Cerita Tentang Hobby (Bagian 2)

Anda bisa baca bagian pertama di: Cerita Tentang Hobby (Bagian 1) 

Hobby umumnya terjadi begitu saja. Tidak direncanakan, tapi tiba-tiba saja "jatuh cinta" pada hobby tersebut. Kalau sudah hobby, tidak ada urusan dengan biaya mahal, tempat yang jauh, uang yang dikeluarkan tak sebanding,...

Tapi setelah koleksi penulis habis dilalap si jago merah, penulis jadi berpikir. Apakah untuk hobby harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar? Apakah bisa menekuni hobby yang tanpa biaya tapi tetap asyik?

Akhirnya penulis putuskan untuk mengumpulkan sesuatu yang tidak harus mengeluarkan uang tapi unik. Tidak memakan banyak tempat untuk menyimpan dan mudah perawatannya. Apa ya? Akhirnya penulis memutuskan untuk koleksi tiket (tiket kereta api, tiket obyek wisata,...). Unik juga lihat koleksi penulis yang warna-warni. Selain unik, ada kisah di potongan tiket (perjalanan kami sekeluarga). Jadi bagus juga keputusan penulis untuk jadi kolektor tiket. Tidak harus bayar karena koleksi tersebut memang kami dapatkan saat memasuki obyek wisata. Jadi penulis juga tidak perlu berburu potongan tiket obyek wisata yang tidak pernah penulis kunjungi. Ini bukan lomba banyak tiket, tapi lebih pada mendokumentasikan sejarah perjalanan kami sekeluarga.

Ada lagi nggak ya koleksi yang mirip (tak perlu biaya, mudah disimpan, dan mudah perawatannya? Ada. Penulis juga mengumpulkan pasir! Ya, pasir pantai yang pernah kami kunjungi. Keluarga kami memang tidak terlalu sering berwisata. Pasir disimpan di botol kecil (seperti botol souvenir pernikahan yang berisi kulit kerang kecil-kecil), baru ada 4 botol yakni pasir dari pasir dari Pantai Pangandaran (Pantai Batu Karas dan Pantai Pangandaran, lupa yang mana sisi timur dan baratnya), Pantai Ancol, dan Pantai Parangtritis. 

Lalu? Bisa juga botol bekas air mineral tapi yang khusus obyek wisata: koleksi ini baru 2: Candi Borobudur dan De Ranch. Koleksi ini tanpa target. Jadi bukan karena koleksi pasir maka wisatanya hanya ke pantai. Atau hanya akan ke tempat wisata yang mempunyai kemasan air minum merek sendiri.

Khusus koleksi tiket, ada yang tidak bisa dikoleksi yaitu tiket yang di-print seperti struk kartu kredit. Tiket bioskop ada yang seperti itu. Lama-lama tulisannya hilang. Lalu ada obyek wisata yang mengambil semua tiket dan tak menyisakan potongan tiket untuk pengunjung (silakan nego saja sama penjaga, saya kolektor tiket, boleh dong minta sobekan tiketnya).

Anda mengoleksi apa???




 Sebagian koleksi tiket obyek wisata milik penulis

Botol air minum De Ranch & Candi Borobudur 

Ternyata bisa kok me-manage hobby menjadi agar hobby tidak menghabiskan banyak dana (setidaknya bagi penulis) dan tetap menyenangkan. Hobby penulis ini bermotto: "Sambil menyelam, minum softdrink." Sama halnya dengan Anda yang gemar mengumpulkan pernak-pernik dari hotel (korek api, cotton buds, sikat gigi, pasta gigi, sabun, shampo, sandal, pensil, notes,...). Pada prinsipnya, penulis hanya "memotret" kenangan berlibur selain mengabadikan liburan dengan foto dan video. Jadi, tidak ada niat berlomba memperbanyak barang koleksi. Kalau koleksi bertambah, itu karena memang kami habis berlibur ke sana dan keputusan berlibur ke sana bukan karena tiket atau pernak-pernik lainnya, karena kami memang ingin berlibur ke sana.

Bagaimana pendapat Anda???
0 Responses

Poskan Komentar

abcs