Setia dan Tidak Setia

Asyik nih bicara tentang setia dan tidak setia (soal kesetiaan). Jangan salah sangka dulu, ini sama sekali tidak ada hubungan dengan pasangan hidup.  Ini soal kesetiaan penulis pada operator ponsel (telepon seluler).


Setia
Soal kesetiaan pada operator ponsel, penulis termasuk orang yang setia. Sejak awal memiliki ponsel (sekitar tahun 1997) penulis setia menggunakan operator ponsel yang sama hingga detik ini. Nomor yang digunakan pun masih sama dengan nomor perdana yang penulis beli seharga Rp 150.000 (pulsa hanya Rp 10.000 kalau tak salah ingat).  

Sekarang nomor perdana sangat murah bahkan cenderung gratis (kecuali nomor cantik tentunya). Bahkan terkadang harga perdana dengan isi pulsa, lebih besar isi pulsanya. Perdana dengan pulsa Rp 5.000 bisa dibeli dengan harga Rp 3.000!

Saat itu, bangga rasanya jika punya ponsel. Maklum saja, dulu ponsel atau biasa dikenal dengan istilah HP (Hand Phone) masih termasuk barang mewah. Kalau bukan karyawan kantoran dengan gaji lumayan, tidak mungkin punya ponsel.

Bukan saja setia kepada operator ponsel, penulis termasuk pengguna setia ponsel N (bahasa Sunda-nya Nukieu). Layarnya kecil dan masih hitam putih (belum berwarna-warni seperti sekarang). Hanya bisa telepon dan SMS saja. Eh ya, games ada tapi masih sangat sederhana. Meski beberapa kali ganti ponsel, sampai sekarang masih menggunakan merek yang sama.  Terkenal "bandel" dan tidak mudah rusak meski terjatuh. Dan yang pasti, saat itu, ponsel merek ini relatif mudah "ganti baju" alias casing jika sudah bosan, sementara yang lain tidak semudah itu. Di bawah ini, gambar ponsel pertama yang penulis miliki (warna kuning).



Zaman dulu, kalau ada telepon masuk dari teman di luar kota, jarang mau diangkat. Soalnya kena roaming (kena biaya jika menerima telpon dari nomor luar kota). SMS pun hanya bisa ke teman yang menggunakan operator sama. 

Saat itu ada fasilitas yang menawarkan bisa SMS lintas operator (lupa apa nama fasilitasnya). Tentu harus bayar lagi.  

Singkatan yang populer di masa itu GSM  (Global System for Mobile Communication), tapi lebih populer dengan kepanjangan berbahasa Indonesia: Goyang Sedikit Mati (GSM). Saat itu sinyal belum begitu bagus. Tidak heran jika melihat orang mengangkat ponselnya dan digerakkan ke berbagai arah untuk melihat di mana sinyal yang lebih bagus. Kadang harus keluar ruangan (mencari ruang terbuka) agar bisa mendapat sinyal yang bagus. Saat bertelepon, jangan banyak melakukan gerakan agar komunikasinya lancar, soalnya Goyang Sedikit Mati (GSM). Hehehe

Mengapa tidak pernah ganti operator ponsel? Karena penulis tidak tahu nomor tersebut sudah menyebar ke mana saja. Dari teman ke teman, tentu sudah sangat banyak yang mencatat nomor tersebut di memori ponsel-nya. Begitu ganti, tentu harus mengontak banyak teman untuk memberitahukan bahwa penulis sudah ganti nomor ponsel. Jadi biarlah nomor tersebut dipertahankan sampai sekarang. Penulis termasuk tipe setia.


Cerita soal ponsel dan operatornya, sekarang sudah jauh berbeda:
  1. Merek ponsel sudah sangat banyak, modelnya makin keren, makin tipis, layar berwarna-warni, fasilitas lengkap (telepon, SMS, MMS, kamera, video, internet, dll).
  2. Nomor perdana murah, operator ponsel makin banyak, sinyal makin bagus.
  3. Kalau dulu, yang punya ponsel bisa dipastikan "orang kaya" tapi sekarang dengan semakin murahnya ponsel, anak TK, tukang becak, penjual jamu keliling, sampai pemulung pun punya ponsel. Ponsel sudah bukan barang mewah (mungkin untuk ponsel spesifikasi tertentu masih termasuk barang mewah). 
  4. Tarif SMS dan menelepon juga jadi lebih murah karena "perang harga" antar operator ponsel.  


Tidak Setia
Sekarang penulis juga pengguna Blackberry (BB) karena kemudahan komunikasi dengan BBM-nya. Tidak dihitung sekali BBM bayar sekian, tapi paket per bulan. Jadi jika mengetik pesan tidak lagi harus sampai 1 halaman penuh (160 karekter baru dikirim) agar hemat. Dua huruf langsung dikirim pun tidak masalah. Misal: OK langsung enter, tidak masalah.

Semula pakai paket Gaul dari sebuah operator ponsel. Penulis juga setia isi pulsa Rp 50.000 per bulan untuk fasilitas BBM dan FaceBook (FB). Sejak pertama punya BB, hampir 1 tahun selalu setia pakai operator tersebut. 

Tapi ketika tahu seorang teman selalu berganti nomor ponsel saat telepon, penulis bertanya. Kok ganti nomor terus? Ya, pindah terus mengikuti operator ponsel yang sedang promo. 

Oh... begitu. Benar juga ya? Kok tak terpikir sih? Akhirnya penulis ikutan tidak setia. Semula XL biasa (isi Rp 50.000 untuk1 bulan), lalu XL promo (ganti nomor baru Rp 100.000 per 3 bulan, itu bukan paket gaul tapi full service yang biasanya Rp 100.000 per bulan). 

Kalau paket ini habis? Siap pindah ke Three yang menawarkan Rp 125.000 full service untuk 6 bulan. Untuk operator BB, kesetiaan itu sudah tidak ada lagi. Untuk apa setia dan mempertahankan nomor tersebut karena nomor tersebut tidak pernah dipublikasikan (bahkan nomor berapa yang sedang dipakai di BB pun penulis tidak tahu).  Yang dipakai untuk keperluan kontak dengan sesama pengguna BB adalah pin BB, bukan nomor ponsel-nya. 

Jadi maaf saja operator ponsel, saya tidak akan setia jika ada operator lain yang beri tawaran lebih murah. Penulis akan selalu pindah ke lain hati karena setelah gonta-ganti operator ponsel kecepatan akses internetnya kurang lebih sama saja. Jadi prinsipnya, "Jika ada yang lebih murah, untuk apa bayar lebih mahal???
0 Responses

Poskan Komentar

abcs