Manusia Bukanlah Robot

Dulu... guru di sekolah tempat penulis belajar (sejak SD sampai SMA), ada kebijakan guru dilarang memberikan les kepada murid yang diajarnya di sekolah. Jadi jika ia guru kelas 5 SD, ia boleh mengajar les murid sekolah tersebut yang tidak diajarnya di sekolah. Bisa kelas yang lebih rendah (kelas 1-4) atau lebih tinggi (kelas 6), asal murid itu bukan muridnya di sekolah.

Mengapa ada kebijakan ini? Hal ini untuk menghindari konflik kepentingan dan membuat guru yang bersangkutan tidak objektif. Andai saja ada 2 murid mendapat nilai yang sama yakni nilai rata-ratanya 5, tapi 1 siswa adalah murid les-nya, sedangkan 1 lagi bukan.

Sangat mungkin nilai murid yang les bisa jadi 6 di raport dan nilai murid yang tidak les  tetap 5. Bagaimana guru bisa objektif? Pasti akan terpikir rasa sungkan kepada orangtua murid itu. Masa' sih sudah les, nilainya masih 5? Ini muridnya yang bodoh atau gurunya yang tidak bisa mengajar? Belum lagi ada rasa hutang budi karena setiap guru mengajar les, orangtua murid selalu menyiapkan hidangan, menjelang kenaikan kelas orangtua murid yang les sering memberikan bingkisan.

Sebagai manusia, sangat wajar penilaian guru tersebut tidak akan obejektif. Demikian pula seorang pejabat (penguasa) yang mempunyai usaha (juga pengusaha) yang akhirnya jadi "penguasaha".

Jadi adalah hal yang harus dipatuhi oleh siapa saja yang berwenang (pejabat, guru,...) tidak boleh menerima apa pun dari orang yang punya kepentingan dengan mereka. Dan harap diketahui, sangat jarang orang memberikan hadiah (apalagi dalam jumlah yang sangat besar: uang ratusan juta bahkan miliaran rupiah, mobil, rumah, dan lain-lain) tanpa ada maksud. Yang perlu diingat adalah orang yang mereka beri hadiah adalah orang yang mempunyai hubungan kerja/ bisnis dengan mereka. Orang yang mereka beri hadiah bukanlah orang miskin (jadi tidaklah tepat memberi hdiah kepada orang yang sudah mampu). 

Jika ingin berbagi, banyak yayasan sosial, banyak anak yatim piatu, banyak panti asuhan, banyak orang miskin yang tak mampu berobat, banyak korban bencana alam, dan lain-lain. Jika Anda memang dermawan yang suka berbagi, itu tempat yang tepat. 

Wanita cantik (entah masih gadis atau janda) yang tergolong mampu (tidak di bawah garis kemiskinan), tidak perlu-lah diberi mobil atau uang puluhan atau bahkan ratusan juta. 

Pejabat tidak boleh menerima uang atau barang dari orang yang punya kepentingan dengan dirinya. Bukan hanya uang dan barang (mobil, rumah, dan lain-lain yang bisa dikategorikan gratifikasi), sekarang ada gratifikasi seks.

Karangan bunga atau sekedar parsel lebaran pun tidak boleh. Ingat, manusia bukanlah robot. Tidak ada pemberian yang cuma-cuma, tidak ada manusia yang bisa objektif memutuskan sesuatu setelah ia menerima banyak pemberian. Bagaimana logika berpikir Anda tentang pendapat penulis ini???
0 Responses

Poskan Komentar

abcs