"Kita Tidak Bisa Memilih..."

Kita tidak bisa memilih terlahir sebagai suku apa, agama apa, orangtua yang mana,... Pernahkah Anda memikirkan hal ini??? Coba baca ini (klik saja):  Ridwan Saidi: Kita Tidak Bisa Memilih Terlahir Dari Suku Apa

Ya, kita tidak bisa memilih. Jika kita bisa memilih atau boleh memilih, pasti kita akan memilih terlahir di keadaan yang menguntungkan. 

Lahir dari keluarga kaya raya, wajah tampan/ cantik, otak pintar, terlahir sempurna (tidak cacat). Lahir di suku yang menjadi mayoritas pada negara tersebut, di keluarga yang beragama mayoritas dengan orangtua yang kuat mengenal agama tersebut. Jadi kecil kemungkinan kita mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan.

Sayangnya kita tidak bisa memilih. Agama yang kita anut, mayoritas adalah agama turun temurun (sama dengan agama orangtua kita). Apa agama orangtua kita, itu yang diajarkan kepada kita. Memang ada yang setelah dewasa pindah agama, tapi jumlahnya sangat kecil daripada orang yang agamanya sama dari lahir hingga ia meninggal. 

Peluang pindah agama pun bisa jadi sangat kecil jika dalam agama disebutkan pindah agama itu sesuatu yang sangat tidak disukai.

Nah... menyadari satu kalimat ini "Kita tidak bisa memilih terlahir sebagai suku, agama apa, dari orangtua dan negara mana,..." seharusnya kita bisa lebih toleran menerima apa pun agama, suku, adat istiadat, bahasa, dan lain-lain yang tidak sama dengan kita. 

Jangan membenci dan memusuhi orang yang berbeda agama dengan kita, jangan membenci orang yang beda suku/ etnis dengan kita. Coba pikirkan "Bagaimana jika Anda yang berada di posisi mereka? Anda terlahir di suku/ etnis yang minoritas di negara tersebut, agama Anda pun termasuk agama minoritas,..." Penulis yakin, Anda tentu ingin diperlakukan secara adil dan mendapat perlakuan yang sama.

Semua agama mengajarkan kebaikan. Pemeluk agama apa pun merasa agama mereka-lah yang terbaik (setidaknya bagi dirinya sendiri). Kalau agamanya bukan yang terbaik, tentu ia sudah pindah ke agama lain.

Jadi, terlahir sebagi suku/ ras apa pun, agama apa pun, cantik/tampan atau jelek, "sempurna" atau cacat,... bukan pilihan yang bersangkutan. Adilkah jika ia mendapat perlakuan diskriminatif sedangkan semua itu bukan keinginannya?

Kita dinilai dari kerja (tindakan kita). Jika seseorang meraih prestasi, wajar dia diapresiasi. Jika ia berbuat jahat (mencuri, membunuh, korupsi,...), wajar ia mendapat hukuman. 

Nah... jika ia ditakdirkan lahir sebagai (maaf, hanya sebuah contoh) orang Afrika yang kulit gelap, pantaskah kita mencaci maki dan memperlakukannya secara diskriminasi??? Apa pun suku/ ras-nya, apa pun agama-nya, itu bukan pilihan, itu takdir-nya. Kita tidak boleh memperlakukannya secara diskriminatif. Kalau sesorang berbuat jahat (kriminal), wajar bila ia dihukum, apa pun suku/ rasnya, apa pun agamanya,...

Cara termudah ber-empati (menerima dan mengerti keadaan orang lain) adalah bertukar posisikan (memposisikan diri kita sebagai dia yang mendapat perlakukan tidak menyenangkan). 

Apakah saya bersalah lahir sebagai suku/ ras ini, apakah salah saya lahir sebagai pemeluk agama ini??? 

Cobalah berpikir jernih dan renungkan hal ini...
0 Responses

Poskan Komentar

abcs