Barang "Rusak" Lebih Mahal Daripada Barang Baru

Ini cerita ketika penulis tinggal di Jakarta. Penulis ikut saudara sepupu yang membuka usaha sablon. Salah satu kenalan sepupu penulis mempunyai usaha konveksi, tentu tahu banyak tentang dunia ini. Ini penulis ceritakan kembali dari obrolan kami.

Konsumen di Indonesia suka sekali dengan produk yang bernuansa impor dan ekspor. Impor artinya itu produk dari luar negeri yang umumnya terkenal berkualitas bagus. Lalu ekspor tentu barang berkualitas dong baru diterima di luar negeri sana.

Di tangan orang kreatif (yang berpikir kreatif, meski untuk kasus ini penulis tidak sependapat dengan ulah kreatifnya), selalu ada jalan untuk mendapatkan uang.

Anda tentu sudah tidak asing lagi mendengar barang palsu/ merek palsu. Hampir semua produk yang laris di pasaran, ada saja produk palsunya. Contohnya celana jeans merek Levi's. Banyak produk palsunya dan dijual dengan harga murah (mungkin sekitar separuh harga). Andai harga produk asli Rp 600.000, yang palsu harganya sekitar Rp 200.000- 300.000.

Pembeli biasanya cerewet menawar harga karena jelas barang yang dijual adalah produk palsu meski semua asesories (kancing, resliting, merek,...) sudah dibuat persis sama dengan yang asli (hanya yang berpengalaman yang bisa tahu mana yang asli dan mana yang palsu). Harga jual bisa jadi sampai Rp 150.000.

Bagaimana cara menaikkan harga jual produk palsu ini? Di sinilah pikiran kreatif itu bekerja. Mengatasnamakan "produk reject" (tak lolos sensor untuk diekspor), barang ini bisa dijual dengan harga lebih mahal daripada ditawarkan dengan nama "produk palsu".

Pembeli dari luar negeri (buyer) terkenal dengan kontrol kualitas yang sangat teliti. Produk yang cacat pasti dikembalikan, bahkan terkadang mereka mengirimkan barang lain yang ikut terkirim dalam produk seperti: beberapa helai rambut, isi staples, karet gelang, potongan kuku (bukan alat pemotong kuku lho, tapi potongan kuku) disertai tulisan: Kami tidak memesan ini.

Produk celana merek terkenal yang dipalsukan ini dijual dengan sebutan "produk reject" atau bisa juga "sisa ekspor" agar menarik pembeli. Kalau barang palsu ditawarkan dengan harga Rp 200.000-300.000, maka yang ini bisa ditawarkan dengan harga Rp 300.000-an dan laku. Kok bisa begitu? Di benak pembeli, ini produk asli, hanya tak layak diekspor karena ada kerusakan kecil. Asal Anda tahu saja, kerusakan ini sengaja dibuat!

Ada kancing yang tidak utuh (tidak lingkaran sempurna karena pecah sedikit di pinggirnya, pegangan resliting yang pecah sedikit ujungnya), ada tumpahan tinta sedikit di merek-nya, ada bagian tersembunyi yang tergunting sedikit. Semua cacat ini dibuat agar tidak merusak penampilan pemakainya (tak terlalu terlihat). Bila kemeja, merek yang ada di kerah  tergunting atau tertetes tinda sedikit, bagian paling bawah kemeja di sisi kiri atau kanan tergunting atau kotor karena tinta (jika saat dipakai kemeja dimasukkan ke dalam celana tidak akan terlihat cacat-nya). Semua cacat sengaja dibuat. Ketika pembeli menemukan cacat ini akan berujar "Oh ini cacatnya sehingga tak layak ekspor. Nggak apa deh, saya ambil saja. Lumayan dapat barang asli tapi murah."

Gila-nya lagi, ternyata produk asesories merek terkenal yang sengaja dibuat cacat pun ada yang jual untuk keperluan ini. Anda mau beli kancing yang cacat sedikit pinggirnya, label merek terkenal yang ditetesi tinta, resliting yang pegangannya rusak sedikit,... semua tersedia. Benar-benar kreatif!
0 Responses

Poskan Komentar

abcs