Kalau Urusan Uang, Tidak Ada Saudara!!!

Uang memang mahadahsyat pengaruhnya. Apa pun akan dilakukan, siapa pun yang jadi penghalang akan dihancurkan, Tuhan pun tak takut dilawan. Anda pasti sudah pernah membaca kisah tentang ini

Penulis mengalami langsung mahadahsyatnya pengaruh uang ini. Kisah ini terjadi di lingkungan keluarga besar kami. Masih tentang Bibi Mecin (baca dengan cara klik: Banyak Teori Tapi Tak Bisa Beri Bukti).

Sewaktu kakek penulis (yang memiliki 7 anak: 4 putra, 3 putri --> 1 putri tinggal di Hongkong, lainnya di Indonesia) masih hidup, beliau menulis surat wasiat yang isinya kurang lebih seperti ini: Ada 2 ruko, satu ruko untuk anak laki-laki, sebut saja namanya Safei, satu ruko lagi untuk 2 orang (sebut saja namanya Bibi Cincin, adik perempuan Papa yang tidak menikah  dan Papa, 50%-50%). 

Yah, 1 ruko untuk Safei, 1 ruko lagi bagi dua untuk putra sulung dan putri bungsu. Harap maklum saja penulis tidak bisa menuliskan secara detail apa isi surat wasiat itu karena ditulis dalam huruf kanji (China). Penulis buta aksara China.

Di awal ketika surat wasiat ini diketahui anak-anak, Bibi Mecin mengeluarkan kata-kata pedas yang tak pantas ke Papa penulis "Pasti kamu memaksa Papa menulis surat wasiat ini!"


* * * * * * * * * * *

Lama tak terdengar kabar lagi tentang surat wasiat ini. Hidup terus berjalan. Bibi Cincin yang menyadari bahwa ia tak punya pendamping dan anak, kepada siapa ia akan menggantungkan hidup? Pilihannya jatuh ke keluarga Safei yang rukonya persis bersebelahan dengan ruko yang kelak 50% jadi miliknya. Cincin pun mulai menyiapkan segala sesuatunya. Perhatian Bibi Cincin kepada kami (anak-anak Papa) dan anak-anak bahkan saudara jauh Safei terlihat jelas perbedaannya. Kami jarang dapat hadiah, sedangkan anak-anak bahkan saudara jauh Safei (saudara dari istri Safei) mendapat banyak hadiah. Yah... dengan demikian yang dilakukan Bibi Cincin, ia berharap kebaikannya nanti nanti akan mendapat balasan (ia akan dirawat di usia tuanya kelak).

Kami sekeluarga akhirnya pindah ke Bandung. Urusan 50% ruko sudah tak bisa diharapkan. Jangankan dapat 50%, semula Papa diberi tempat berjualan di ruko tersebut, makin hari semakin digusur. Tempat dipersempit, fasilitas dikurangi. Sampai akhirnya semua barang dagangan Papa dikeluarkan dari ruko dan hanya boleh jualan di depan ruko. Akhirnya listrik pun tidak diberikan, hingga akhirnya Papa yang berjualan alat listrik (lampu) mendapat listrik dari toko tetangga (terima kasih buat Om Ming Hay, papanya Chrisfian alias Fei-Fei). 

Bayangkan saja, ruko yang berdasarkan wasiat dari kakek penulis, 50% jatah Papa penulis, akhirnya Papa penulis diusir dari ruko (tak boleh berjualan di ruko itu). Hanya boleh di emperan toko. Hingga akhirnya, lampu depan ruko setiap malam listriknya sengaja dipadamkan. Jualan alat listrik 9lapu dan lain-lain) di waktu malam tanpa listrik. Bukan cuma gelap, tidak bisa tes apakah lampu yang dijual itu nyala atau tidak! Justru listrik didapatkan dari tetangga!

* * * * * 

Entah itu ulah Safei atau Bibi Cincin. Akhirnya Papa pindah ke Bandung, meninggalkan kota LL (Sumsel). Ruko yang 50% punya Bibi Cincin dan 50% milik Papa mungkin jadi100% punya Bibi Cincin (nantinya). 

Lama tak dapat kabar, akhirnya penulis dapat kabar Bibi Cincin dan Pak Safei tidak akur. Info yang penulis dapat, Bibi Cincin yang tadinya "mengusir" Papa penulis dari ruko itu juga mendapat "karma" yang sama. Siap terbuang di sisa hidupnya.

Tiba-tiba saja Bibi Mecin turun tangan dan mencari Papa penulis. Apakah Papa menyimpan surat wasiat dari almarhum kakek penulis? Surat wasiat, yang dulu kata Bibi Mecin ditulis oleh kakek atas paksaan Papa penulis. Dulu awalnya semua tak mau mengakui surat wasiat itu karena tak ingin Papa penulis dapat bagian 50% dari ruko itu. Sekarang, ketika butuh uang untuk hari tua, surat wasiat itu diakui.

Surat aslinya tak tahu di mana. Tapi Papa penulis punya foto copy-nya. Ini jadi kabar gembira buat mereka. Bibi Cincin yang nyaris terusir dari ruko miliknya punya peluang mendapatkan ruko itu. Dengan senjata foto copy surat wasiat ini dan bantuan para sesepuh keturunan Tionghua di kota LL akhirnya ruko ini bisa diambil kembali. Semua anak diajak berunding dan ditanya, apakah benar ini surat wasiat tulisan tangan Ayah kalian? Semua mengakuinya. Jadi surat wasiat dinyatakan sah dan akhirnya Pak Safei pun "terpaksa" menyerahkan ruko itu. Untuk urusan ini Papa penulis harus bolak-balik Bandung-LL.

Tiba-tiba terdengar kabar, ruko itu berhasil dijual seharta Rp 1,125 miliar. Apakah Papa penulis dapat? Itulah yang tertera pada judul tulisan ini: "Kalau Urusan Uang, Tidak Ada Saudara."

Tidak ada cerita 50%-50%. Tidak ada cerita bagaimana "jasa foto copy surat wasiat" itu hingga akhirnya 1 ruko berhasil diambil alih. Bibi Mecin dan Bibi Cincin menghilang, konon kabarnya ke kota Madiun.

Teman-teman Papa penulis di LL mungkin ada yang tidak percaya jika Papa penulis tidak mendapat bagian 50% dari penjualan ruko itu. Padahal jika Papa mendapat jatah 50% tentu saja beliau tidak akan melupakan jasa para sesepuh dan teman-teman di kota LL yang tetlah membantu menyelesaikan konflik perebutan warisan ini. Pasti beliau akan ke kota LL untuk membagi kebahagiaan ini. Setidaknya traktir makan-makan. Sekarang, jangankan uang untuk traktir makan, ongkos pulang pergi Bandung-LL pun tak ada gantinya. Padahal bolak-balik Bandung-LL, Papa penulis pakai uang sendiri dan semua ini untuk "merebut" kembali 1 ruko dari tangan Safei (ada jatah bibi Cincin di dalamnya).

Jadi pada kesempatan ini, penulis menegaskan bahwa: Papa penulis tidak menerima serupiah pun uang dari penjualan ruko tersebut. Begitu ruko dijual, Bibi Mecin dan Cincin menghilang begitu saja.

Tulisan ini penulis buat di blog ini bukan untuk menagih 50% uang penjualan ruko kepada Bibi Mecin ataupun Bibi Cincin, hanya sekedar menuliskan sejarah yang terjadi. Sebuah pelajaran sangat berharga tentang serakahnya manusia bila berhadapan dengan uang! Tidak pandang orangtua sendiri (yang melahirkan mereka), saudara kandung, anak, apalagi sekedar seorang sahabat, manusia bisa berubah menjadi "harimau" yang akan memangsa siapa pun yang menghalanginya untuk mendapatkan uang tersebut.

Apa pun agama Anda, di mana pun Anda tinggal, yakinlah bahwa apa pun yang Anda lakukan, tidak akan ke mana-mana. Semua akan kembali kepada Anda. Semua akan diperhitungkan di dunia ini atau nanti setelah maut menjemput Anda. Anda akan diadili seadil-adilnya setelah Anda mati atau tabungan perbuatan Anda-lah yang menentukan bagaimana kehidupan Anda kelak. 

Terakhir penulis dapat kabar dari Papa penulis, Bibi Mecin pernah menelepon ke Papa penulis "Saya dengar kabar di Bandung terjadi gempa ya?" Papa penulis yang mengenali suara itu dari adiknya (Mecin) langsung mengatakan "Anda tidak perlu pura-pura baik. Kita memang saudara kandung, itu tak mungkin berubah. Tapi apa pun yang terjadi padamu, tak perlu memberi kabar pada saya. Apa pun yang terjadi pada saya, saya pun tidak akan mengabari Anda."

Kalau urusan uang, memang tidak ada saudara. Meski itu adik atau kakak kandung, bahkan orangtua kandung. Tak peduli latar belakangnya sebagai seorang pendidik (guru), urusan dunia, semua orang bisa gelap mata.


Kesimpulan:

  1. Awalnya, semua tak mengakui surat wasiat itu, seolah surat wasiat itu tidak sah. Bibi Mecin memfitnah dan mengatakan, surat wasiat kakek tulis atas paksaan Papa penulis. Semua kompak agar Papa penulis tidak dapat warisan.
  2. Ketika butuh uang untuk hari tua (entah karena kalah judi atau apa), semut-semut pun sudah tidak kompak menyatakan surat wasiat itu tidak sah. 
  3. Cari surat wasiat (karena tak tahu dokumen asli tersebut ada di mana).
  4. Papa penulis punya foto copy-nya
  5. Satu ruko (jatah 50%-50%) berhasil diambil alih berkat foto copy surat wasiat dan campur tangan para sesepuh.
  6. Setelah dapat dan ruko berhasil dijual, langsung menghilang bagai ditelan bumi.
  7. Jangan mudah percaya siapa pun di dunia ini jika sudah berurusan dengan uang.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs