAmpU, Hanya MAU atau Tidak MAU
  2. Lebih Baik Mengobati
  3. Mempermainkan Logika Berpikir    

Apa Hukuman yang Pantas untuk Pedofil???

Kasus pelecehan seksual di JIS (pedofil atau pedofilia, secara umum diartikan penderita kelainan seksual yang menyukai anak kecil), menjadi pemberitaan nasional. Semua mengutuk perbuatan biadab para pelakunya. Banyak yang meminta pelaku dihukum seberat-beratnya (ada yang usul dikebiri, dipotong habis alat kelaminnya, diberi tanda di kepala pelaku agar mudah diidentifikasi, sampai dihukum mati). Klik saja, Aktivis: Hukuman Mati uhntuk Pedofilia. Selain menyebabkan trauma berkepanjangan, bahkan bisa meyebabkan korban kelak jadi pelaku, juga menyebabkan korban terkena penyakit herpes.

Penulis berpikir, memang seharusnya tersangka kasus ini (pedofil) harus diberi hukuman lebih berat daripada kasus kejahatan seksual lainnya. Bandingkan saja dengan kasus pemerkosaan pada umumnya (ini sebagai pembanding saja, bukan berarti penulis berpihak pada pemerkosa dan menyatakan pemerkosa lebih baik daripada pedofilia). Semua kejahatan harus dihukum, hanya menurut penulis, kasus pedofilia harus lebih berat karena lebih spesifik.

Pedofil mengincar anak-anak. Korban (anak-anak) lebih mudah diperdaya (diancam) agar tak melapor. Anak kecil lebih mudah dilumpuhkan (memang kalah tenaga dan gampang juga dibujuk dengan mainan, makanan, uang). Trauma-nya relatif lebih susah disembuhkan, butuh bimbingan psikologis belasan tahun. Korban pedofil berpeluang jadi pelaku pedofil juga (seperti cerita di film drakula, korban yang digigit drakula akan jadi drakula juga). Sedangkan korban pemerkosaan (umumnya wanita), di masa depannya tidak jadi pemerkosa. Jadi penyendiri, depresi, bisa bunuh diri, dan lain-lain (kejahatan tetap kejahatan dan haarus dihukum).

Satu lagi, pedofil yang tak tertangkap atau yang sudah lepas dari masa hukuman, berpotensi melakukan lagi (karena penyakit kejiwaan ini susah disembuhkan). 

Kalau yang "hobi ML" karena nafsunya tinggi atau hiperseks (korbannya adalah wanita dewasa, bukan anak-anak seperti kasus pedofilia). Jika mereka ingin melakukan lagi, ada "beberapa pilihan". Bila punya uang, mungkin ia bisa jajan ke lokalisasi atau di mana saja yang menyediakan jasa prostitusi. Keduanya suka sama suka.

Jika tidak punya uang, mungkin akan mencari korban (dipacari terlebih dahulu atau langsung melakukan bila situasi dan kondisi memungkinkan). Korban masih berpeluang lolos karena mungkin bisa berteriak, melawan, dan lain-lain.

Kasus pedofilia? Korbannya pasti anak kecil. Meskipun ia punya uang, secara umum kita tahu, tidak ada anak kecil yang menjajakan seks. Jadi, meski ia kaya, ia tidak bisa mencari anak yang suka sama suka dengan cara transaksi jual beli. Korbannya selalu dipaksa. Korbannya selalu anak-anak yang lemah dan belum mampu melawan dan berpikir lebih jauh agar tak terpedaya. Jadi korbannya adalah anak baik-baik (bukan sukarela melayani karena dibayar).

Satu lagi, jika memungkinkan, seharusnya pedofil dicegah masuk ke wilayah Indonesia. Tukar menukar info dengan pihak luar negeri (foto dan nama pelaku pedofil dan cekal agar mereka tidak masuk ke Indonesia). Yang sudah terjadi, William James Vahey pernah bekerja 10 tahun di JIS, 1992-2002). Silakan klik: Pedofil Buronan FBI Pernah Mengajar di JIS 

Apa pun profesinya (meski profesi itu langka dan jarang ada), sebaiknya tidak usah izinkan pekerja yang pedofil itu masuk ke Indonesia. Negara kita sendiri pun sudah ada pedofil (kasus Baekuni alias Babe, Robot Gedek, dan juga yang lain), mengapa harus "impor" pedofil lagi?

Semoga pemerintah secara maksimal bisa mencegah rakyatnya (anak kecil yang tak berdaya) dari incaran pedofil.

Kemiripan Kosa Kata Sunda & Tionghoa

Dalam bahasa Mandarin (Tionghoa) sebutan untuk kakak perempuan adalah 姐姐 (baca: Cié Cié). Dalam bahasa sehari-hari penulis terbiasa mengucapkan kata Cécé untuk menyebut kakak perempuan.

Saat berada di Bandung yang bahasa sehari-harinya menggunakan bahasa Sunda, penulis mendengar sebutan Tétéh untuk kakak perempuan. Ternyata sebutan untuk kakak perempuan dari bahasa Tionghoa dan Sunda mirip: Cécé <=> Tétéh.

Ternyata bukan hanya satu kata itu. Saat kecil, dalam keseharian, penulis dan orangtua berkomunikasi dengan  bahasa Kanton (penulis mengerti Mandarin hanya dari percakapan yang penulis dengar). Saat meminta kami diam atau tenang, penulis mendengar Papa atau Mama mengucapkan kata: Cing atau Cing Cing (yang dimaksudkan tenang atau diam). Tulisannya: 静 (Cing).

Dalam bahasa Sunda, menyuruh orang lain diam, mereka menyebut Cicing. Ternyata kata diam dari bahasa Tionghoa dan Sunda juga mirip: Cing Cing <=> Cicing.

Mungkinkah 2 kosa kata bahasa Sunda ini berasal dari bahasa Mandarin?


Catatan:
  1. 姐姐 di kamus cara bacanya ditulis: Jie Jie tapi di telinga penulis, huruf awalnya lebih mirip C (Cie Cie).
  2. di kamus cara bacanya ditulis: Jing tapi di telinga penulis, huruf awalnya lebih mirip C (Cing Cing).

Orang Bijak Taat Pajak, Orang Pajak...???

Berita selengkapnya, silakan klik tulisan warna biru di bawah foto.

Untuk memperbesar tampilan, silakan klik pada gambar









Daftar Public Figure yang Gagal Jadi Anggota Dewan 2014-2019

Ini baru prediksi (karena belum ada hasil resmi). Nama disusun berdasarkan urutan abjad.


  1. Angel Lelga, PPP (artis)
  2. Arzeti Bilbina, PKB (artis)
  3. Camel Petir, PKPI (penyanyi dangdut) 
  4. Derry Drajat, Partai Gerindra (artis) 
  5. Destiara Talita, PKPI (model majalah dewasa)
  6. Didik J. Rachbini, PAN (Ketua DPP PAN)
  7. Dossy Iskandar, Hanura (Sekjen Hanura)
  8. Dwiki Dharmawan, PAN (musisi) 
  9. Effendy Choirie, Nasdem (sebelumnya PKB) 
  10. Hengky Kurniawan, PAN (artis)
  11. Ida Royani, PAN (artis)
  12. Ikang Fawzi, PAN (rocker) 
  13. Inggrid Kansil, Partai Demokrat (artis, istri Menkop UKM, Syarief Hasan) 
  14. Ismarindayani SH MH CN, DPD dari DIY (istri Roy Suryo)
  15. Jane Shalimar, Partai Nasdem (artis)
  16. Jenny Rachman, PArtai Demokrat (artis) 
  17. Jeremy Thomas, PAN (artis)
  18. Lily Wahid, Hanura (sebelumnya PKB) 
  19. Lucky Hakim, PAN (artis)
  20. Lukman Hakim Syaifuddin, PPP (Wakil Ketua MPR) 
  21. Marissa Haque, PAN (artis) 
  22. Marzuki Alie, Partai Demokrat (Ketua DPR RI 2009-2014)
  23. MS Kaban, PBB (Ketua Umum PBB)
  24. Novi Riyanti Yusuf , Partai Demokrat (penulis)
  25. Nurul Arifin, Partai Golkar (artis)
  26. Ramadhan Pohan, Partai Demokrat (Anggota Komisi 1 DPR RI 2009-2014)
  27. Ressa Herlambang, PKB (penyanyi)
  28. Ridho Rhoma, PKB (anak Rhoma Irama) 
  29. Roro Fitria, Golkar (penyanyi dangdut, sebelumnya Hanura) 
  30. Roy Suryo, Partai Demokrat (Menpora)
  31. Sandy Nayoan, PKB (artis)
  32. Suswono, PKS (Menteri Pertanian) 
  33. Sutan Bhatoegana, Partai Demokrat (Ketua DPP Partai Demokrat)
  34. Taufik Basari, Nasdem (Ketua DPP Partai Nasdem bidang Hukum dan HAM)
  35. Taufik Kurniawan, PAN (Wakil Ketua DPR, Sekjen PAN)
  36. Vena Melinda,  Partai Demokrat (artis) incumbent
  37. Vicky Ridho, PKB (anak Rhoma Irama)
  38. Yusuf Supendi, Hanura (sebelumnya PKS)






Sumber: Kaskus, Kompas, Lensa Indonesia, Merdeka, Merdeka, NonStop Online, Si Momot, Tribun,   


Baca juga: Mudah Lupa, Politik Uang Atau Memang yang Terbaik?
 

Mudah Lupa, Politik Uang, Atau Memang yang Terbaik?

Selesai pemilu 2014, daftar nama caleg yang lolos ke Senayan mulai bermunculan (meski hasilnya belum resmi karena hasil final dari KPU belum diumumkan). Cukup banyak nama yang menyita perhatian publik (ada yang sudah sangat popular tapi gagal, ada yang tak popular tapi bisa menang, ada yang bercitra negatif tapi tetap bisa menang).

Nah... yang penulis catat di sini yang terakhir (citra-nya kurang baik, setidaknya begitulah yang tersiar di media) tapi mereka terpilih. Entah karena masyarakat mudah lupa, karena politik uang, atau memang mereka-lah yang terbaik sehingga pantas terpilih? Entahlah...


Mereka adalah (disusun alfabetis):

  1. Aceng Fikri, DPD Provinsi Jabar (mantan Bupati Garut yang nikah siri dengan anak di bawah umur selama 3 hari)
  2. Andiara Aprilia Hikmat, DPD Provinsi Banten (anak kedua Ratu Atut Chosiyah)
  3. Andika Hazrumi, Partai Golkar (anak sulung Ratu Atut Chosiyah) 
  4. Charles Honoris (anak buronan BLBI Samadikun Hartono)
  5. Karolin Margret Natasha, PDIP (heboh dengan kasus video porno-nya)
  6.  


Sumber: Merdeka, NonStop Online,  


Baca juga: Daftar Public Figure yang Gagal Jadi Anggota Dewan



Dodit Mulyanto vs Raditya Dika

Waktu menilai penampilan Komika Dodit Mulyanto yang mahir bermain biola, Radit "nyentil" Dodit di SUCI 4 Show 7. Ternyata Dodit yang penampilannya lugu, dengan cerdas-nya langsung membalas di SUCI 4 Show 8. Luar biasa... Hahaha

Di stand up comedy "serang-menyerang" dengan humor mengingatkan penulis pada dunia politik yang menyerang lawan politik dengan puisi.

Langsung saja kita dengarkan stand up comedy Dodit Mulyanto (bonus Aksi Stand Up Comedy Jokowi).
    







Kalau mau lihat Radit dan Dodit "berbalas pantun" silakan lihat video di bawah ini (hasil edit video SUCI 4 Show 7 saat Radit menilai Dodit dan SUCI 4 Show 8 saat Dodit "membalas" perkataan Radit). 

Komika dengan sapaan khas selamat malam-nya dan ciri khas perkenalan dirinya yang "sombong" dengan mengatakan: "Walaupun saya Jawa tapi keluarga saya memegang erat budaya Eropa" termasuk favorit penulis.




Radit "under estimate" terhadap Komika Dodit Mulyanto dengan "mem-bully" sampai mengatakan ingat temannya waktu Pramuka dulu {anak dari desa, ngomongnya sopan, baik, lucu, dia jatuh, kepalanya kena batu jadi tiiit ("bego") kayak lu"}

Hahaha... Siapa sangka Dodit Mulyanto yang "lugu" bisa membalas dengan telak omongan Radit, sampai Fenny Rose dan Indro tertawa ngakak dan penonton standing ovation.

"Don't judge the book by its cover" kata pepatah.




Hadi Poernomo Jadi Tersangka di Hari Ulang Tahun

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Nama Hadi tercantum dalam surat perintah penyidikan yang ditandatangani KPK pada 21 April 2014. Tanggal penandatanganan surat tersebut bersamaan dengan hari ulang tahun Hadi.

Pria kelahiran Pamekasan, 21 April 1947 tersebut pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Tepat di usia 67 tahun, Hadi diberi 'kado spesial' berupa status tersangka oleh KPK.

"KPK temukan bukti-bukti akurat dan setelah melakukan gelar perkara, menetapkan saudara HP sebagai tersangka," kata Ketua KPK Abraham Samad di kantornya, Senin, 21 April 2014. "Surat penyidikan ditandatangani pada 21 April 2014."

Hadi ditetapkan sebagai tersangka terkait dengan jabatannya sebagai Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan periode 2002-2004. Hadi diduga mengubah keputusan sehingga PT Bank Central Asia (BCA) tak jadi menyetor Rp 375 miliar uang pajak.

"KPK temukan bukti-bukti akurat dan setelah melakukan gelar perkara, menetapkan saudara HP sebagai tersangka," kata Ketua KPK Abraham Samad.

Hadi disangka dengan pasal 2 ayat 1 dan/atau pasal 3 Undang-Undang 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. "Perbuatan melawan hukum yang dilakukan saudara HP, yaitu penyalahgunaan wewenang dalam menerima seluruh permohonan keberatan BCA," kata Abraham.

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto mengatakan BCA keberatan dengan pajak atas transaksi non-performance load sebesar Rp 5,7 triliun. Keberatan BCA itu terjadi tahun 1999. "Tapi memang, dengan itu dugaan kerugian negaranya adalah Rp 375 miliar." MUHAMAD RIZKI

Sumber: Tempo

PNS Ini Punya Rekening Rp 1,3 T, Darimana Asalnya?

TEMPO.CO, Jakarta - Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan kembali mengumumkan rekening gendut yang berisi uang triliunan rupiah milik pegawai negeri sipi. Kali ini rekening mencurigakan ini adalah milik seorang pegawai negeri pemerintah daerah di luar Pulau Jawa yang jumlahnya mencapai Rp 1,3 triliun.

Ketua PPATK Muhammad Yusuf mengatakan rekening milik PNS itu diduga terkait dengan bisnis penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) dan people smuggling atau penyelundupan imigran gelap di daerah perbatasan.

"Kami menemukan ada PNS yang uang di rekeningnya sangat-sangat tidak lazim, unsual, dan berindikasi mencurigakan. Karena uang disetor secara cash," kata Muhammad Yusuf di ruang kerjanya, pekan lalu. (Baca: Kemendagri Tak Awasi Rekening Gendut PNS

Menurut Yusuf, transaksi dalam jumlah besar biasa ditransfer. Karena itu, PPATK curiga uang tersebut terkait dengan penyuapan dan pemerasan. Apalagi, kata Yusuf, uang yang disetor ke bank dalam bentuk dolar Singapura. "Jenis mata uangnya itu adalah 1.000-an dolar Singapura. Itu tidak lazim," katanya. Asal-usul uang dolar tersebut belum diketahui. "Bisa Singapura atau Hongkong," katanya lagi.

Sebelumnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyampaikan total transaksi mencurigakan milik Ajun Inspektur Polisi Labora Sitorus, anggota Kepolisian Resor Raja Ampat, Papua Barat, yang mencapai Rp 1,5 triliun. Labora sudah divonis dua tahun penjara. FEBRIANA FIRDAUS


Sumber: Yahoo News

Logika Berpikir: Tersangka Lebih Terhormat daripada Capres???

Saat Jokowi (Gubernur DKI Jakarta) jadi capres, banyak yang menyuruh beliau mundur karena tidak akan fokus urus Jakarta (sibuk urus persiapan capres). Di sisi lain, Ratu Atut Chosiyah (Gubernur Banten) yang jadi tersangka kasus korupsi masih bertahan dan mempertahankan statusnya sebagai Gubernur Banten.

Bagaimana logika berpikir kita??? Apakah dari dalam penjara Atut yang berstatus tersangka 3 kasus korupsi bisa lebih fokus bekerja (semua asisten dan bawahannya harus ke lapas dulu untuk koordinasi dengan atasannya) daripada Jokowi yang bisa komunikasi dengan baik, baik komunikasi langsung maupun media komunikasi (telepon, SMS, Twitter, dan lain-lain) dan tidak berstatus sebagai tersangka?

Di lapas jelas tidak leluasa (jauh dari kantor gubernur, jam besuk terbatas, tidak boleh menggunakan HP, laptop/ internet (setidaknya secara teori).

Info lengkap berita tentang kedua hal tersebut (Atut dan Jokowi), silakan klik tulisan biru di bawah foto.


Untuk memperbesar tampilan, silakan klik pada gambar







Baca juga: 


  1. Ahok: Siapa Bilang Jokowi Tak Fokus Urus Jakarta?
  2. Alamat Baru Ruang Kerja Gubernur Banten
  3. Dinilai Langgar Etika Politik, Ini Jawaban Jokowi
  4. Gak Nyoblos Jokowi di Pilgub DKI Jakarta Tapi Gak Rela Jokowi Dicapreskan 
  5. Jokowi Atau Capres Anda yang Pengkhianat? Suatu Kajian Hukum di Indonesia
  6. Melantik Bupati dari Dalam Penjara? Malu!

Mengapa Teknologi Internet Tak Dimaksimalkan???

Yang ramai jadi pembicaraan sekarang ini adalah kasus pelecehan seksual seorang anak TK di Jakarta International School (JIS). Info lengkapnya, silakan klik: Bocah Korban Pelecehan: Stop, Please Don't Do That 



Dari info di media, ternyata sekolah ini tidak memiliki izin. Siapa yang bertanggung jawab mengontrol sekolah yang punya izin atau tidak dan tetap bisa beroperasi?

Peristiwa-peristiwa seperti ini (ada korban, baru ada tindakan) seringkali terjadi di banyak kasus.

Menurut penulis, sekarang teknologi informasi sudah demikian canggih, hampir setiap orang punya ponsel dan bisa akses ke dunia maya yang dapat memberikan informasi lengkap selama 24 jam nonstop dan mudah berinteraksi. Ada FB, Twitter, dan media sosial lainnya. Juga situs dan blog dengan aneka info yang mudah sekali menyebar dan mudah sekali berinteraksi.

Penulis memperhatikan salah satu aktivitas kerja walikota Bandung (Ridwan Kamil) di dunia maya via @ridwankamil yang dibantu @relawan_bdg yang sangat efektif dan efisien.  

Teknologi dimanfaatkan secara maksimal untuk memudahkan pekerjaan. Warga bisa berinteraksi langsung dan juga langsung bisa direspon oleh Kang Emil. 

Ada yang lapor jalan rusak, langsung di-mention ke dinas terkait, dalam waktu cepat sudah ada respon plus foto jalan rusak sedang diperbaiki. Begitu juga hal lain: ada yang buang sampah sembarangan, ada yang corat-coret fasilitas umum, ada kebakaran, ada banjir, ada gelandangan yang memprihatinkan, ada anak hilang, motor hilang, ada oknum yang minta biaya pengurusan dokumen di luar kewajaran, dan lain-lain. 

Penulis rasa, jika PNS yang "waras" akan berpikir puluhan kali jika ingin nakal (korupsi, misal dengan meminta biaya yang tak semestinya pada orang yang mengurus dokumen). Langsung dilaporkan ke Kang Emil dan langsung ditindaklanjuti. Korupsi bisa ditekan. Dan yang terpenting: Apa yang diucapkan, itu dilaksanakan. Yang dirugikan, silakan lapor dan ditindaklanjuti. Bukan lips service.

Saking enaknya (karena direspon cepat dan efektif), kadang ada yang iseng kirim tweet ke Kang Emil. Misalnya; Pak, kalau mau cari batagor yang enak, di mana ya? Atau ada yang sekedar menyapa dan minta ucapan ultah: Pak, saya hari ini ultah, minta ucapan dong. Dengan guyon-nya, Kang Emil pun merespon: Dong... (minta ucapan: Dong dan langsung direspon Kang Emil dengan ucapan: Dong). Hahaha... 

Balik ke kasus pelecehan seksual dan banyak kasus lain yang seringnya baru mendapat perhatian setelah ada korban.

Ada sekolah (TK) bertaraf internasional tapi tanpa izin operasi. Ada banyak vila berdiri tanpa IMB dan sudah lama berdiri tapi tidak ditertibkan. Ada banyak penjual obat dan kosmetik yang menjual obat tanpa izin edar dan membahayakan (biasa pakai nama berunsur China), ada calon TKI yang tertipu gagal berangkat dan uangnya dibawa kabur PJTKI yang ternyata tak ada izin operasional, ada lembaga keuangan yang mengumpulkan dana masyarakat lalu pelakunya menghilang dan ternyata lembaganya tidak punya izin, dan lain-lain. Atau ada pintu perlintasan kereta api tanpa palang dan tanpa penjaga.

Seharusnya ada media yang mengawal dan mengawasi hal semacam ini. Semua departemen menampilkan mana lembaga yang punya izin dan tidak (misal situs resmi depnaker memuat daftar PJTKI yang punya izin dan alamat lengkap serta nomor kontaknya di situs resminya, depkes memuat semua apotek dan toko obat yang punya izin, dan lain-lain). Masyarakat mudah mengakses info dari situs lembaga resmi yang bersangkutan. Media sosial resmi juga aktif memberi info dan merespon setiap pertanyaan.

Masyarakat dengan mudah bertanya, misal: Pak saya ingin menyekolahkan anak saya di sekolah A. Apakah statusnya terdaftar dan ada izin resmi dari depdikbud? Atau jika ada anggota masyarakat yang merasa curiga, bisa melaporkan.

Dengan info terpadu dan media sosial yang cepat merespon, peluang para penipu dan pelaku kriminal bisa dipersempit. Mungkin saja, instansi yang bersangkutan sulit memantau sekian banyak lembaga dari Sabang sampai Merauke, mana yang punya izin atau tidak. Dengan memajang info tersebut di situs resmi, masyarakat dapat informasi tersebut dengan mudah. Media sosial sangat efektif untuk media komunikasi agar semua pertanyaan, saran, info, laporan,... mudah ditindaklajuti.

Intinya, maksimalkan teknologi informasi untuk mencegah tindakan kejahatan. Selama ini  swasta yang cukup berperan untuk hal ini adalah radio Elshinta dan  MetroTV lewat WideShot. Bagaimana pendapat Anda?
abcs