Cerita Tentang Hobby (Bagian 1)

Apa hobby Anda? Tentu sangat beragam. Dulunya penulis hobby filateli (mengumpulkan prangko) dan correspondence (surat-menyurat) yang akhirnya diabadikan menjadi bagian dari nama penulis. Sekarang hobby menulis, menonton, dan main sulap. Kalau sudah hobby, memang susah didiskusikan dengan akal sehat.

Maksudnya? Ya, jangan Anda katakan orang tersebut "bodoh" karena rela merogoh kocek hingga ratusan juta untuk seekor burung misalnya. Atau rela menghabiskan uang banyak untuk pergi jauh ke sungai, dengan resiko digigit nyamuk atau bahkan ular, demi hobby-nya memancing. Atau hal "konyol" lainnya. Apa mau dikata, namanya juga hobby!

Hobby umumnya tidak bisa direncanakan atau diatur. Mungkin hobby bisa terpengaruh dari orangtua atau teman atau lingkungan, tapi jarang rasanya seseorang akan memilih atau merencanakan akan memilih hobby ini saja. Kalau ia sudah "jatuh cinta" pada hal itu, ya seperti yang disebutkan di atas, orang jadi tidak peduli soal  apa pun. Tidak lagi menghitung untung ruginya, tidak peduli besok harus kerja, mata sudah mengantuk, kalau sudah hobby nonton sepakbola, segala cara diupayakan. Minum kopi, kumpul bareng teman, dan lain-lain, yang penting bisa menonton pertandingan sepakbola, apalagi tim kesayangannya yang bertanding.

Itu juga yang penulis alami. Kalau sudah hobby filateli, harga prangko yang mahal, tetap saja dibeli. Kalau di jalan atau bahkan di tempat sampah melihat ada amplop berprangko, penulis akan mengambilnya. Kalau sudah mampir ke kantor pos saat mengirim surat dan mampir ke bagian filateli, pasti tak tahan jika tak membeli prangko dan SHP (Sampul Hari Pertama) untuk menambah koleksi.

Itu dulu... Ketika teknologi semakin maju, surat-menyurat tidak lagi jadi hobby karena email, SMS, BBM, dan yang lain sudah menggantikannya. Otomastis prangko juga tidak diminati? Oh...bukan. Filateli tidak lagi serius digeluti karena "putus asa" ketika rumah kontrakan penulis habis terbakar. Semua koleksi surat, foto sahabat pena, dan prangko milik penulis (dari prangko bertulisan Nederland Indie, sebutan Indonesia di zaman penjajahan Belanda, prangko bergambar Presiden Soekarno, koleksi prangko bergambar Presiden Soeharto dari nominal Rp10 hingga Rp 500, koleksi prangko lambang provinsi 27 provinsi lengkap, dan lain-lain, termasuk prangko luar negeri tentunya), habis terbakar!

Sekarang? Kalau ketemu atau diberi prangko bekas, ya masih dikumpulkan, tapi jika harus keluar uang untuk beli lagi? Tidak akan! 


Bersambung ke bagian ke-2: Cerita Tentang Hobby (Bagian 2)
0 Responses

Poskan Komentar

abcs