Blusukan = Tidak Percaya Bawahan & Habiskan Anggaran???

Blusukan Jokowi sering dapat sorotan negatif dari berbagai pihak (salah satunya baca: Fitra Serang Jokowi, Rakyat Makin Cerdas). 

Banyak PNS yang kinerjanya sudah terbiasa dan terlena dengan pola lama (masuk kerja telat, datang ke kantor absen lalu menghilang, libur lebaran diperpanjang sekehendak sendiri, dan lain-lain)  tanpa tindakan berarti, memang butuh gaya blusukan ala Jokowi ini. 

Meskipun sudah tahu gaya Jokowi yang suka blusukan dan juga sidak (inspeksi mendadak), toh masih saja ada PNS yang datang terlambat ke kantor, pelayanan di kantor belum dimulai, tidak menjalankan tugasnya.

Tiap orang punya gaya berbeda. Jokowi dengan gaya blusukan dan terlihat santai, Ahok yang bergaya keras dengan kata-kata pedas. Yang terpenting, hasil kerjanya bagus, pro rakyat, bersih dari korupsi, bekerja untuk kesehateraan rakyat yang dipimpinnya. 

Ada yang suka duduk manis di sofa empuk dan ruangan kantor ber-AC sambil menunggu laporan dari bawahan yang banyak ABS (Asal Bapak Senang). Semua beres, semua berjalan lancar padahal di lapangan belum tentu demikian. Gaya Jokowi memang beda. Efektif dan efisien-kah blusukan Jokowi?
 

Berikut beberapa tautan berita tentang hal tersebut:


  1. Hasil Blusukan Jokowi, Lurah-lurah Berbenah
  2. Jokowi Sidak, Camat Tak Ada
  3. Jokowi Sidak, Kelurahan Kosong Melompong 
  4. Tinjau Pasar Minggu, Jokowi Kesal PKL Berjualan Lagi Meski Ada Satpol PP

Kreatif Dalam Menulis Lirik Lagu

Ada-ada saja pemikiran kreatif yang muncul di dunia musik. Ada yang kreatif memadukan aneka jenis musik sehingga muncul aliran musik baru, menghadirkan alat musik yang tak biasa, menulis lirik yang tidak biasa, dan lain-lain.

Salah satu yang penulis ingat adalah kreatif-nya seorang A. Rijanto dalam menulis lirik lagu. Hal ini penulis dengar dari sebuah tayangan TV yang menayangkan lagu-lagu lama (nostalgia). Di sana penulis mendapat info tentang sebuah lagu karya A. Rijanto yang berjudul "Teringat Selalu" yang dipopulerkan oleh Tetty Kadi (sepupunya). 

Jika diperhatikan, huruf awal lirik lagu ini membentuk nama asli Tetty Kadi yakni T. KRISTANTI.

Wow... keren! Di bawah ini penulis sajikan lirik lagu Teringat Selalu. Yang tidak tahu lagu ini dan ingin mendengarnya, silakan klik: Teringat Selalu



Teringat Selalu

Vocal: Tetty Kadi
Cipt: A. Rijanto




Teringat pada suatu waktu
Ku berjalan-jalan di muka rumahmu
Rasa berdebar dalam hatiku
Ingin lekat slalu


    Ref:
Sekilas nampaklah engkau di balik pintu
Tersenyum dikau menusuk hatiku

Apa daya sejak saat itu
Nurani terganggu di setiap waktu
Teringat slalu pada senyummu
Ingin ’ku bertemu 



Catatan: 
Saat googling, penulis menemukan 2 variasi lirik lagu ini pada baris ke-4: 


Ingin lekas slalu
Ingin lekas lalu


Menurut penulis artinya:

Ingin lekas slalu (rasanya selalu ingin cepat-cepat)
Ingin lekas lalu (perasaan berdebar itu ingin cepat-cepat berlalu)


Tapi pada lirik di atas, penulis mencantumkan "Ingin lekat slalu" (mungkin maksudnya ingin nempel terus dengan orang yang dicintai) setelah mendengar lagu ini berulang-ulang di  YouTube. Benarkah demikian?

Uniknya lagi, nama penyanyi lebih sering ditulis Tetty Kadi, sedangkan di sampul (piringan hitam atau kaset?) yang ada di video YouTube tersebut bertuliskan Tatty Kadi. 

Ada yang menulis pencipta lagu ini adalah Zaenal Arifin, tapi penelusuran penulis menemukan nama pencipta adalah A. Rijanto. (silakan klik 2 nama pencipta ini, akan membawa Anda ke blog yang mencantumkan nama tersebut sebagai pencipta lagu). 

Di sampul (piringan hitam atau kaset?) selain nama Tetty Kadi ada nama Zaenal Combo, yang menurut pengamat musik, Denny Sakrie Zaenal Combo adalah nama group musik yang dipimpinan oleh Zaenal Arifin.

Nilailah Seseorang dari Kerjanya, Bukan dari yang Lain

Sebelum pilkada DKI Jakarta, banyak yang meragukan sosok Basuki Tjahja Purnama yang akrab disapa Ahok. Berbagai pihak pun dengan percaya diri memilih menggunakan isu SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) untuk meraih suara publik daripada adu program kerja.  Untungnya masyarakat Indonesia sekarang sudah lumayan cerdas untuk ditipu dengan gaya lama. 

Yang dipilih adalah pemimpin yang bisa bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak korupsi, melayani rakyat, membela kepentingan rakyat, dekat dengan rakyat,... 

Sebelum terpilih, penulis membaca komentar di internet yang bernada negatif tentang sosok Ahok. Jika Ahok terpilih, pasti Ahok akan fokus ke ras (Tionghua) saja, banyak gereja akan dibangun dan sejenisnya.

Sekarang beliau sudah terpilih, rakyat bisa menilai sendiri. Apakah Ahok condong berpihak pada agama tertentu atau suku/ ras tertentu? Atau Ahok berpihak pada rakyat kecil dan konstitusi seperti halnya Jokowi? Konstitusi atau kostituen?

Penulis tidak akan meculiskan apa yang jadi pemikiran Ahok, silakan Anda tonton 3 video ini, barulah Anda menarik kesimpulan... 




(simak apa kata Ahok tentang menegakkan konstitusi dan urusan keluarganya)



Tri Rismaharini, Walikota Tanpa Tanda Jabatan



TRI RISMAHARINI, demikian nama walikota perempuan pertama di Kota Surabaya. Masa jabatan ini pertama kali dijabatnya untuk masa bakti 2010-2015 terhitung sejak 28 September 2010.

Risma – begitu mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya ini akrab disapa – berpasangan dengan mantan Walikota Surabaya sebelumnya, Bambang Dwi Hartono yang kini menduduki posisi wakil walikota Surabaya.

Kendati wakilnya adalah mantan atasannya, Risma tidak merasa canggung. Perempuan berjilbab ini tampil sangat percaya diri. Justru, yang terasa dan terlihat adalah Bambang DH yang serba salah dan ewuh pakewuh. Untungnya Bambang DH sebagai wakil, mampu menempatkan diri.

Ternyata, kebersamaan dan saling pengertian di antara dua petinggi Kota Surabaya ini, berhasil menaikkan nama besar Kota Pahlawan secara nasional, maupun mancanegara. Surabaya sudah menjadi “guru” bagi berbagai kota di Indonesia dan beberapa kota di luar negeri. Surabaya dijadikan sebagai kota untuk studi banding. Apalagi, keberhasilan Surabaya menjadi yang layak menjadi panutan sudah terbukti dengan banyaknya penghargaan yang diterima.

Selain prestasi di bidang kebersihan dan suasana nyaman, juga keberhasilan secara pribadi dan berkelompok warga kotanya. Penghargaan untuk kota yang diterima, di antaranya sebagai juara yang mampu mengalahkan kota-kota lain. Piala Adipura, salah satu kebanggaan kota untuk rakyatnya. Surabaya yang sudah menjadi langganan Adipura ini sejak pertama kali Pemerintah Pusat menganugerahkan penghargaan ini di tahun 1980-an. Termasuk peraih terbanyak dan tertinggi yang disebut Adipura Kencana.

Tri Rismaharini adalah salah satu pemain utama dalam perebutan predikat Kota Terbersih untuk tingkat nasional kategori Kota Metropolitan atau Kota Raya. Karena Risma adalah pemutus kebijakan di bidang kebersihan, saat dia menduduki jabatan Kepala DKP Kota Surabaya, kemudian berlanjut sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, sebelum berhasil meraih suara terbanyak untuk menduduki jabatan walikota Surabaya.

Tidak hanya Adipura Kencana yang diboyong Surabaya, tetapi juga lima piala Adiwiyata untuk sekolah yang cinta lingkungan. Bahkan satu sekolah meraih Adiwiyata Mandiri. Bukan hanya itu, piala Kalpataru juga diboyong ke Surabaya.

Memang, Surabaya sangat layak mendapat julukan “Kota Sejuta Taman”. Betapa tidak, sebab tak sejengkal tanah kosong pun di dalam kota Surabaya ini yang tersisa. Semua menjadi taman, sehingga kondisi ini menjadikan Surabaya sebagai kota dengan taman kota terbaik di Indonesia.

“Tahun depan, tantangan Surabaya lebih berat lagi. Sebab, Jakarta dan Palembang marah karena posisinya kita rebut. Kita harus bisa memertahankannya bersama-sama. Saya yakin, dengan dukungan DPRD Surabaya dan seluruh masyarakat, kita dapat meraih Adipura kembali,” ujar Risma kepada Radjawarta.

Risma mengungkapkan, yang menjadi penilaian tertinggi bagi Surabaya adalah kenyataan yang ada di jalan, penghijauan, sekolah dan perkantoran. Namun, nilai Surabaya sempat rendah di kondisi pasar dan saluran. Alhamdulillah, ujar perempuan perkasa kelahiran Kediri ini, pada detik-detik terakhir penilaian, dengan digelarnya Festival Pasar, mampu mengangkat nilai Kota Surabaya.

Untuk evaluasi ke depan, walikota mengajak seluruh elemen dan masyarakat yang ada untuk lebih menggiatkan fasilitas umum karena penilaian Adipura itu menyeluruh ke kondisi kota. Artinya, kegiatan menyangkut kebersihan dan keindahan kota ini tidak hanya fokus di pusat kota saja. Perhatian yang lebih besar ke fasilitas umum, toilet umum, terminal, stadion, sekolah, rumah sakit, dan saluran, serta pinggiran kota.

Tanpa Tanda Jabatan
Mungkin tidak banyak yang memperhatikan kebiasaan Tri Rismaharini sebagai seorang walikota atau pejabat negara. Saat dia bersama Bambang DH dilantik menjadi walikota-wakil walikota Surabaya oleh Gubernur Jawa Timur, H. Soekarwo, bukti nyata yang terlihat dipasang adalah “tanda jabatan”. Lambang negara berupa burung garuda itu yang disematkan di dada sebelah kanan itu adalah bukti yang memakainya mempunyai kewenangan memutuskan kebijakakan yang mengikat.

Kendati  “tanda jabatan” itu adalah simbul “kekuasaan” yang diamanahkan rakyat, bagi Risma itu tidak mutlak. Sejak menjabat sebagai walikota Surabaya, boleh dihitung dengan jari, tanda jabatan itu terpasang di dada kanan Risma. Selain saat dilantik, ada beberapa kali dalam acara tertentu.

Yang sangat lucu, adalah ketika Risma memasuki istana negara di Jakarta. Saat itu, semua pejabat negara dan daerah yang datang ke sana tidak ada yang tidak mengenakan tanda jabatan. Tetapi Risma, mengabaikan tanda jabatan itu. Dengan langkah mantap Risma menapaki tangga istana Presiden Republik Indonesia, tentunya melewati koridor khusus menuju tempat yang ditentukan.

Mengapa? Langkah Risma “tertahan” oleh “bentakan” suara Paspampres (Pasukan Pengaman Presiden). “Bu, Bu, jalan lewat sana Bu”, ujar pria tegap berbaju safari warna gelap itu.

 “Saya diundang ke sini Pak, tadi diarahkan lewat sini Pak”, jawab Risma. “Jalan ini khusus untuk gubernur, walikota, dan bupati yang menerima penghargaan”, jawab petugas itu.

Risma hanya diam. Isteri Ir. Djoko Saptoadji ini tidak menyadari, kalau petugas Paspampres itu berpatokan kepada “tanda jabatan”. Memang, saat itu Risma mengenakan busana batik dan jilbab warna coklat yang serasi dengan sandang yang dikenakannya.

Rupanya adegan singkat itu diketahui oleh seseorang yang mengenal Risma. “Ooo, itu walikota Surabaya,” bisik hatinya. Serta merta dia mendekati petugas yang mencegat langkah Risma dan mengatakan: “Oo, silakan Ibu, masuk lewat sini. Ini walikota Surabaya”, ujar pria itu kepada temannya.

Risma ternyata tidak menyadari mengapa dia dihadang tidak boleh masuk lewat koridor itu. Beberapa saat kemudian, Risma baru sadar, bahwa kebiasaannya tidak mengenakan “tanda jabatan” itulah yang sempat menghambat langkahnya.

Pernahkan Anda memperhatikan kebiasaan Ibu Tri Rismaharini itu? Nah, silakan diamati pada keseharian Risma yang menyandang jabatan walikota Surabaya ini.

“Jabatan ini amanah. Jabatan ini karunia dari Allah SWT,” ujar Risma. Nah, mungkin karena menyadari jabatan yang dipangkunya itu, dia tidak perlu menonjolkan lagi dengan “tanda jabatan” berupa logam mulia berwarna keemasan itu. Jabatan, bagi Risma bukan terletak pada “tanda jabatan”. Justru dari sikap kepemimpinan yang layak dijadikan panutan.

Maaf, ini saya buka “rahasia” yang mungkin tidak banyak orang tahu. Saya juga mendapat informasi ini dari bisik-bisik tetangga. Ternyata, Risma adalah penganut azas kesederhanaan dan apa adanya. Konon Risma menjadi pengagum mantan Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla, yang juga hampir tak pernah mengenakan “tanda jabatan” selama menjadi wakil presiden.

Bagaimana pribadi Tri Rismaharini itu sesungguhnya? Wanita yang memulai pendidikan dasar di Kediri ini, setelah lulus SDN di kota tahu itu  hijrah ke Surabaya. Risma  meneruskan pendidikannya ke SMPN X Surabaya dan ke SMAN V Surabaya. Sebagai warga kota Surabaya Risma menyelesaikan studi S-1 jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Kemudian di almamater yang sama Risma meraih S-2 Manajemen Pembangunan Kota. Sehingga dengan demikian walikota perempuan pertama di Surabaya ini lengkap ditulis Ir. Tri Rismaharini, MT.

Sebagai seorang perempuan yang mengikuti pendidikan di sekolah tukang, sebagamana biasa diucapkan Mandra dengan Rano Karno, yaitu “sekolah insinyur” dalam adegan “Si Doel Anak Sekolahan”, mungkin layak pula dikaji. Betapa tidak, khususnya “keras hati” seperti kaum pria umumnya.

Walaupun ada cap, “kerasnya hati Risma seperti lelaki”, Risma mengaku, dia  tetap sebagai ibu rumah tangga yang baik di lingkungan keluarganya. Dia tetap harus mengurusi suami dan dua anaknya. Tak ada sekat yang dimunculkan saat dirinya berada di kediaman aslinya di Perumahan Wiyung Indah, agar tetap bisa berinteraksi dengan para tetangganya.

Risma menyatakan, dia juga mengajarkan kepada anaknya untuk tetap berusaha dan menerima dalam segala hal.  Kepada anaknya diingatkan, jangan sombong karena ibunya seorang wali kota.  Menurut Risma, pengajaran ini pun diterapkan dan dihayati oleh anak-anaknya.


"Kita Tidak Bisa Memilih..."

Kita tidak bisa memilih terlahir sebagai suku apa, agama apa, orangtua yang mana,... Pernahkah Anda memikirkan hal ini??? Coba baca ini (klik saja):  Ridwan Saidi: Kita Tidak Bisa Memilih Terlahir Dari Suku Apa

Ya, kita tidak bisa memilih. Jika kita bisa memilih atau boleh memilih, pasti kita akan memilih terlahir di keadaan yang menguntungkan. 

Lahir dari keluarga kaya raya, wajah tampan/ cantik, otak pintar, terlahir sempurna (tidak cacat). Lahir di suku yang menjadi mayoritas pada negara tersebut, di keluarga yang beragama mayoritas dengan orangtua yang kuat mengenal agama tersebut. Jadi kecil kemungkinan kita mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.

Sayangnya kita tidak bisa memilih. Agama yang kita anut, mayoritas adalah agama turun temurun (sama dengan agama orangtua kita). Apa agama orangtua kita, itu yang diajarkan kepada kita. Memang ada yang setelah dewasa pindah agama, tapi jumlahnya sangat kecil daripada orang yang agamanya sama dari lahir hingga ia meninggal. 

Peluang pindah agama pun bisa jadi sangat kecil jika dalam agama disebutkan pindah agama itu sesuatu yang sangat tidak disukai.

Nah... menyadari satu kalimat ini "Kita tidak bisa memilih terlahir sebagai suku, agama apa, dari orangtua dan negara mana,..." seharusnya kita bisa lebih toleran menerima apa pun agama, suku, adat istiadat, bahasa, dan lain-lain yang tidak sama dengan kita. 

Jangan membenci dan memusuhi orang yang berbeda agama dengan kita, jangan membenci orang yang beda suku/ etnis dengan kita. Coba pikirkan "Bagaimana jika Anda yang berada di posisi mereka? Anda terlahir di suku/ etnis yang minoritas di negara tersebut, agama Anda pun termasuk agama minoritas,..." Penulis yakin, Anda tentu ingin diperlakukan secara adil dan mendapat perlakuan yang sama.

Semua agama mengajarkan kebaikan. Pemeluk agama apa pun merasa agama mereka-lah yang terbaik (setidaknya bagi dirinya sendiri). Kalau agamanya bukan yang terbaik, tentu ia sudah pindah ke agama lain.

Jadi, terlahir sebagi suku/ ras apa pun, agama apa pun, cantik/tampan atau jelek, "sempurna" atau cacat,... bukan pilihan yang bersangkutan. Adilkah jika ia mendapat perlakuan diskriminatif sedangkan semua itu bukan keinginannya?

Kita dinilai dari kerja (tindakan kita). Jika seseorang meraih prestasi, wajar dia diapresiasi. Jika ia berbuat jahat (mencuri, membunuh, korupsi,...), wajar ia mendapat hukuman. 

Nah... jika ia ditakdirkan lahir sebagai (maaf, hanya sebuah contoh) orang Afrika yang kulit gelap, pantaskah kita mencaci maki dan memperlakukannya secara diskriminasi??? Apa pun suku/ ras-nya, apa pun agama-nya, itu bukan pilihan, itu takdir-nya. Kita tidak boleh memperlakukannya secara diskriminatif. Kalau sesorang berbuat jahat (kriminal), wajar bila ia dihukum, apa pun suku/ rasnya, apa pun agamanya,...

Cara termudah ber-empati (menerima dan mengerti keadaan orang lain) adalah bertukar posisikan (memposisikan diri kita sebagai dia yang mendapat perlakukan tidak menyenangkan). 

Apakah saya bersalah lahir sebagai suku/ ras ini, apakah salah saya lahir sebagai pemeluk agama ini??? 

Cobalah berpikir jernih dan renungkan hal ini...

Apa Sih... Kehebatan Jokowi-Ahok???

Jika Anda membaca berita tentang sepak terjang Jokowi-Ahok di internet lalu Anda baca komentar tentang mereka, Anda akan sampai pada satu kesimpulan: pasangan ini luar biasa. Didukung dan dicintai begitu banyak orang (rakyatnya). Anda tidak percaya? Silakan cek sendiri. Siapa saja yang mengejek, mencaci maki, menjelekkan pasangan ini, mengkritik tanpa dasar yang jelas, Anda akan membaca sebagian besar komentar menghujat balik rival Jokowi-Ahok. 

Siapa saja yang pernah "berseteru" dengan Jokowi-Ahok? Yang pernah penulis baca dan lihat antara lain: Muhammad Rizki (presenter TV), Alaydrus (anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Demokrat), Haji Lulung (DPRD DKI Jakarta dari Partai Persatuan Pembangunan), Uchok Sky Khadafy (LSM Fitra), Farhat Abbas, dan Ruhut Sitompul (politisi Partai Demokrat). Silakan Anda googling berita satu persatu dengan kata kunci nama salah satu dari mereka dan Jokowi atau Ahok. Baca beritanya lalu lihatlah kolom komentar, pasti mereka semua di-bully habis-habisan.

Balik ke pertanyaan di judul posting ini: Apa Sih Kehebatan Jokowi-Ahok???

Menurut penulis, "tidak terlalu hebat." Apa yang mereka lakukan, sebagian besar adalah hal biasa saja. Hanya saja masalahnya mereka bagai beberapa ember air di padang pasir yang tandus. 

Apa yang mereka lakukan, sama dengan pelajaran yang pernah kita dapatkan di sekolah. Pemimpin itu harus jujur dan jadi teladan. Pemimpin itu tugasnya melayani rakyat, bukan minta dilayani. 

Selama ini, yang kita temukan di kenyataan tidak sama dengan teori yang kita pelajari di sekolah. Harus jujur, jadi teladan bagi rakyat, mau melayani, dekat dengan rakyat, dan lain-lain. Apa yang kita dapatkan dari pelajaran di sekolah hanya seperti dongeng pengantar tidur yang tidak pernah kita temukan di dunia nyata. Dan sangat wajar, ketika sekian lama kita mengalami hal tersebut, kini kita mendapatkan pemimpin ideal tersebut, kita SANGAT GEMBIRA & BERSYUKUR.



Sedikit catatan penulis tentang Jokowi-Ahok (harap dimaklumi, tidak sanggup mencatat semua kerja beliau yang baru sekitar 10 bulan bekerja):
  1. Jokowi-Ahok peduli dengan rakyat kecil, bukan pro orang kaya/ pengusaha.
  2. Mencari solusi terbaik untuk kemacetan, banjir, PKL. Tidak hanya menggusur, meski PKL adalah pihak yang salah (jualan di pinggir jalan dan meyebabkan kemacetan), mereka memindahkan ke tempat baru yang layak (malah bonus GRATIS biaya sewa 6 bulan), penghuni liar di tempat tak layak diberi tempat (rusun plus aneka perabotan: TV, lemari, kulkas, kompor gas, tempat tidur susun, lemari, perlengkapan salat, pakaian, dan perkakas dapur,...). Baca: Merdeka, Detik, Kompas, Kompas 2
  3. Bekerja cepat, bahkan sebelum APBD ketok palu. Dilantik 15 Oktober 2012, APBD disahkan 28 Januari 2013. Baca: Kompas. Baca juga (klik saja): Merdeka, Merdeka 2, Merdeka 3, Kompasiana, Kompasiana 2.

 
Banyak yang mengkritik kerja Jokowi-Ahok lambat, blusukan boros banyak uang tanpa hasil, dan lain-lain. Berikut sedikit catatan penulis tentang kritik tersebut:


  1. Jalanan di kawasan Pasar Tanah Abang macet karena PKL. Semua orang tahu hal itu (termasuk semua gubernur sebelumnya, anggota DPRD, dan lain-lain). Baru 10 bulan bekerja, lihatlah hasilnya. Apa hambatan pemimpin terdahulu? Msyarakat susah diatur? Dana kurang? Takut pada preman? Ada kepentingan di sana? Atau...?
  2. Penataan Waduk Pluit.
  3. Cukup 2 ini saja deh... Silakan googling atau cari di YouTube juga banyak faktanya...











Tambahan (klik saja):  

Bagaimana Pendapat Anda Tentang Pemikiran Ahok Ini???

Tanpa banyak komentar atau pengantar, langsung saja tonton video ini dan kemukakan pendapat Anda di kolom komentar. Terima kasih...



(Ketika Masih Menjadi Anggota DPR)

Fitra Serang Jokowi, Rakyat Makin Cerdas






Uchok Sky Khadafy dari Fitra (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) mengeluarkan pernyataan tentang uang operasional dan blusukan Jokowi. Untuk jelasnya apa saja yang dikatakan, bisa Anda lihat dan dengar dari video di atas ini (juga berita-berita lain di internet, klik saja: Fitra Serang Jokowi).



Sekarang saksikan video apa penjelasan Ahok tentang tuduhan Fitra (video di bawah ini). 








Sebenarnya memprihatinkan melihat pasangan Jokowi-Ahok yang bekerja dengan jujur (setidaknya sampai saat ini tidak ada tuduhan korupsi yang terbukti), kok begitu banyak yang menyerangnya. Padahal kalau mau bongkar kasus korupsi, di luar sana sangat banyak sekali kasus korupsi yang bisa diungkap.  

Tapi apa pun itu, jika pengungkapan keburukan Jokowi-Ahok tidak dilengkapi data yang valid dan hanya berdasarkan rasa tidak suka apalagi atas pesanan, rakyat bisa menilai. Jika Anda baca sebagian besar pemberitaan tentang Jokowi-Ahok di internet, pada kolom komentar, sebagian besar membela Jokowi-Ahok. Demikian pula pada komentar di video YouTube, dan yang Like video Jokowi-Ahok jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang Dislike

Mungkin yang tidak suka akan membantah fakta ini. Ah... itu bisa-bisanya pengguna internet saja atau hal lain. Silakan saja, sah-sah saja kok...

Satu hal yang menarik untuk disimak dari berbagai serangan ke Jokowi-Ahok, simpati rakyat makin besar kepada pasangan ini. Makin diserang, makin cemerlang. Makin diserang, rakyat makin cerdas karena lewat penuturan Ahok, banyak fakta terungkap.

  1. Mengapa hanya Jokowi-Ahok yang diserang?
  2. Rakyat jadi tahu bahwa tidak banyak (atau tidak ada?) pemimpin provinsi lain yang berani setransparan mereka soal keuangan. Menampilkan laporan penggunaan anggaran di situs resmi mereka. Ayo mampir ke (klik saja): Pemprov DKI
  3. Mengunggah video-video kerja mereka ke YouTube (provinsi lain boleh meniru hal baik ini) agar rakyat makin percaya dengan kerja dan kejujuran pemimpinnya. Kalau perlu, video rekaman CCTV sidang anggota dewan juga diunggah ke YouTube (untuk melihat mana yang serius, mana yang hanya main ponsel, baca koran, tidur, ngobrol, bahkan pernah ada yang tertangkap kamera membuka situs porno).
  4. Rakyat jadi tahu ternyata banyak pejabat (gubernur, menteri, utusan khusus presiden,...) juga punya dana operasional namun laporan penggunaannya tidak dipublikasikan.
  5. Pejabat BUMN bisa dapat bonus yang sangat besar (ini bukan fakta negatif). Sama seperti kata Ahok, "Kalau mau punya dana operasional sangat besar, jadi gubernur dong..." Begitu juga soal dana operasional, ingin dana operasional makin besar agar semakin banyak rakyat yang bisa dibantu dan sejahtera, peluang mewujudkan Jakarta Baru lebih baik, kerja dong (tingkatkan PAD = Pendapatan Asli Daerah) sehingga angka yang dikalikan dengan 0,15 lebih besar sehingga dana operasional jadi lebih besar. Tapi harus diingat, dana itu bukan untuk masuk kantong sendiri.
  6. Rakyat tahu, tidak banyak (atau tidak ada?) pejabat yang berani menantang untuk diperiksa dinas pajak dan KPK tentang penghasilan dan harta kekayaan mereka.
  7. Rakyat juga makin jelas, mengapa Fitra justru menyerang Jokowi-Ahok dan bukan menyerang yang lain? Ada apa semua ini???

Ahok sudah membantah dengan penjelasan terperinci, sekarang kita tinggal menunggu gebrakan Fitra dalam menjawab tantangan Ahok: Beranikah Fitra mengungkap ke mana saja penggunaan dana operasional pada gubernur lain atau menteri dan mempublikasikannya???

Segala Sesuatu Tentang Jokowi-Ahok

Kemunculan pasangan Jokowi-Ahok menjadi pemimpin DKI Jakarta menumbuhkan banyak harapan bagi rakyat Indonesia. Begitu juga bagi penulis. Sebelumnya kita (kalau boleh penulis mewakili suara-suara di dunia maya yang tertuang dalam aneka komentar) sudah pesimis terhadap pemimpin yang ada. Kerja sedikit, korupsinya yang banyak. Hanya peduli rakyat saat menjelang pemilu (ke pasar, ke kampung kumuh, dan lain-lain), tapi begitu terpilih, pemimpin tersebut susah untuk ditemui. Sudah berulang kali hal seperti ini terjadi dan masyarakat kita mudah melupakannya begitu saja.

Baru kali ini penulis merasakan pemimpin yang benar-benar peduli rakyat, tegas, berani melawan apa pun dengan risiko mempertaruhkan nyawa-nya dalam membela yang benar dan menegakkan hukum. Padahal, jika mereka mau meneruskan tradisi yang sudah-sudah, sangat cepat untuk dapat mengumpulkan uang untuk kantong pribadi mereka.

Penulis bukanlah warga DKI Jakarta, tapi mendengar dan melihat sepak terjangnya, penulis turut bahagia, ternyata di negeri tercinta ini, masih ada orang seperti mereka. Penulis yakin, mereka juga manusia biasa, pasti ada kekuarangan di sana sini. Tapi dengan melihat kiprah mereka selama ini, rasanya itu sudah lebih dari cukup dari apa yang pernah penulis bayangkan tentang seorang pemimpin.

Rakyat Indonesia menaruh harapan besar pada kerja mereka, tapi harus diingat pula, mereka tetap manusia biasa. Di sisi lain, tentu banyak sekali pihak-pihak yang tidak suka dengan keberadaan mereka karena peluang mereka melakukan korupsi jadi berkurang atau bahkan hilang. Segala cara dilakukan untuk mendiskreditkan Jokowi-Ahok. Mencari-cari hal-hal kecil yang tak penting untuk diekspos, mengadu domba rakyat dengan pemimpinnya bahkan menggunakan media massa dengan cara membuat berita yang tak berimbang.

Penulis berharap, warga Jakarta bisa membantu dan menjaga mereka (karena musuh mereka pasti sangat banyak dan bukan orang biasa: mulai dari preman, sampai "pengusaha" dan "penguasa" yang terbiasa hidup nyaman di atas penderitaan rakyat). Mereka aset bangsa Indonesia. Penulis hanya bisa berdoa, semoga mereka selalu sehat, diberi umur panjang, dan tetap berpihak pada rakyat.

Posting dengan label Jokowi-Ahok hanya sedikit ungkapan pikiran penulis plus copy paste artikel dari berbagai sumber. Tulisan ini adalah salah satu bentuk kekaguman penulis pada mereka, Jokowi-Ahok. Posting ini hanya sampai di sini dan posting dengan label Jokowi-Ahok hanya 1 ini saja), selebihnya berisi links ke berbagai tulisan yang ada di blog ini dalam berbagai label. Selamat membaca, semoga bermanfaat.


Links ini disusun berdasarkan urutan abjad judul tulisan:

  1. 100 Hari Jokowi di Mata Seorang Reporter Stasiun TV Berita
  2. Akan Memperjuangkan Nasib Rakyat???
  3. Apa Sih... Kehebatan Jokowi-Ahok???
  4. Bagaimana Pendapat Anda Tentang Pemikiran Ahok Ini???
  5. Banjir, Jokowi Pilih Mangkir dari Forum Davos
  6. Banyak yang MAmpU, Hanya MAU atau Tidak MAU 
  7. Belajar Memetik Pelajaran dari Setiap Peristiwa 
  8. Bicara dan Berpikirlah Dengan Jernih 
  9. Bisa Lebih Murah, Mengapa Harus Beli Lebih Mahal???
  10. Blusukan = Tidak Percaya Bawahan & Habiskan Anggaran??? 
  11. Caleg Demokrat Kampanye Ajak Warga bilang 'Jokowi Jelek' 
  12. Catatan Kecil dari "Sedikit" Kerja Jokowi
  13. Channel TV Favorit
  14. Fitra Serang Jokowi, Rakyat Makin Cerdas
  15. Jakarta Banjir, Ahok ke Mana???
  16. Jangan Sungkan SMS Ahok
  17. Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, dan Risma
  18. Jokowi Masuk 50 Besar Pemimpin Top Dunia 
  19. Kaget Pelayanan Kelurahan DKI Sudah Berubah
  20. Keren!!! Dua Kota dengan Empat Arsitek Terbaiknya
  21. "Kita Tidak Bisa Memilih..."
  22. Lagu Mana yang Akan Jadi Hits???
  23. Logika Berpikir: Tersangka Lebih Terhormat daripada Capres???
  24. Mana Media yang Netral???
  25. Masalah BBM + Kemacetan = Solusinya Mobil Murah???
  26. Negeri Ini Butuh Teladan... 
  27. Nilailah Seseorang dari Kerjanya, Bukan dari yang Lain
  28. Pejabat AntiKorupsi Harus Siap Mati
  29. Pemimpin Jakarta Sukses = Fasih Bahasa Betawi??? 
  30. Presiden yang Menyumbangkan 90% Gajinya
  31. Reporter TV One Melakukan Hattrick 
  32. Sangat Sulitkah Memberantas KORUPSI??? 
  33. Seandainya Saya Jokowi-Ahok
  34. Sosok Inspiratif: Gubernur DKI Jakarta, Pak Jokowi
  35. Sosok Inspiratif: Wagub DKI Jakarta, Ko Ahok
  36. Surat Ahok untuk Generasi Muda
  37. Teladan Itu Bernama Joko Widodo
  38. Tuan Makan Senjata (Mulut-mu, Harimau-mu)




 Link akan terus ditambah seiring bertambahnya tulisan di blog ini. 

Istri yang Lebih Banyak di Rumah

Wanita suka ngerumpi, begitulah pandangan umum masyarakat kita. Penulis memang sering mendapati sekelompok ibu yang ngumpul di warung ketika membeli pulsa. Belanjanya sedikit, ngobrolnya yang banyak (baca: lama).

Penulis lebih suka istri yang di rumah saja, mengurus anak dan suami daripada ngumpul dan ngerumpi. Dan beruntung penulis mendapatkan istri yang sesuai kriteria tersebut.

Banyak aktivitas yang lebih bermanfaat yang dapat dikerjakan di rumah daripada sekedar ngumpul dan ngerumpi. Memasak, mencoba resep kue baru dari tabloid, membaca atau hal lain jauh lebih bermanfaat. Kalau ngerumpi, selain melakukan perbuatan yang tidak baik, juga bisa mendatangkan akibat yang tidak baik.

Bisa saja apa yang dibicarakan sampai ke yang dibicarakan, akhirnya terjadi perselisihan. Suami harus turun tangan dan hubungan dengan tetangga pun jadi kurang baik. Dan urusan seperti ini tampaknya tidak akan terjadi di keluarga kami.

Sejak masih belum berkeluarga, penulis sering mengamati perilaku para tetangga. Ada yang suaminya pulang kerja, istri hampir selalu tak ada di rumah. Suami harus menyusul ke warung atau rumah tetangga tempat sang istri biasa berkumpul. Tidak hanya jarang di rumah, sering timbul perselisihan juga akibat bergunjing. Dari sanalah penulis belajar dan memetik pelajaran penting dari sekolah kehidupan, istri sebaiknya lebih banyak di rumah daripada ngumpul dan ngerumpi.

Ehm...  penulis beruntung dan bersyukur mendapatkan istri yang demikian. Ssst... jangan disampaikan ke istri saya ya, kalau di blog ini dia dipuji. 

Bicara dan Berpikirlah dengan Jernih

Sejauh yang penulis lihat dan baca dari media, kinerja Jokowi-Ahok sudah bagus (jauh di atas kinerja pejabat-pejabat pemerintah yang selama ini ada). 

Tapi begitulah manusia, susah untuk bisa netral dalam memberikan komentar. Komentar atau tepatnya dan kritik yang keluar, seringkali bukan murni dari diri sendiri tapi ada kepentingan lain yang bermain (biasanya berujung pada uang) atau bisa juga rasa sakit hati/ kebencian.

Penulis kutip kembali tulisan di awal artikel {klik saja: Tuan Makan Senjata (Mulut-mu, Harimau-mu)}
Ada orang yang sulit mengeluarkan uang. Anda akan menyebutnya apa? Hal itu sangat tergantung siapa orangnya.  



Dia kawan Anda. Anda akan mengatakan "Ia orang yang irit" lalu Anda akan mengemukakan berbagai alasan untuk mendukungnya.



Dia lawan (musuh) Anda. Anda akan mengatakan "Ia orang yang pelit" lalu Anda akan mengemukakan berbagai alasan untuk mendukung perkataan Anda.


  * * * * * * * * * * * 

Gaya blusukan yang murah meriah pun dikomentari negatif (mengapa tidak di kantor saja, habiskan biaya, tidak percaya bawahan, dan lain-lain). Silakan baca, klik link ini:  Jokowi Blusukan: "Pemerintah Kebobolan"


Untuk memperbesar tampilan, silakan klik pada gambar

Mereka yang bertugas di DKI Jakarta sudah tahu Pak Jokowi suka blusukan pun masih berani santai-santai dan tak menjalankan tugasnya. Bagaimana kalau hanya menerima laporan dari bawahan saja? Seperti kita ketahui, laporan yang masuk biasanya ABS (Asal Bapak Senang), semua berjalan lancar dan baik meski kenyataan tidak.

Masih banyak lagi komentar (baca: kritik pedas) untuk kinerja pasangan ini. Jika kinerjanya sush dikritik, apa saja dicari untuk memberi kesan negatif kepada pasangan ini.

Jokowi yang memang tidak suka menggunakan pengawal (voorijder) dan mungkin berjanji tak akan pakai pengawal, ketika ada urusan penting dan harus sampai tepat waktu, dengan terpaksa pakai pengawal, hal ini pun diributkan. Melanggar janji! Kita harus berpikir jernih-lah. Niat Pak Jokowi memang tak ingin protokoler, dekat dengan rakyat agar mudah menyerap aspirasi dan tahu permasalahan rakyatnya, beliau tak ingin pakai pengawal. Tapi harus diketahui, ketika ada urusan yang lebih penting untuk tiba tepat waktu dan ditunggu pejabat lebih tinggi sementara jalanan di Jakarta macet, apa ini tidak bisa dipahami?

Kita semua mungkin akan mengatakan, saya berjanji tidak akan membunuh (itu tindakan kriminal, melanggar hak asasi manusia dan seterusnya). Tapi ketika di tempat sepi Anda ditodong perampok yang juga akan membunuh Anda, tindakan bela diri dan jika sampai mengakibatkan perampok terbunuh, itu bisa dipandang sebagai pengeculian.

Penulis bingung dengan reaksi negatif orang-orang terhadap pasangan ini. Memindahkan PKL Tanah Abang (diberi kios dan gratis sewa selama 6 bulan) yang selama ini tidak pernah tersentuh pejabat sebelumnya dan semua tahu daerah itu sangat macet, ketika dilaksanakan secara manusiawi, banyak yang tetap mempersoalkan hal lain (bahasa yang keras dan dianggap tidak sopan, tidak persuasif, dan lain-lain). Selama ini para komentator ke mana saja? Tidakkah seharusnya hal lebih keras dilontarkan sejak dulu??? Apakah tidak tahu kalau jalan itu untuk kendaraan bukan untuk jualan? Apakah tidak tahu daerah itu macet? Apakah tidak pernah tahu PKL berjualan di jalan mana pun tidak pernah gratis memakai tempat itu (kalau bukan preman pasti ada oknum PNS yang memungut biaya)?

Ketika terjadi perseteruan Ahok dan H. Lulung, semua tiarap. Hanya Prabowo yang pasang badan membela Ahok. Ahok di posisi yang benar (menjalankan tugas, memfungsikan jalan raya agar tidak digunakan PKL, merelokasi mereka ke tempat yang layak) seolah berperang sendiri (nyawa sebagai taruhannya) melawan semua yang merasa dirugikan dengan kebijakan ini. Apa kerja pejabat sebelumnya sampai kemacetan demikian parah akibat ulah pedagang kaki lima??? Tidak tahukah mereka? Atau tidak mau tahu??? 
Bahkan sebuah stasiun TV mengangkat kasus ini dengan pengantar yang sangat provokatif. Seolah PKL benar: banyak menyerap tenaga kerja, tak banyak dibantu pemerintah, dan mereka yang punya hak asasi mencari nafkah kok akan digusur?

Begitu juga relokasi penghuni liar yang baru ada saat Jokowi-Ahok, pemindahan penghuni liar (menetap di lahan milik negara secara ilegal) diberi rumah gratis plus perabotan lengkap! Kalau zaman dulu, tinggal di-buldozer saja, terserah mau pindah ke mana. Sekarang setelah cara manusiawi ini dijalankan, masih ada juga yang tidak puas. Sampai ada yang lapor ke Komnas HAM, minta uang ganti rugi, dan lain-lain. Membangun rumah di tanah milik pemerintah secara ilegal (melanggar), mungkin tak punya IMB (kalau ada, siapa yang beri izin, pasti oknum pemerintahan masa sebelumnya), ketika diminta pindah dan diberi rumah plus isi, malah minta ganti rugi bangunannya. Tak terpikirkah bahwa selama ini pakai tanah negara sekian puluh tahun tapi belum bayar? Berapa biaya sewa plus denda selama sekitar 20 tahun?

Penulis tidak secara membabi buta membela Jokowi-Ahok, tapi cobalah berpikir sedikit jernih. Semua kebijakan demi kebaikan bersama, sebagian besar masalah yang ada di DKI Jakarta (banjir, macet, PKL di jalan, bangunan liar, dan lain-lain) adalah warisan belasan sampai puluhan tahun yang lalu. Mereka tidak menerima uang dari PKL atau pemilik bangunan liar, mereka hanya dapat warisan dari pemimpin sebelumnya. Ketika mereka menjalankan tugas sesuai koridor hukum, kok malah mencari-cari kesalahan untuk mengganjal mereka??? 

Lucunya lagi, baru menjabat beberapa bulan, terjadi banjir besar. Ramai orang protes dan menyalahkan Jokowi-Ahok. Padahal mereka sudah berusaha maksimal (kerja cepat), dan banjir masih terjadi. 

Saat banjir besar, Anda menyalahkan mereka. Tidakkah Anda berpikir sebaliknya, andai sekarang bukan mereka yang bergerak begitu cepat mencoba mengatasi banjir, apakah banjirnya "hanya" sebesar itu???

Apakah Anda tidak berpikir, sudah beberapa kali ganti gubernur pun tetap banjir (dan sekali masa jabatan gubernur itu 5 tahun), lha... 5 tahun saja (yang sudah sekian kali 5 tahun) dicoba ternyata masih banjir, bagaimana sekian bulan diharuskan bisa selesaikan masalah sekian puluh tahun??? 

Mari berbicara dan berpikir dengan jernih... Setelah itu bantu kerja mereka dengan tidak buang sampah sembarangan, disiplin berlalu lintas, dan usaha lainnya. Semoga Jakarta Baru segera bisa diwujudkan.
abcs