Rekoris Muri Asal Bandung


Inilah Rekoris Muri asal Bandung:

Kami hanya mencantumkan rekor atas nama pribadi, bukan instansi, perusahaan, dan biasanya bukan rekor masal (serta pertimbangan khusus lain yang tidak dapat diganggu-gugat). Nama disusun berdasarkan urutan abjad. Kategori rekor yang diraih ditulis hanya berdasarkan info yang berhasil kami dapat (selebaran dari Muri, koran, dan TV). Jadi mohon maaf kalau ada kesalahan (kurang lengkap ataupun kekeliruan lain), harap maklum. Ini situs pribadi, bukan situs resmi Muri.
  1. Alford, rekoris yang melakukan aksi meloloskan diri di dalam air
  2. Bong Wei Ming alias Amin Hongsui, rekoris pembuat replika kereta api terkecil
  3. Dardjat Sukapradja, rekoris filumeni (koleksi kotak korek api) terbanyak dan koleksi tertua
  4. Denny F. Kusumah, rekoris pemrakarsa VW Kodok & Combi dengan penumpang terbanyak
  5. Ellydawati, rekoris pertama yang melahirkan anak kembar 5 (2 laki-laki, 3 perempuan)
  6. Ferry Susanto, rekoris yang mampu mengeluarkan asap rokok dari telinga
  7. H.E.K. Ruhiyat, rekoris pembuat restoran berputar di sebuah hotel berbintang di Bandung
  8. Hendi Sumantono, rekoris yang mampu menirukan lagu atau improvisasi melodi dalam interlude lagu dengan suara saxophone, oboe, dan trombone
  9. Hendry Filcozwei Jan, rekoris penulis Buku Tanpa Judul
  10. H. Komarudin Kudiya, rekoris pemrakarsa batik terpanjang di dunia
  11. Joe Sandy, rekoris magician pertama yang mengkolaborasikan musik dan magic yang menghasilkan nada (ring back tone) dengan permainan angklung oleh 4.000 orang.
  12. Lia Aprilia, rekoris main organ sambil nyanyi nonstop selama 10 jam
  13. Linda, bersama suami (Hendry Filcozwei Jan), rekoris pembuat undangan pernikahan berbentuk unik (kubus) dengan 6 bahasa berbeda di ke-6 sisinya
  14. Maria Tifani, rekoris aranger musik dengan midi komputer termuda
  15. Mulyalim Koswara, rekoris yang mendekor gedung pernikahan dengan menggunakan foto pengantin
  16. Parni Adi Pranoto, rekoris kolektor struk rek. listrik terbanyak
  17. Revi Akbar Irawan, rekoris bayi lepas tali pusar terlama
  18. Sri Izzati, rekoris penulis novel termuda
  19. Wendy Kartikasari, rekoris pendongeng dan penyiar termuda
  20. Yudhie Tatag Riwono, rekoris pemilik Al Quran terkecil
*************************************************

Nama-Nama Rekoris Seangkatan
Hendry Filcozwei
Jan

Catatan:
  • Yang saya cantumkan di sini hanya teman satu angkatan saat pengujian ataupun pengumuman rekor, acara "SeRu! Pecahkan Rekor" serta Konvensi Muri di Istana Negara tahun 2000.
  • Hanya nama yang saya cantumkan (kriteria rekornya tidak) karena berbagai keterbatasan dan khawatir terjadi kekeliruan tulis
  • Nama-nama yang dicantumkan, ada yang memang sudah resmi jadi rekoris, ada pula yang baru calon rekoris
  • Nama disusun berdasarkan abjad, gelar dipindahkan ke belakang nama
  • Calon rekoris bisa jadi rekoris, bisa juga gagal. Bahkan rekoris pun, bisa saja sekarang sudah jadi mantan rekoris karena rekornya telah terpecahkan. Harap maklum saja keterbatasan kami tersebut karena semua data lengkapnya ada di Muri
  • Mohon maaf bila ada kesalahan pengetikan nama (info berdasarkan selebaran yang dibagikan Muri, kartu nama, dan dari tulisan tangan mereka di buku saya)
  • Yang kami catat hanya rekoris perorangan/ pribadi, bukan atas nama instansi, perusahaan, dan biasanya bukan rekor masal (pemrakarsa suatu acara masih kami cantumkan), serta pertimbangan khusus lain yang tidak dapat diganggu-gugat.

Warna yang sama menunjukkan mereka seangkatan. Ada pun angkatannya adalah sebagai berikut:

  1. Rekor kartu ultah terkecil dan menara uang (04-08-1998) di hall Muri Semarang, 5 orang rekoris
  2. Konvensi Muri, Rabu, 26 April 2000 di Istana Negara sekitar 160 rekoris
  3. Rekor menara uang (pecahkan rekor sendiri) pada acara "SeRu! Pecahkan Rekor" di Pasar Seni Ancol, Jakarta (Minggu, 20-10-2002) 4 rekoris
  4. Rekor undangan 6 bahasa di hall Muri Semarang, 30 Januari 2003: 21 (calon rekoris & rekoris)
  5. Rekor Puzzle Terkecil dan Buku Tanpa Judul, Hotel Grasia, Semarang, Kamis, 27 Januari 2005: 44 (calon rekoris & rekoris)
  1. A.H. Bolang
  2. A.M. Happy
  3. Abdul Aziz
  4. Abdul Halim
  5. Abdul Rohman
  6. Abdul Wachid Jaelani
  7. Adam Primaskara, SE
  8. Adib SN, S.Ag.
  9. Adya Satya Puspita
  10. Aggi Tjetje, Drs., S.Ked., SH, SS, SE, MA, MM, CAAE
  11. Agi Patrio Sugiantoro
  12. Agus Sudiono & Susiani
  13. Agustinus Christofan
  14. Ahmar D. Viria
  15. Albashitha Nur Karima
  16. Aman Winarto
  17. Andrean Susilodinata, MN
  18. Ang Indra Kusuma
  19. Ardyan Angga Pramudya
  20. Asdjar Amir
  21. Asep Syam L. Arifin, Drs.
  22. Atjep Amri Wahyudi
  23. Ayu Okvitawanli
  24. B. Kusuma, Ir.
  25. Bambang Haryanto
  26. Bong Wei Ming alias Amin Hongsui
  27. Brian Saputra
  28. Ca'aff Rasnial
  29. Cahyo Budiyono
  30. Canggra Hwiriyanto
  31. Catririni S. Utami, Ir.
  32. C.Budi Yennie W., drg.
  33. Chaerudin M.V.
  34. Christine & Ira
  35. Ciputra, Ir.
  36. Darosy Endah Hyoscyamina, Hj.Dra & 4 anaknya
  37. David Setiabudi, S.Sn, AmRO
  38. Dewan Suwandi
  39. Diduk Sanjaya
  40. Disni Donovan
  41. Dita Dioputri Againa
  42. Djawandi
  43. Djoko Lelono
  44. Eddy Noor C., Drs.
  45. Edy Wijanarka
  46. Eko Budihardjo, Prof. Ir.
  47. Eldiyanto Z.A.
  48. Evi Budi Lestari & Meifa Dela Banu Tri Setianingtyas
  49. Ferry Susanto
  50. Fitriana Linawati
  51. G.Dewi Tarot
  52. Gesang Martohartono
  53. Gilang Nanda Raharja
  54. Gunadi
  55. H. Achmad Chambali, Drs.
  56. H. Achmad Supena, BA
  57. H. Lukman Halim Mustain, SH
  58. H. Nonot Marsono, drh.
  59. H. Santosa D. Hadikusumo
  60. H. Trisno Hartowo
  61. H.E.K. Ruhiyat
  62. H.R. Suhardjiman, Drs.
  63. Hartono Wibowo
  64. Hartono Wijaya
  65. Helmy Yahya
  66. Hendi Sumantono
  67. Hendrawan Supratikno, SE
  68. Hendry Filcozwei Jan
  69. Hendry Filcozwei Jan & Linda
  70. Henokh Aldebaran Ngili
  71. Hokyanto
  72. Ie Tjok An
  73. Iis Dahlia
  74. Imam Muhayat, Drs.
  75. Imam Sudjono, Drs.
  76. Intan Sari Dewi
  77. Iwan Ridwan
  78. Jane Budiyanto, SH
  79. Jauhari
  80. Jessica Aprilia
  81. Jitet Koestana
  82. Johannes Gouw & Jim Boyles
  83. Joshua Suherman
  84. Jumeno
  85. K.H. Abdurrachman Wahid
  86. Kasyfi Kalyasyena
  87. Kevin Soedyatmiko
  88. KH. Hanif Adzhar
  89. Ki Djati Ratnanto & Djoko Sukmolelono
  90. Ki Djoko Sutedjo
  91. L. Chandra Kirana
  92. Lenny E. Tanod
  93. Lutfie, Drs.
  94. M. Natsir
  95. Maria Audrey Lukito
  96. Masngudin
  97. Mayor Haristanto
  98. Mega Christivana
  99. Moch. Budi Ariawan
  100. Mohammad Khojin
  101. Mohliansa
  102. Moselis Arief
  103. Mulyadi
  104. N
  105. Nathan Azaria Nursalim
  106. Nova Haryanti
  107. Parni Adi Pranoto
  108. PH Yusuf Dendabrata
  109. Prasetyo Sumedi
  110. Priyono Herry Darsono
  111. Qurrota Aini
  112. R. Aiyon Suharis Restuningrat
  113. R.Bambang Soebagio
  114. Rangga Gautama
  115. Ray Banu Satomy
  116. Riyono, Drs.
  117. RMA. Sudi Yatmana, Dr.
  118. Ronal Hikari
  119. Rosyid Monas alias Abdul Rosyid
  120. Roza Delima
  121. Rudy Choirudin Saleh
  122. Ruslan Abdulgani, Prof. Dr. (almarhum)
  123. Salim Hartjuanto
  124. Samuel P. Radja Uly
  125. Seger Wicaksono, SE
  126. Selo Sumarjan, Prof. Dr.
  127. Smile Kids Band
  128. Soegeng Trihono
  129. Sotya Satmaka Adira
  130. Sudomo, Dr.
  131. Sri Brameswara
  132. St.K.Budiono Halim, drg. & C.Budi Yennie W., drg.
  133. Sugeng Wiyono
  134. Sugiharto Gunawan & Djoko Soebagio
  135. Suhardi & Ikawati Handayani
  136. Suharjo & Dwiyani Handaniwati.
  137. Sukaesih alias Ecih Sukaesih
  138. Sukaharjana
  139. Sukanto, Drs.
  140. Sukyatno Nugroho, Dr.
  141. Sumarni
  142. Sunaryo, pratu
  143. Suprihati
  144. Sutjipto Adi
  145. Tanto Gardjito
  146. Taufik Hariyanto
  147. Teddy Yosua Sanjaya
  148. Teguh Joko Dwiyono, Ir.
  149. Unggul Panggayuh
  150. Vinas Valentine Lindri Sahputri
  151. Warronuddin
  152. Waryadi
  153. Wisnu Sudharnoto
  154. Yana Sutiana
  155. Yerikho N.
  156. Yoga Daru Darendra
  157. Yohanes Arif Hartono
  158. Yohanes Haryono Setiono
  159. Yoseph Theodorus W. alias Mr. Joger
  160. Zaenal Mustaqim, dr. Sp.Bd.
*************************************************

Catatan Rekor-Rekor Pengantin di Muri

Salah satu isi Buku Mini Tanda Kasih (BMTK), souvenir pernikahan kami adalah data rekor-rekor pengantin di Muri. Berikut ini kutipannya (semua data diperoleh dari Muri dan sudah mendapat izin dari Muri untuk dimuat di BMTK).

Pasangan paling lestari: Pasangan Pak Madrupi & istri, sudah menikah 85 tahun lebih (data tahun 1986).

Pengantin tertua: Pak Nimrot Ufi & Ibu Sarah Tob yang menikah di Soe, Nusa Tenggara Timur. Saat menikah usia Nimrot 97 tahun, Sarah 105 tahun.

Pasangan yang menikah dengan pengapit kembar terbanyak: Agus Sudiono dengan Susiani (pengapit 13 orang => 5 pasang kembar 2, 1 pasang kembar 3).

Pasangan yang mencetak undangan berbentuk unik (kubus) dengan 6 bahasa berbeda di ke-6 sisinya: Hendry Filcozwei Jan dengan Linda. Bahasa yang digunakan: Indonesia, Tionghua, Inggris, Perancis, Jerman, & Pali. Pemberkatan pernikahan di Vihara Vipassana Grha, Lembang pada hari Kamis, 20 Maret 2003 (2003 2003). Pesta pernikahan berlangsung di Berlian Ballroom, Hotel Holiday Inn, Bandung pada hari Minggu, 01 Juni 2003.

Pasangan unik: Kembar menikah dengan kembar: Suhardi dengan Ikawati Handayani sedang Suharjo dengan Dwiyani Handaniwati. Mereka menikah di Yogyakarta pada 25 Oktober 1997.

Pasangan unik: Kakak adik menikahi adik kakak: Renno Haryo Wiweko, S.T. dengan Juvita Revianty S.Sos sedang Ranuditte, S.T. dengan Evellyn Mustika, S.E. Mereka menikah di Gedung Bidakara, Jakarta Selatan pada tanggal 21 Juli 2002. Renno kakak, Ranu adik. Vita adik, Evellyn kakak.

Undangan pernikahan terbesar: Undangan pernikahan Susi Susanti dengan Alan Budikusuma yang berukuran panjang 9 meter, lebar 3 meter karya Hartono Wibowo yang dipamerkan di Mega Mal Pluit, Jakarta 20-24 Agustus 1997.

Pemrakarsa pesta pernikahan dengan MC terbanyak: Dr. RMA Sudi Yatmana (15 MC). Pesta pernikahan ini berlangsung di Gedung Taman Raden Saleh, Semarang.

Gaun pengantin terpanjang karya Eva Bun (panjang 45 meter). Dipamerkan di Mega Mal Pluit Jakarta pada 20-24 Agustus 1997.

Pasangan langka: Suami, istri, & anak lahir pada tanggal & bulan yang sama: Kel. Pak Brian Saputra. Mereka lahir pada tanggal 12 Agustus. Seorang lagi anaknya, hanya berselisih 1 hari (lahir pada 13 Agustus).

*************************************************

Mengenal Kelirumologi

Kelirumologi

Sekedar catatan:

Kelirumologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang oleh masyarakat umum terlanjur dianggap benar, tetapi sebenarnya keliru. Kelirumologi menurut Wikipedia, silakan klik: Kelirumologi

Kajian Kelirumologi

Namanya saja sudah begitu sulit, hingga rawan keliru tulis apalagi diingat, maka tak heran apabila Hendry Filcozwei Jan, anak muda Bandung ini mengidap bakat alami untuk menjadi seorang kelirumolog ulung.

Kelirumolog jeli ini langsung mengkoreksi cara menulis Abad yang begitu sering keliru, termasuk di serial "Kaleidoskopi Kelirumologi." Yang benar adalah Abad ke-20 atau Abad XX, bukan Abad 20 atau Abad ke-XX! Bukan main!

Lalu kelirumolog muda yang juga pencipta rekor dunia menyusun mata uang itu menemukan segudang kekeliruan cetak dalam serial buku "Kaleidoskopi Kelirumologi" yang memang tidak kebal keliru itu! Koreksi-koreksi ulung ini akan dimanfaatkan dalam cetak ulang Kaleidoskopi Kelirumologi.

Namun yang menarik, Hendry juga asyik mengembangkan kekeliruan upaya meng-Indonesiasi istilah Bank menjadi Bang, yang sebenarnya malah benar dalam konteks idiom bahasa Indonesia yang benar itu. Di samping risiko pak Ciputra protes akibat Bank Jaya menjadi Bang Jaya yang dikuatirkan kepemilikannya juga berganti tangan sesuai penggantian nama, rasanya Bank Ekspor Impor yang akronimnya tetap Bank Exim (dari paduan kata asing Export dan Import) juga menjadi kurang senonoh apabila dipaksakan di-Indonesiasi secara konsekuen. Akibat singkatan Bank Ekspor Impor akan terpaksa menjadi Bank Eksim, alias penderita suatu jenis sakit kulit yang menjengkelkan!

Jadi ketimbang benar tapi terkesan sakit, lebih baik keliru namun terkesan sehat!

Dikutip dari serial buku Kaleidoskopi Kelirumologi jilid 6, hal. 87

*****



Dengan dimuatnya kajian kelirumologis tentang usaha pengindonesiaan kata asing, Hendry menerima sertifikat sebagai bentuk pengakuan dari Pusat Studi Kelirumologi pimpinan Dr. Jaya Suprana sebagai kelirumolog bidang bahasa.

Beberapa kali Hendry menulis tentang kelirumologi. Salah satunya berjudul “Bahasa daripada Indonesia” yang dimuat di harian Galamedia (Bandung), Senin, 30 Oktober 2000, hal. 6

*****

Apa itu kelirumologi? Oleh penggagasnya Dr. Jaya Suprana, kelirumologi adalah ilmu atau boleh juga dibilang semangat mempelajari segala sesuatu yang telah dianggap benar oleh masyarakat, padahal sebenarnya keliru. Kekeliruan ini ternyata terjadi di segala bidang kehidupan manusia. Dalam suasana serbakeliru ini, sebenarnya istilah kelirumologi sendiri juga keliru, ujar Om Jaya, yang dikenal sebagai Bapak Kelirumologi ini. Yang benar adalah kelirulogi, namun demi "selaras" dengan suasana serbakeliru, jadilah istilah ilmu ini menjadi kelirumologi dan para "penemu" kekeliruan yang telah diakui oleh Pusat Studi Kelirumologi (mohon nama lembaga ini jangan disingkat) yang berpusat di Semarang, berhak menyandang gelar sebagai kelirumolog.

Contoh yang paling sering penulis paparkan tentang kelirumologi adalah mengenai "samurai" (kiriman seorang pembaca yang dimuat di buku Kaleidoskopi Kelirumologi karya Dr. Jaya Suprana). Apa yang terlintas di benak Anda saat mendengar kata "samurai"? Penulis yakin, sebagian besar akan mengatakan "pedang khas Jepang." Kalau Anda juga berpandangan demikian, inilah salah satu bukti kekeliruan yang terjadi di masyarakat kita. Kita sudah terlanjur menganggap "samurai" sebagai "pedang khas Jepang." Padahal yang benar, "samurai" adalah pendekar Jepang, sedangkan pedangnya yang selama ini kita yakini sebagai "samurai" sebenarnya bernama "katana"!

Dalam satu kajian lain (yang belum dimuat), penulis mengatakan "Om Jaya tidak perlu heran dengan banyaknya kajian kelirumologi yang dikirimkan pembaca. Mengapa? Sebagian besar masyarakat Indonesia mengidap bakat alami sebagai kelirumolog (salah dalam menyebut nama negaranya sendiri). Anda tidak percaya? Coba Anda perhatikan pengucapan kata "Indonesia" mulai dari percakapan sehari-hari sampai menyanyikan lagu "Indonesia Raya." Coba Anda ucapkan kata "Indonesia" dan "India" sambil memperhatikan cermin. Saat mengucapkan kata "Indonesia" mulut kita lebih condong mengeluarkan lafal huruf "E" daripada "I" pada awal kata. Bandingkan saat kita mengucapkan kata "India." Ya 'kan?

*****

IOOI
Hendry Filcozwei Jan *

Angka 1.001 (baca: seribu satu) lazim dipakai untuk menyatakan sesuatu yang jumlahnya sangat banyak, meskipun mungkin jumlahnya tidak sebanyak itu. Ada “Cerita 1.001 Malam”, ada juga sinetron tentang jin yang memplesetkannya menjadi “1.001 Macam”, sebuah TV swasta juga menayangkan sinetron dengan judul “1.001 Cara Menggaet Cowok”, dan masih banyak lagi.

Kita semua sepakat 1.001 sebagai bilangan yang dipakai untuk menyatakan jumlah yang sangat banyak (tanpa mempedulikan jumlah sebenarnya). Jadi tidak perlu protes seandainya Anda membeli buku berjudul “1.001 Jurus Jitu Mencari Jodoh” tapi Anda tidak menemukan 1.001 jurus seperti yang tertulis di sampul buku.

Bulan Oktober adalah bulan bahasa. Ini sedikit catatan ringan penulis tentang penggunaan bahasa Indonesia.

Anda pernah ke Semarang? Anda tentu tahu kawasan Simpang Lima. Tak usah jauh-jauh ke sana, di Bandung juga ada. Namun orang Bandung punya sebutan yang berbeda, Prapatan Lima! Ini jelas penggunaan kata yang tidak tepat. Kata prapatan atau perempatan artinya jalan simpang empat (KBBI, 1997, hal. 262). Mungkin kata “prapatan” sudah terlanjur dianggap sama dengan kata “simpang”? Wah… jangan-jangan di Bandung juga ada prapatan tiga.

Hal seperti inilah yang dipelajari dalam kelirumologi (ilmu yang mempelajari hal-hal yang telah dianggap benar oleh masyarakat umum, tapi sebenarnya itu keliru). Tidak mudah untuk mengubah kebiasaan berbahasa yang sudah terlanjur memasyarakat. Kita menggunakan kata atau kalimat yang benar, justru kita yang dianggap keliru.

Penulis pernah membaca sticker di angkot berisi iklan obat. Di sana tertulis: “Bila tidak terbukti, barang kembali.” Anda tertarik dengan jaminan di iklan tersebut? Hati-hati, di sana tidak ditulis uang Anda akan dikembalikan. Kalau Anda tidak puas, barang boleh dikembalikan (uangnya belum tentu).

Banyak iklan yang bahasanya keliru, atau mungkin sengaja dikelirukan agar terdengar menarik?

Anda tentu pernah melihat iklan undian yang diselenggarakan sebuah bank swasta di televisi. Di akhir iklan seorang anak kecil berujar “400 gitu lho…” Kita lihat di iklan tersebut: awalnya undian itu berhadiah 300 mobil, sekarang 400 mobil. Coba Anda perhatikan kalimatnya “… Jangan heran, hadiah mobilnya tambah 400.”

Padahal seharusnya “… Jangan heran, hadiah mobilnya tambah 100” atau “… Jangan heran, hadiah mobilnya jadi 400.”

Masih dari tayangan di televisi. Anda pernah melihat acara Uang Kaget? Di awal acara, Anda akan melihat Helmy Yahya, sang game master yang juga presenter-nya. Ini sepenggal kalimatnya “… Saya akan berjalan ke mana angin berjalan…” padahal seperti kita ketahui, angin biasanya bertiup atau berhembus, bukan berjalan.

Lain lagi pengalaman penulis. Saat seorang rekan penulis ingin merokok, dia bilang pinjam “bengsin.” Penulis sempat bingung, tapi akhirnya tahu, ternyata korek api (bukan korek api batangan), entah itu berbahan bakar bensin atau gas, di Bandung disebut “bengsin.”

Penulis harap Anda juga tidak protes dengan judul tulisan ini. Jangan protes karena kekeliruan bahasa yang dibahas tidak sampai seribu satu, juga penulisan judul di atas seharusnya “1.001” bukan “1001” (seharusnya ada tanda titik setelah angka 1 yang pertama). Bukan penulis yang keliru, bukan pula editor majalah ini yang keliru. Ini memang sengaja dikelirukan, semua demi menghasilkan angka yang unik, dibaca dari sini atau dari sebelah sana tetap seribu satu!

* Penulis adalah peminat bahasa Indonesia dan kelirumolog bidang bahasa, tinggal di Bandung.


Dikutip dari majalah Berita Vimala Dharma (BVD) edisi No. 86/BVD/2005 Okt 2005 terbitan PVVD (Pemuda Vihara Vimala Dharma), Bandung


Sebutkan Warna, bukan Membaca

Tulisan ini penulis dapatkan dari sticker yang menempel di pintu masuk sebuah toko pakaian di mall. Penulis coba sajikan di sini (tidak persis sih...) tapi intinya sama. Mampukah Anda menyebutkan semua warna tulisan di bawah ini tanpa kesalahan? INGAT Anda harus menyebutkan warna tulisan, bukan apa yang terbaca dari tulisan di bawah ini.

Kalau ada perlombaan, saya tak yakin orang dewasa bisa mengalahkan anak kecil yang sudah kenal warna tapi tak bisa membaca.

HIJAU BIRU KUNING


MERAH UNGU
HITAM
PUTIH COKLAT KUNING

MERAH HITAM
PUTIH

COKLAT HIJAU HITAM


PUTIH UNGU BIRU

Kirologi = Ilmu Kiro-Kiro (baca: kira-kira)

Kirologi

Kirologi hanyalah guyonan Pak Susilo, guru Ekonomi saya semasa SMA. Beliau sering memberikan latihan agar siswa ke depan kelas untuk menggambar kurva permintaan (demand) dan penawaran (supply). Biasanya, terdorong oleh sifat malas, dengan kapur tulis, siswa langsung menarik garis dari atas ke bawah (vertikal = sumbu Y), lalu disambung dengan membuat garis ke kanan (horisontal = sumbu X). Lalu mulai memberi titik-titik kecil di sumbu X & Y untuk diberi angka 1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya. Proses ini dilakukan tanpa bantuan penggaris (jadi tidak lurus) dan jarak tiap titik tidak sama.

Biasanya, baru sampai garis vertikal dan horisontal, Pak Susilo sudah komplain. 'Eh... eh... eh... itu namanya kirologi" tegurnya. Maka siswa langsung mengambil penghapus (menghapus garis yang dibuatnya), lalu mengambil penggaris dan mulai menggambar kurva dengan garis yang lurus dan ukuran yang tepat.

Saya meminjam istilah kirologi, untuk hal-hal yang merupakan hasil perkiraan atau juga plesetan. Tulisan ini tentu saja bukan kajian ilmiah, hanya sekedar plesetan. Kalau terasa lucu, jangan malu untuk tertawa, atau setidaknya tersenyum. Syukur kalau tulisan di kirologi ini bermanfaat bagi Anda.


Tanda Kendaraan
Gampang-gampang susah menghafal tanda kendaraan di Indonesia. Ini beberapa singkatan (mungkin ada yang asli/ ilmiah, tapi pasti banyak yang plesetan). Tapi mudah-mudahan dapat membantu Anda untuk menghafal/ mengingatnya...

A = BANTEN
B = BATAVIA = BETAWI alias Jakarta
D = BANDUNG
E = CIREBON
BG = PALEMBANG
BH = BATANGHARI, nama sungai di Jambi
BE = BANDAR LAMPOENG
BD = BENGKULU DONG...


Mata Uang
Rp = Republik Indonesia (rupiah)
$ = U$A, $ingapore (dollar)
£ = Eng£and (poundsterling)


Singkatan & Akronim
Singkatan dibentuk dari huruf awal tiap kata (IPS = Ilmu Pengetahuan Sosial), akronim diambil dari huruf atau suku kata, biasanya tak beraturan, dan bisa terbaca (Kapolsekta = Kepala kepolisian sektor kota).

Ini singkatan dan akronim plesetan yang berlaku di masyarakat. Bagian depan adalah kepanjangan resmi dari singkatan atau akronim-nya dan yang bertanda kurung adalah singkatan plesetan.

Banyak singkatan atau akronim yang ada plesetan-nya. Tapi yang kami pilih adalah plesetan yang mengena. Misalnya PIN = Personal Identification Number = Pekan Imunisasi Nasional atau lainnya, tidak kami masukkan. Secara kebetulan sama, tapi tidak ada hubungan dan artinya tidak bertolak belakang.

  1. ATM = Automated Teller Machine (Anjungan Tunai Mandiri)
  2. KUHP = Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Kasih Uang Habis Perkara, Karena Uang Habis Perkara)
  3. MBA = Master Bussines of Administration (Married By Accident), kedua singkatan ini memang tidak berhubungan. Tapi sindiran ini biasa dipakai untuk orang yang menikah setelah hamil duluan.
  4. Pelikan = nama burung (Pelahap ikan), memang burung ini pemakan ikan
  5. PLN = Perusahaan Listrik Negara (Perusahaan Lilin Negara), ini plesetan dari dosen saya karena listrik dari PLN sering padam
  6. PLTD = Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (Pembangkit Listrik Tenaga Dalam)
  7. PORKAS = Peras Otak Rencana Kaya Akhirnya Sinting (tak tahu apakah ada kepanjangan, ini plesetan yang mengena). Porkas adalah undian berhadiah (tebak huruf) sebelum TSSB, KSOB, SDSB
  8. Siskamling = Sistem Keamanan Lingkungan (Sistem Nangkap Maling)
  9. TOP = Tua Ompong Peot (ini bukan singkatan atau akronim, tapi mempunyai makna yang bertolak belakang)
  10. UUD = Undang Undang Dasar (Ujung-Ujungnya Duit)

Optical Illusions

Optical Illusions

Kita sering mendengar ungkapan, "Saya belum percaya kalau belum melihat dengan mata kepala sendiri." Ungkapan ini seolah melegitimasi bahwa mata kita "tidak bisa salah." Kalau kita sudah lihat sendiri, kita baru yakin bahwa hal tersebut benar adanya. Terkesan seolah mata kita tidak bisa ditipu.

Tapi apakah benar, mata kita tidak bisa salah? Di bawah ini saya sajikan beberapa gambar untuk menguji kehebatan mata kita yang "konon tidak bisa salah" tersebut. Gambar-gambar ini penulis peroleh dari VCD sulap tentang Optical Illusions. Lihat dengan cermat, awas mata Anda tertipu alias keliru menentukan, menemukan, menghitung, dan memastikan yang ditanyakan.



Tangga Tiada Akhir.
Ini adalah gambar sebuah tangga.
Bisakah Anda menunjukkan di mana:
titik tertinggi atau titik terendah dari anak tangga ini?

Tangga Tiada Akhir. Ini adalah gambar sebuah tangga.
Bergerak searah jarum jam, Anda selalu menuruni tangga. Bergerak berlawanan dengan arah jarum jam, Anda selalu menaiki tangga. Di mana titik terendah dan di mana titik tertinggi???




Dari Mana Lubang ini? Gambar segitiga pertama dan
kedua berukuran sama. Bagian-bagiannya pun sama
(merah, hijau tua, coklat, dan hijau muda). Tapi setelah disusun
dalam posisi yang berbeda, muncul sebuah lubang pada
gambar kedua. Nah... dari mana datangnya lubang ini???

Jumlah kaki gajah. Silakan Anda hitung
berapa jumlah kaki gajah ini?

Ada Berapa Titik Hitam? Bisakah Anda menghitung,
ada berapa titik hitam pada gambar ini?

Mana yang Lebih Besar? Perhatikan titik pusat (lingkaran)
pada gambar kiri dan kanan. Mana titik pusat yang lebih besar?



Sumber: Dari berbagai sumber di internet


Mau lihat Optical Illusion bagian ke-2? Klik saja: Optical Illusions 2

3 Warga Jabar Pecahkan Rekor MURI (Berita)

GARUT, (PR).-

Tiga orang warga Jabar berhasil memecahkan rekor baru Museum Rekor Indonesia (Muri) di Semarang, Kamis (27/1). Sementara, enam orang warga Jabar lainnya menjadi nominator Muri dalam upaya pemecahan rekor baru dari 31 kategori. Demikian keterangan yang diberikan Iwan Ridwan, salah seorang kandidat pemecah rekor kategori lukisan wajah terkecil dari Garut yang ketika dihubungi "PR" kemarin masih berada di Semarang.


Ketiga warga Jabar pemecah rekor tersebut yaitu Waronudin (60) sebagai pendaki gunung Ciremai tertua, sapi terbesar berukuran 2,1x6x1,5 meter milik Paguyuban Pasundan Cianjur, serta Parni Adi Pranoto dari Cimahi dikukuhkan sebagai kolektor struk rekening listrik terbanyak berjumlah 355 lembar yang dikumpulkannya sejak 1974. Ketiga warga Jabar tersebut merupakan penerima rekor Muri dari 14 kategori yang dikukuhkan langsung oleh Muri di Semarang bertepatan dengan hari ulang tahun Muri ke-15.


Jabar ternyata tak hanya memiliki tiga orang pemecah rekor baru Muri, melainkan juga enam orang calon pemecah rekor baru lainnya dari 31 kategori yang berlainan. Keenam calon pemecah rekor tersebut yakni Dewan Suwandi (Cianjur) sebagai kolektor uang yang memiliki nomor seri kembar terbanyak, Kasyfi Kaliasyena (3) dari Garut dalam kategori usia termuda yang dapat menyanyikan lagu terbanyak (57 lagu), Hendi Sumantono (Cimahi) yang dapat menirukan lagu/ improvisasi lagu dalam interlude lagu dengan suara saksofon, oboe, dan flute.


Tiga orang calon pemecah rekor lainnya Smile Kids Band (Tangerang) sebagai group band anak-anak wanita di bawah 15 tahun pertama di Indonesia, Hendry F. Jan (Bandung) sebagai penulis “Buku Tanpa Judul” dan Iwan Ridwan (Garut) sebagai pelukis wajah terkecil. "Keenam calon pemegang rekor baru Muri itu kini tinggal menjalani penilaian publik.


Sementara itu, lukisan wajah terkecil berukuran 2x3 mm bergambarkan mantan presiden Abdurahman Wahid milik Iwan Ridwan dari Garut harus bersaing dengan Moselis Aris (34), pelukis dari Sidoarjo Jatim yang memiliki lukisan berukuran 3x3 mm bergambar mantan Presiden Soekarno. Pada kesempatan itu, sebanyak delapan lukisan supermini karya Iwan sempat dipamerkan di Semarang. (A-124)


***


Dikutip dari koran Pikiran Rakyat, Jumat (28 Januari 2005).

Hendry Filcozwei Jan Raih Piagam Rekor ke-5 (Catatan Perjalanan)

**************************************************

Kamis (27/01) bertempat di ruang Asoka, Hotel Grasia Semarang berlangsung perayaan ulang tahun ke-15 Muri (Museum Rekor Indonesia). Perayaan ultah Muri yang bersamaan dengan ultah Dr. Jaya Suprana, direktur sekaligus pencetus Muri ini dibarengi dengan Pengujian Rekor dan Penyerahan Piagam Rekor Muri. Hendry Filcozwei Jan, wong Palembang yang kini menetap di Bandung, adalah salah satu rekoris yang diundang ke acara tersebut. Berikut catatan Hendry tentang acara ultah ke-15 Muri yang ditulis khusus buat pengunjung situs www.hfj-rekoris.blogspot.com


**************************************************


Suasana perayaan ultah Muri kali ini jauh lebih meriah daripada perayaan 2 tahun lalu di Hall Muri, Semarang di kawasan Srondol, lokasi pabrik Jamu Jago. Pada perayaan kali ini, selain rekoris (istilah untuk pemegang rekor) dan calon rekoris yang diundang lebih banyak, sponsor acaranya pun jauh lebih banyak. Dalam kesempatan itu tampak pula hadir beberapa public figure seperti: H. Sukawi Sutarip (mantan walikota Semarang yang juga berultah pada tanggal yang sama), Rudy Choirudin (presenter acara masak), Helmy Yahya (presenter kuis), dan Kak Seto Mulyadi (pemerhati anak).


Kamis, 27 Januari 2005 sekitar pukul 09.30 WIB acara baru dimulai (terlambat dari waktu yang direncanakan, yakni pukul 08.00 WIB). Setelah kata sambutan dari Paulus Pangka, SH, manajer Muri, acara pengujian rekor pun dimulai. Kehadiran penulis bersama Linda (istri), dan Dhika (anak) atas undangan Muri ini adalah untuk yang keempat kalinya. Pertama tahun 1998 di Semarang, kedua tahun 2000 di Istana Negara, ketiga tahun 2003 di Semarang, dan sekarang yang keempat tahun 2005 di Semarang.


Dalam lembaran data yang dibagikan kepada yang hadir (rekoris, calon rekoris, undangan, dan pers) ada 14 rekoris yang akan menerima piagam rekor dan 32 calon rekoris yang akan diuji. Sekedar catatan, setiap orang berhak mengajukan rekornya untuk dicatat di Muri. Ada pun kriteria untuk tercatat di Muri adalah paling/ ter (misalnya manusia paling berat, sepatu paling besar, buku paling kecil), pertama (wanita pertama yang menjadi wasit sepak bola, orang pertama yang membuat lukisan dari pelepah pisang), unik/ langka (satu keluarga yang tanggal & bulan lahirnya sama, pasangan kembar menikah dengan kembar). Ada satu lagi kriteria tak tertulis, yakni harus bersifat mendidik. Misalkan Anda ingin tercatat di Muri sebagai orang yang mampu melompati sekian puluh mobil dengan motor, penulis sarankan sebaiknya Anda memikirkan rekor lain saja. Kemungkinan besar rekor beresiko tinggi seperti ini tidak akan dicatat di Muri. Mengapa? Karena rekor sejenis ini dikhawatirkan akan memacu orang lain untuk meniru, dan tidak jarang akan menimbulkan kecelakaan fatal.


Piagam Rekor ke-5

Penulis hadir sebagai rekoris untuk menerima piagam rekor pembuat Puzzle Terkecil dan calon rekoris “Orang Pertama yang Membuat Buku Tanpa Judul.” Sebelumnya penulis telah menerima 4 piagam rekor Muri. Pertama, tercatat sebagai rekoris Pembuat Kartu Ulang Tahun Terkecil (lihat Buku Pintar Senior hal. 153), kedua: Menara Uang Tertinggi (Okt 1998), ketiga: Menara Uang Tertinggi (memecahkan rekor sendiri, Okt 2002), dan keempat: bersama istri (Linda) Membuat Undangan Pernikahan Berbentuk Unik (Kubus) dengan 6 Bahasa Berbeda di ke-6 Sisinya: Indonesia, Inggris, Tionghua, Perancis, Jerman, dan Pali (bahasa India kuno).


Banjir Sponsor

Biasanya acara yang digelar Muri, organisasi nonprofit ini berlangsung secara sederhana. Maklum saja dengan dana terbatas, biasanya acara digelar di Hall Muri. Harap maklum juga kalau semua akomodasi ditanggung sendiri oleh calon rekoris. Tapi pada ultah kali ini, peserta tidak hanya mendapat snack, tapi juga makan siang prasmanan. Boleh dibilang kali ini banjir sponsor, banjir hadiah. Bila sebelumnya rekoris hanya mendapat piagam rekor dan kenang-kenangan berupa produk jamu, kali ini ditambah sejumlah barang mulai gantungan kunci, jam dinding sampai kain batik dan olie dari perusahaan-perusahaan yang juga tercatat sebagai rekoris Muri. Acara perayaan ultah ke-15 Muri yang diliput media cetak dan elektronik ini berakhir sekitar pukul 15.00 WIB.


Anda Lebih?

Setelah pengujian rekor, dewan juri Muri yang terdiri dari Pak Ocke Rubino, Paulus Pangka, SH, dan Ibu Wida memberi waktu 1 bulan kepada masyarakat untuk mengajukan klaim. Bila Anda merasa lebih (lebih banyak, lebih dulu,…) bisa melayangkan surat ke Jl. Perintis Kemerdekaan 275, Srondol, Telp. (024) 7475 172 Fax (024) 7475 173 Semarang 50132. Simaklah data rekoris dan calon rekoris yang hadir di ultah ke-15 Muri berikut:


Rekoris: H. Santosa D. Hadikusumo (kolektor batik terlengkap: ± 10.000 macam), Rudy Choirudin Saleh (presenter acara masak terlama: 14 tahun), David Setiabudi, S.Sn, AmRO (pembuat game original Indonesia pertama), Kevin Soedyatmiko (siswa termuda pertama di Indonesia yang memperoleh predikat The Best of Use of The Sakamoto Method: 11 tahun), Qurrota Aini (menulis antalogi cerpen termuda: 8 tahun), Warronuddin (pendaki gunung (gunung Ciremai) tertua: 60 tahun), Aggi Tjetje (peraih gelar multidisiplin terbanyak: 8 gelar), Mohliansa (menyanyi dan melukis terlama: 15 jam nonstop), M. Natsir (pemrakarsa pembuatan mainan othok-othok terbesar: tinggi 5 meter, lebar 3 meter) dan (permainan othok-othok terbanyak 9.937 peserta), Cabang Paguyuban Pasundan Kab. Cianjur (pembuat alat musik kecapi terbesar: 21 m x 6 m x 1,5 m), Triwarsana, Metro TV, antv, Indosiar (Kuis dan Game Show Gladiator 1 Milyar: kuis dengan hadiah terbesar, Penghuni Terakhir: Reality Show dengan hadiah terbesar: 1 Milyar, Kuis Siapa Berani: Kuis yang disiarkan secara langsung dengan peserta terbesar), RSU Tidar, Magelang (pagelaran seni di dalam lokasi rumah sakit), Hendry Filcozwei Jan (pembuat puzzle terkecil), Parni Adi Pranoto (pengumpul struk rekening listrik terbanyak: 355 lembar sejak Juni 1974-sekarang).


Calon rekoris:

Atjep Amri Wahyudi (pendonor darah terbanyak di tempat berbeda: 92 kali donor di 10 kota berbeda), Adib SN, S.Ag. (koleksi kearsipan pribadi terbanyak: 11 macam), Dewan Suwandi (kolektor uang kertas dengan nomor seri sama/ kembar terbanyak), Hokyanto (kolektor brosur terbanyak: ± 4.000 macam, Ie Tjok An (mengunjungi vihara/ kelenteng terbanyak: 200 vihara dalam waktu 3 tahun), PT Megasurya Mas (pelopor sabun buah di Indonesia), Evi Budi Lestari dan Meifa Dela Banu Tri S. (pelipat tubuh berpasangan dengan variasi terbanyak: 36 macam), Kasyfi Kalyasyena {usia termuda (3 tahun) mampu menyanyi lagu terbanyak: 57 lagu}, Abdul Aziz (kayang dengan dibebani 100 kg), Nova Haryanti (kayang tanpa tumpuan tangan bolak-balik terbanyak 100 kali), Dra. Hj. Darosy Endah Hyoscyamina dan Ilham bersaudara (keluarga berprestasi dalam bidang baca puisi: ibu beserta 4 putra-putrinya), Disni Donovan (sendi tangan berputar 360ยบ, Unggul Panggayuh (pembuat origami terkecil berbentuk burung: 2,5-3 mm), Ir. Teguh Joko Dwiyono (pelopor seni lukis dengan bahan kulit telur), Moselis Arief (lukisan wajah Soekarno terkecil: 3x3 mm), Iwan Ridwan (lukisan wajah Gus Dur terkecil: 2x3 mm), Apotek K-24 (Apotek jaringan buka 24 jam nonstop), Hendi Sumantono (menirukan lagu atau improvisasi melodi dalam interlude lagu dengan suara saxophone, oboe, dan trombone), Bambang Haryanto (pencetus episthoholik Indonesia: komunitas jaringan para penulis surat pembaca), Smile Kids Band {group band anak-anak wanita (usia di bawah 15 tahun) pertama di Indonesia}, Ang Indra Kusuma (narapidana pertama yang menulis lagu, mengaransir lagu, music player, programmer, vokalis, recorder, dan mixing), Jessica Aprilia (peraih penghargaan terbanyak di bidang melukis: usia 10 tahun menang lomba 273 kali), G.Dewi Tarot (kolektor kartu Tarot terbanyak: 28 set), Mayor Haristanto (tim sukses artis SMS terbanyak: 5 artis), R.Bambang Soebagio (ketua RT terlama: 38 tahun), Djawandi (menempuh perjalanan dinas swasta terjauh: 325 km setiap hari kerja), Hendry Filcozwei Jan (orang pertama yang menulis Buku Tanpa Judul), KH. Hanif Adzhar (menulis puisi terbanyak dalam waktu tercepat: 100 judul puisi dalam waktu 15 hari), Christine & Ira (membuat origami terbanyak: ± 8.000 macam), drg. St. K. Budiono Halim bersama istri, drg. C. Budi Yennie Wresoatmodjo (kolektor sikat gigi terbanyak: 774 buah), dan terakhir drg. C. Budi Yennie Wresoatmodjo (kolektor pin terbanyak: 405 buah).


Bila apa yang Anda miliki lebih daripada data tadi, silakan kirim data ke Muri. Atau Anda punya kemampuan unik yang tak bisa dilakukan orang lain, koleksi barang yang sangat banyak, atau apa saja yang tidak biasa, silakan kirim data beserta foto atau foto copy berkas pendukung. Siapa tahu nama Anda layak tercatat di Muri. Semoga saja dengan membaca tulisan ini, banyak pengunjung situs yang terinspirasi untuk menjadi rekoris. (zwei)

abcs