Banyak Teori Tapi Tak Bisa Beri Bukti

Sewaktu kecil, penulis segan mampir ke rumah sekaligus toko milik kakek (dari pihak Papa). Penulis sering ditegur oleh Bibi (sebut saja namanya Mecin). "Hei... kamu tidak bisa menyapa ya?" begitu kata bibi Mecin pada penulis. 

"Setiap bertamu, kamu harus menyapa pemilik rumah, Paman, Bibi, Kakek, Nenek..." lanjut bibi Mecin. Memang bagus sih, memang seharusnya seperti itu. Mengajarkan sopan santun/ tatakrama kepada kami, keponakannya. Penulis memang tidak terbiasa bertegur sapa seperti ini. Penulis lebih terbiasa memberi salam saat akan pulang. "Bi saya pulang... Paman, saya pulang... Kakek saya pulang... Nenek saya pulang" begitu kebiasaan penulis.

"Ketemu orang yang lebih tua harus sapa dengan hormat, Kak, Mbak,... Harus jadi anak yang tahu sopan santun" ceramah Bi Mecin di lain kesempatan.


* * * * * * * * * * *

Di kota lain, Bibi dari pihak Mama juga demikian, sebut saja Lilin. Maklumlah, Bibi Lilin dan suami adalah guru (jiwa pendidik) ada dalam darah mereka. Kalau lupa disapa, Paman saya bisa uring-uringan selama penulis ada di sana. 


* * * * * * * * * * * 

Berteori memang gampang, tinggal omong doang. Perkara si penutur yang bicara teori keren tapi tak punya bukti, itu urusan belakang. Ini juga yang terjadi pada 2 Bibi penulis tadi. 

Papa penulis adalah anak nomor 2, tapi sulung (cewek) tinggal di Hong Kong, jadi praktis Papa penulis adalah anak tertua yang ada di Indonesia. Sekedar info saja, di antara 5 adik Papa penulis, hanya si bungsu (yang sekolahnya paling rendah, SD tak tamat) yang menyapa Papa penulis diawali dengan sebutan Kakak! 

Adik yang lain (bahkan ada yang juga jadi guru), menyapa Papa penulis dengan memanggil namanya saja! Tentu saja termasuk Bibi Mecin! Anehnya, yang paling bungsu (yang pendidikannya paling rendah) justru yang paling sopan, setidaknya ia memanggil nama Papa penulis dengan awalan Kak. Bagaimana nih Mecin? Ups... penulis jadi kena virus tidak sopan nih.


Bagaimana dengan keluarga Bibi Lilin? Ternyata juga menunjukkan fakta yang mengejutkan.

Dari pekerja tokonya, penulis mendapat info bahwa anak laki-lakinya pernah bertengkar hebat dengan Papanya. Saaat itu sang anak pernah hampir atau mungkin sudah dipukul Papanya, dan sejak saat itu ia tidak pernah menyapa Papanya meski mereka satu rumah! Wow... Saat hal ini dikonfirmasi kepada Bibi Lilin? Ia membantah, tapi faktanya memang demikian. Selama penulis main di rumah Bibi Lilin, sang anak memang tidak pernah bertegur sapa dengan Papanya.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs