Bicara dan Berpikirlah dengan Jernih

Sejauh yang penulis lihat dan baca dari media, kinerja Jokowi-Ahok sudah bagus (jauh di atas kinerja pejabat-pejabat pemerintah yang selama ini ada). 

Tapi begitulah manusia, susah untuk bisa netral dalam memberikan komentar. Komentar atau tepatnya dan kritik yang keluar, seringkali bukan murni dari diri sendiri tapi ada kepentingan lain yang bermain (biasanya berujung pada uang) atau bisa juga rasa sakit hati/ kebencian.

Penulis kutip kembali tulisan di awal artikel {klik saja: Tuan Makan Senjata (Mulut-mu, Harimau-mu)}
Ada orang yang sulit mengeluarkan uang. Anda akan menyebutnya apa? Hal itu sangat tergantung siapa orangnya.  



Dia kawan Anda. Anda akan mengatakan "Ia orang yang irit" lalu Anda akan mengemukakan berbagai alasan untuk mendukungnya.



Dia lawan (musuh) Anda. Anda akan mengatakan "Ia orang yang pelit" lalu Anda akan mengemukakan berbagai alasan untuk mendukung perkataan Anda.


  * * * * * * * * * * * 

Gaya blusukan yang murah meriah pun dikomentari negatif (mengapa tidak di kantor saja, habiskan biaya, tidak percaya bawahan, dan lain-lain). Silakan baca, klik link ini:  Jokowi Blusukan: "Pemerintah Kebobolan"


Untuk memperbesar tampilan, silakan klik pada gambar

Mereka yang bertugas di DKI Jakarta sudah tahu Pak Jokowi suka blusukan pun masih berani santai-santai dan tak menjalankan tugasnya. Bagaimana kalau hanya menerima laporan dari bawahan saja? Seperti kita ketahui, laporan yang masuk biasanya ABS (Asal Bapak Senang), semua berjalan lancar dan baik meski kenyataan tidak.

Masih banyak lagi komentar (baca: kritik pedas) untuk kinerja pasangan ini. Jika kinerjanya sush dikritik, apa saja dicari untuk memberi kesan negatif kepada pasangan ini.

Jokowi yang memang tidak suka menggunakan pengawal (voorijder) dan mungkin berjanji tak akan pakai pengawal, ketika ada urusan penting dan harus sampai tepat waktu, dengan terpaksa pakai pengawal, hal ini pun diributkan. Melanggar janji! Kita harus berpikir jernih-lah. Niat Pak Jokowi memang tak ingin protokoler, dekat dengan rakyat agar mudah menyerap aspirasi dan tahu permasalahan rakyatnya, beliau tak ingin pakai pengawal. Tapi harus diketahui, ketika ada urusan yang lebih penting untuk tiba tepat waktu dan ditunggu pejabat lebih tinggi sementara jalanan di Jakarta macet, apa ini tidak bisa dipahami?

Kita semua mungkin akan mengatakan, saya berjanji tidak akan membunuh (itu tindakan kriminal, melanggar hak asasi manusia dan seterusnya). Tapi ketika di tempat sepi Anda ditodong perampok yang juga akan membunuh Anda, tindakan bela diri dan jika sampai mengakibatkan perampok terbunuh, itu bisa dipandang sebagai pengeculian.

Penulis bingung dengan reaksi negatif orang-orang terhadap pasangan ini. Memindahkan PKL Tanah Abang (diberi kios dan gratis sewa selama 6 bulan) yang selama ini tidak pernah tersentuh pejabat sebelumnya dan semua tahu daerah itu sangat macet, ketika dilaksanakan secara manusiawi, banyak yang tetap mempersoalkan hal lain (bahasa yang keras dan dianggap tidak sopan, tidak persuasif, dan lain-lain). Selama ini para komentator ke mana saja? Tidakkah seharusnya hal lebih keras dilontarkan sejak dulu??? Apakah tidak tahu kalau jalan itu untuk kendaraan bukan untuk jualan? Apakah tidak tahu daerah itu macet? Apakah tidak pernah tahu PKL berjualan di jalan mana pun tidak pernah gratis memakai tempat itu (kalau bukan preman pasti ada oknum PNS yang memungut biaya)?

Ketika terjadi perseteruan Ahok dan H. Lulung, semua tiarap. Hanya Prabowo yang pasang badan membela Ahok. Ahok di posisi yang benar (menjalankan tugas, memfungsikan jalan raya agar tidak digunakan PKL, merelokasi mereka ke tempat yang layak) seolah berperang sendiri (nyawa sebagai taruhannya) melawan semua yang merasa dirugikan dengan kebijakan ini. Apa kerja pejabat sebelumnya sampai kemacetan demikian parah akibat ulah pedagang kaki lima??? Tidak tahukah mereka? Atau tidak mau tahu??? 
Bahkan sebuah stasiun TV mengangkat kasus ini dengan pengantar yang sangat provokatif. Seolah PKL benar: banyak menyerap tenaga kerja, tak banyak dibantu pemerintah, dan mereka yang punya hak asasi mencari nafkah kok akan digusur?

Begitu juga relokasi penghuni liar yang baru ada saat Jokowi-Ahok, pemindahan penghuni liar (menetap di lahan milik negara secara ilegal) diberi rumah gratis plus perabotan lengkap! Kalau zaman dulu, tinggal di-buldozer saja, terserah mau pindah ke mana. Sekarang setelah cara manusiawi ini dijalankan, masih ada juga yang tidak puas. Sampai ada yang lapor ke Komnas HAM, minta uang ganti rugi, dan lain-lain. Membangun rumah di tanah milik pemerintah secara ilegal (melanggar), mungkin tak punya IMB (kalau ada, siapa yang beri izin, pasti oknum pemerintahan masa sebelumnya), ketika diminta pindah dan diberi rumah plus isi, malah minta ganti rugi bangunannya. Tak terpikirkah bahwa selama ini pakai tanah negara sekian puluh tahun tapi belum bayar? Berapa biaya sewa plus denda selama sekitar 20 tahun?

Penulis tidak secara membabi buta membela Jokowi-Ahok, tapi cobalah berpikir sedikit jernih. Semua kebijakan demi kebaikan bersama, sebagian besar masalah yang ada di DKI Jakarta (banjir, macet, PKL di jalan, bangunan liar, dan lain-lain) adalah warisan belasan sampai puluhan tahun yang lalu. Mereka tidak menerima uang dari PKL atau pemilik bangunan liar, mereka hanya dapat warisan dari pemimpin sebelumnya. Ketika mereka menjalankan tugas sesuai koridor hukum, kok malah mencari-cari kesalahan untuk mengganjal mereka??? 

Lucunya lagi, baru menjabat beberapa bulan, terjadi banjir besar. Ramai orang protes dan menyalahkan Jokowi-Ahok. Padahal mereka sudah berusaha maksimal (kerja cepat), dan banjir masih terjadi. 

Saat banjir besar, Anda menyalahkan mereka. Tidakkah Anda berpikir sebaliknya, andai sekarang bukan mereka yang bergerak begitu cepat mencoba mengatasi banjir, apakah banjirnya "hanya" sebesar itu???

Apakah Anda tidak berpikir, sudah beberapa kali ganti gubernur pun tetap banjir (dan sekali masa jabatan gubernur itu 5 tahun), lha... 5 tahun saja (yang sudah sekian kali 5 tahun) dicoba ternyata masih banjir, bagaimana sekian bulan diharuskan bisa selesaikan masalah sekian puluh tahun??? 

Mari berbicara dan berpikir dengan jernih... Setelah itu bantu kerja mereka dengan tidak buang sampah sembarangan, disiplin berlalu lintas, dan usaha lainnya. Semoga Jakarta Baru segera bisa diwujudkan.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs