Sampai Kapan PLONCO Akan Dipertahankan???

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Anda setuju dengan kedua kata bijak ini? Penulis yakin, Anda setuju.

Kita sudah melihat banyak korban (baik yang luka-luka/ cedera, luka dalam, bahkan sampai meninggal) akibat per-plonco-an yang juga dikenal dengan nama: posma, mapras, ospek, mos, dan lain-lain.

Penulis heran, dulu acara seperti ini hanya di tingkat mahasiswa. Kemudian penulis melihat "kemajuan." Beberapa tahun lalu, anak SMA mulai ada yang berpakaian aneh-aneh saat awal masuk SMA. Lalu terakhir, anak SMP juga mulai menjalani ritual untuk menghormati senior ini. Kadang acara ini bukan hanya awal masuk sekolah/ kuliah, tapi juga di acara kelompok pecinta alam dan sejenisnya. Tidak hanya penyiksaan secara fisik, sering pula terjadi pelecehan seksual acara per-plonco-an.

Memang awalnya, hanya acara perkenalan dan pengenalan, tapi nantinya akan berujung pada acara per-plonco-an. Yang merasa senior senang sekali kalau junior hormat dan tunduk pada mereka. Sebagai orang lama, mereka merasa junior Kapan lagi punya kesempatan seperti itu? Sifat egois dan rasa ingin "dihormati" akan diwujudkan dalam kesempatan per-plonco-an itu.

Acara seperti ini tidak sepenuhnya bisa diawasi oleh guru (terbukti masih terus ada korban tewas yang berjatuhan). Anda ingat kasus-kasus praja IPDN yang tewas???

Penulis pikir, masih sangat banyak acara yang dapat dilakukan untuk perkenalan yang lebih bermanfaat. Pentas seni, ajang pencarian bakat seperti di TV, unjuk kebolehan para siswa murid baru yang pasti nantinya akan bermanfaat bagi sekolah dan semua (bisa mewakili sekolah/ kampusnya). 

Bisa lomba debat, lomba pidato bahasa Indonesia maupun Inggris, siswa diminta menampilkan bakat yang dimiliki (menyanyi, menari, sulap, akting, bela diri, dan lain-lain). 

Bangsa ini sedang krisis moral (banyaknya kasus korupsi). Atau kalau perlu, buat semacam pesantren kilat atau kegiatan keagamaan lainnya (MTQ, lomba kaligrafi, ceramah agama, atau yang lainnya) bagi yang muslim dan acara sejenisnya bagi yang nonmuslim.

Kalau memang ingin "menguji fisik" mahasiswa baru/ maba (bukan mengenalkan mahasiswa dengan cara belajar dan lingkungan barunya), sekalian saja bantu pemerintah. Misalnya lokasi universitas di Jakarta, sekalian saja bersihkan sungai, saluran air dari sampah, dan lain-lain. Atau bersihkan tembok dari corat-coret atau poster, iklan, dan lain-lain. Baik untuk mahasiswa, baik untuk kota dan masyarakat, baik untuk nama universitas. Baik bagi semua dan jauh lebih bermanfaat.  

Untuk universitas di Bandung, penulis rasa bisa coba hubungi walikota Bandung (Ridwan Kamil alias Kang Emil) jika memang ingin ospek lebih bermanfaat. Penulis yakin, Kang Emil pun akan menyambut baik. Coba perbantukan maba untuk membersihkan saluran air, membersihkan dinding fasilitas umum yang ditempel aneka poster iklan, merapikan taman, dan lain-lain. Menurut penulis, ospek dengan membantu pemerintah dalam menjaga kenyamanan, kebersihan, dan keindahan kota, jauh lebih bermanfaat daripada "sekedar menyiksa" maba dengan hasil yang tak bermanfaat (malah bisa berakhir dengan kematian). Atau kerja bakti di kampus sendiri.  

Contoh masa perkenalan mahasiswa yang layak ditiru (silakan klik):




Mau membimbing adik mahasiswa baru memasuki dunia baru (dulu sekolah sekarang kuliah, dulu guru sekarang dosen, dulu siswa sekarang mahasiswa, dulu lulus-nya terbatas, umumnya 3 tahun, kuliah umumnya 4,5 tahun tapi kalau pintas bisa mengambil SKS lebih banyak dan lulus lebih cepat, dan lain-lain)? Mengapa tidak mengundang psikolog untuk seminar atau pakar disiplin ilmu lain untuk membantu adik-adik Anda?  

Tidak perlu "menyiksa" secara fisik. Setelah lulus dari sekolah dan kuliah, mereka bukan disiapkan bekerja dengan kemampuan fisik seperti layaknya yang masuk jadi polisi atau TNI. Tidak perlu-lah banyak menu push up, sit up, squat jump, dan lain-lain. Apalagi pukul/ tendang perut dan dada sekeras mungkin, atau tampar pipi sesuka hati.

Jika Anda ingat video bagaimana praja IPDN dulu disiksa. Berdiri diam tak berani melawan dan perut atau dada-nya dipukul atau bahkan ditendang sekuat tenaga oleh senior. Penulis rasa, para atlet tinju atau beladiri yang lain pun tidak begitu latihannya. 

Petinju atau karateka dalam latihan, ada mitra tanding. Satu lawan satu, bagian tubuh mereka dilindungi dengan alat pelindung, ada aturan bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh dipukul, keduanya boleh bergerak bebas (melindungi diri jika lawan akan memukul), dan lain-lain. Plonco??? Satu junior boleh dipukul seluruh senior, bagian vital tubuh junior boleh dipukul, junior tidak boleh melindungi diri apalagi pakai alat pelindung, dan lain-lain.

Bagaimana logika berpikir senior (calon intelek) masa depan seperti ini? Yang profesinya memang kontak fisik terus pun (seperti petinju) tidak disiksa! Apalagi calon intelektual yang kerjanya lebih banyak menggunakan otak daripada otot. 

Proses penyiksaan ala plonco bukan untuk menghasilkan tubuh yang sehat. Anda dengan jelas bisa menyimpulkan hal itu. Apakah sekolah atau kampus memang dibuat untuk menghasilkan tenaga profesional dengan luka dalam dan manusia penuh dendam???

Jangan tanya mahasiswa yang sudah pernah di-plonco apakah setuju plonco dihapuskan, mungkin banyak yang tak setuju plonco dihapuskan karena mereka dulu sudah di-plonco, sekarang saatnya balas dendam. 

Kita memang sering belajar dengan biaya sangat mahal. Ketika pengendara mabuk menabrak pejalan kaki tak bersalah, barulah gencar razia pengemudi tanpa SIM, usia di bawah umur, tes mabuk atau tidaknya pengendara. Ketika kereta api menabrak dan mengakibatkan banyak korban kita baru berbenah (masih banyak pintu perlintasan yang tanpa palang pintu dan penjaga, masih banyak manusia yang tidak disiplin saat akan melintasi rel kereta api, masih banyak yang mengetik SMS atau ber-BBM saat mengendarai motor atau mobil), dan lain-lain. 

Plonco pun sebenarnya bukan baru kali ini memakan korban (korban bernama mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang Fikri Dolasmantya Surya, mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang). 

Mengapa kita (para pejabat yang berwenang) tidak bisa mengambil pelajaran dari tewasnya tunas bangsa dengan sia-sia ini? Ini bukan kejadian yang pertama. 

Jika kampus masih mengizinkan plonco berlangsung, seharusnya mereka berani bertanggung jawab ketika ada korban (baik luka sampai tewas). Tapi yang sering terjadi, pihak kampus selalu membantah ada tindak kekerasan dalam plonco. 

Herannya, pihak pemegang kebijakan di universitas "keukeuh" mempertahankan atau setidaknya mengizinkan plonco (atau apa pun namanya). Tapi ketika jatuh korban, semua berusaha cuci tangan dan lepas tangan. Mereka membantah ada tindak kekerasan, kadang menyalahkan mahasiswa yang melaksanakan plonco tanpa pengawasan, dan lain-lain. Jika memang tak yakin bisa mengawasi, mengapa "keukeuh" mempertahankan adanya plonco yang tidak berguna ini???  

Penulis teringat kata-kata Bang Napi pada segmen terakhir sebuah tayangan berita kriminal. "Ingat, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya tapi juga karena adanya kesempatan. Waspadalah... waspadalah..." 

Mungkin senior tidak punya niat menyiksa (sampai "membunuh") juniornya, tapi pihak universitas memberikan kesempatan kepada para senior memperlihatkan kekuasaan mereka (yang rata-rata memang "jago" di opspek tapi "tolol" ketika masuk perkuliahan).


* * * * * * * * * * *

Pada awalnya ospek atau apa pun namanya, konon kabarnya untuk membimbing anak SMA yang memasuki perguruan tinggi (dulu belajar masih harus disuruh, sekarang harus lebih mandiri), dan lain-lain. Tujuannya mulia sekali. Tapi lihatlah praktik-nya, sangat jauh dari tujuan. 

Pada masa penulis kuliah, penulis mengenalnya dengan nama Opspek (Orientasi program studi dan pengenalan kampus). Bagaimana ceritanya mengenalkan kampus tapi lokasi di luar kampus? Apa hubungan pukulan, tendangan, tamparan, dan aneka siksaan ala plonco (silakan lihat video di bagian bawah) dengan tujuan mulia senior membimbing junior? Pengalaman penulis waktu di-opspek dan jadi panitia opspek, jarang ada dosen yang mengawasi meski lokasi kegiatan di kampus (kejadian plonco di video di bawah juga terjadi di kampus seperti halnya kekerasan di IPDN dulu). Pihak universitas memberi izin, tidak mengawasi, ketika ada korban meninggal, saling menutupi, dan tak ada yang gentle angkat tangan dan menyatakan bertanggung jawab.
  
Penulis tidak jelas, di mana letak keuntungan pihak universitas atas diadakannya plonco ini sehingga tradisi ini terus dilestarikan meski korban jiwa sudah banyak??? Apakah ada kampus yang menjadi kampus favorit dengan alasan plonco-nya yang tersadis sehingga banyak mahasiswa yang antri masuk ke sana? Ataukah setiap tahun peringkat kampus terbaik dinilai dari keras dan sadisnya plonco yang dilakukan di kampus itu? 

Apakah hati nurani para pemegang kebijakan tidak tersentuh dengan tewasnya banyak tunas bangsa ini secara mengenaskan??? Atau masa bodoh saja asal jangan anggota keluarga saya???

 
* * * * * * * * * * *

Penulis jadi ingat saat acara seminar sewaktu kuliah dulu. Seorang pembicara menceritakan pengalamannya. "Melihat sudah ada cukup banyak korban jiwa akibat DBD, saya mengusulkan ke pimpinan agar diadakan penyemprotan. Tapi pimpinan tanya, sudah berapa korban. Saya jawab sekian (penulis lupa berapa jumlah korban meninggal), lalu pimpinan bilang, nanti saja. Saya bilang: Pak, kita tidak tahu siapa korban berikutnya. Bagaimana jika itu anggota keluarga kita. Pimpinan langsung menjawab, besok lakukan penyemprotan!"

Dikaitkan dengan kasus plonco ini, penulis berpikir, jika korbannya adalah anak orang berkuasa (pejabat) atau anak orang konglomerat, mungkin plonco akan bisa diakhiri. Haruskah kita berdoa agar ada korban plonco tewas dari kelompok ini? Ini bukan soal "doa" kita yang jahat. Tapi rasanya itu juga sia-sia. Anda yakin jika anak pejabat (setidaknya tingkat universitas) juga ikut plonco atau dapat perlakuan sama???

Semoga saja tulisan saya ini menggugah Anda untuk ikut andil menyuarakan STOP PERPLONCOAN karena itu tidak ada manfaatnya. Jika Anda merasa per-plonco-an memang banyak manfaatnya, kita malah usulkan jangan hanya dimulai SMP, di SD, TK,  bahkan PG atau kelompok bermain kita mulai agar anak-anak kita semakin cepat merasakan manfaatnya!

Anak yang kita pelihara dengan cucuran darah dan air mata ibarat biji mangga yang kita tanam (maaf jika perumpamaan ini tak sepenuhnya tepat karena sebagai orangtua, merawat anak seharusnya kewajiban tanpa pamrih, bukan soal untung rugi, sekarang menanam kelak memetik hasil). 

Pohon yang berawal dari biji (benih) kita pupuk, kita rawat, kita sirami, ketika pohon sudah besar dan siap berbunga dan berbuah, ada orang lain yang masuk ke halaman rumah kita lalu membawa kapak dan menebangnya secara semena-mena. Bagaimana perasaan Anda???


Sedikit catatan dari membaca berita plonco ITN:
  1. Buang air kecil dijaga panitia dan dihitung 1 sampai 3 harus keluar, banyak yang keluar dengan kondisi resliting belum ditutup, celana basah karena mungkin belum selesai, tidak sempat membasuh setelah buang air kecil.
  2. Tidak boleh mandi, badan dan baju dalam keadaan kotor (kena tanah, pasir, lumpur) tetap sholat seperti itu.
  3. Jatah makan pun dihitung dengan menu langganan berupa pecel ditambah sepotong tempe goreng. 
  4. Jatah minuman setengah botol air mineral kemasan 1,5 liter untuk sepuluh orang. Sedangkan, panitia biasa makan dengan lauk ikan laut tanpa batasan jumlah minuman. 
  5. Fikri dibanting dan ditendang

Berikut tautan berita tentang plonco yang bisa menambah referensi Anda, apa dan bagaimana plonco itu.

Silakan klik (jangan lupa baca juga komentar pembaca):

  1. Warga Marah dan Tak Tega Mahasiswa ITN Dipelonco
  2. Begini Brutalnya Pelonco ITN Versi Warga Sitiarjo
  3. Pelonco Maut ITN, Mahasiswa Tak Pernah Mandi
  4. Pelonco ITN (liputan majalah Tempo)
  5. Perpeloncoan di ITN Sudah Jadi Tradisi
  6. Orientasi di ITN, Mahasiswa Disuruh Aksi Hubungan Intim
  7. Wakil Rektor ITN Malang Akui Ada Kekerasan Seksual Saat Ospek
  8. Menguak Misteri Kematian Maba ITN Pada Kemah Bakti Desa Mahasiswa 2013
  9. Petisi Menuntut Keadilan Pada Kasus Kematian MABA Saat Ospek ITN 2013
  10. 10 Alasan Mengapa Ospek Harus Dihapuskan Dari Sistem Pendidikan di Indonesia 
  11. Ini Foto-Foto Penyiksaan Ala Ospek ITN
  12. Hasil Visum Fikri, Korban Pelonco ITN Dirahasiakan
  13. Mahasiswa Baru Perpeloncoan ITN Terima Ancaman 
  14. PDN (STPDN) Meminta Korban Plonco-an Lagi! 
  15. Prahara di IPDN Pasca Kematian Cliff
  16. Lagi, Praja IPDN Tewas: Mimpi Jadi Pejabat Pulang Jadi Mayat 
  17. Sejak 1993-2007, 35 Praja Tewas, Tiga Misterius - 18 Tewas dengan Dada Retak
  18. Praja IPDN Asal Medan Tewas (Ada Daftar 18 Praja yang Tewas Misterius) 
  19. Ini Dia Korban-korban Kekerasan di STPDN/IPDN (9 Orang) 
  20. STPDN/IPDN Hadir Untuk Mencetak “Mesin Pembunuh?” 
  21. Praja Tewas di "Kandang Macan" 
  22. IPDN: Olah Otot atau Otak?
  23. LUAR BIASA, Praja2 IPDN Pembunuh Wahyu Hidayat (2003) Itu Rupanya DIPELIHARA Negara!! 
  24. Alumni IPDN Terkait Terorisme, Pelaku Pembunuhan Wahyu Hidayat 
  25. Duh! 'Plonco' Masih Terjadi di Kediri 
  26. Siswa Senior Don Bosco Diduga Culik dan Plonco Juniornya
  27. Heboh!!! Beredar Video Ploncoan Santri Telanjang
  28. Trauma, Yunior Paskibraka Diperintah Push up Bugil di Atas Tubuh Rekan
  29. Perploncoan Nista Ala Paskibraka
  30. Empat Siswa Meninggal Saat MOS
  31. Tragedi MOS dengan Kekerasan (1)
  32. Tragedi MOS dengan Kekerasan (2)
  33. Kembali Siswa Baru Meninggal Karena MOS, Masih Pentingkah Diadakan MOS?
  34. Plonco, OSPEK, MOS, Apa pun Itu? HENTIKAN!
  35. Hentikan Kekerasan Pada MOS!
  36. Masih Perlukah MOS?


Baca buku "Mereka Membunuhku Pelan-Pelan" (pengakuan seorang praja IPDN melawan gerakan tutup mulut) dengan cara klik: "Mereka Membunuhku Pelan-Pelan"


Nama tunas bangsa yang meninggal akibat plonco (disusun sesuai abjad nama). Ini hanya sebagian saja:
  1. Amanda Putri Lubis (15)
  2. Anindya Ayu Puspita (16)
  3. Arfiand Caesar Al Irhami (16) 
  4. Cliff Muntu (20)
  5. David Richard Djumaati (18)
  6. Fikri Dolasmantya Surya (19)
  7. Muhamad Rajib (16)
  8. Padian Prawiro Dirya (16) 
  9. Roy Aditya Perkasa (16) 
  10. Soni Galaxi Putra (17)
  11. Wahyu Hidayat (20)
  12.  

Masihkah harus ditambah lagi???


Anda penasaran dengan bagaimana sih plonco? Coba tonton video berikut ini, sambil bayangkan putra yang Anda rawat sejak dalam kandungan hingga besar diperlakukan seperti ini:


Sumber: Polittika




Anda lihat kekerasan di video di atas (pukul perut, dada, tampar pipi), apa sisi positif hal ini??? Beginikah yang disebut membimbing mahasiswa baru??? Jika hal seperti ini masih terus terjadi, orangtua mana pun tak akan rela anaknya dikuliahkan meski kelak jadi menteri! Penulis juga merasa heran jika setelah melihat kekerasan seperti ini, masih ada yang membela/ pro plonco, menutup-nutupi kekerasan yang terjadi. Lebih parah lagi, ada perempuan (yang konon hatinya lembut, penuh kasih sayang) jadi senior yang ikut menyiksa mahasiswa baru. Jika Anda merasa gembira atas tayangan video di atas, penulis rasa ada yang "kurang beres" pada diri Anda.

Anda yang membaca tulisan ini punya 2 pilihan: membagikan kepada teman-teman Anda dan dukung penghapusan Ospek atau apa pun namanya yang jauh melenceng dari tujuan semula atau biarkan saja hal ini terus terjadi sambil terus berdoa dan berharap kakak, adik, keponakan, sepupu, atau cucu Anda tidak menjadi korban tewas akibat plonco.

Miris melihat tayangan video seperti di atas (ini mungkin hanya sebagian kecil rekaman yang terkuak, mungkin masih banyak kejadian tapi tak ada bukti rekamannya). Koruptor yang sudah merampok uang negara sekian miliar pun (jelas-jelas menyengsarakan rakyat) tidak "dibimbing" (baca: disiksa) sedemikian rupa, lha... ini mahasiwa baru yang tidak melakukan kesalahan apa-apa disiksa secara sadis sampai ada yang meninggal.


Tambahan (sumber: Tempo)

TEMPO.CO, Jakarta - Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau Ospek memang sudah lama dilarang sejak dikeluarkannya SK Dirjen Dikti no. 38/DIKTI/Kep/2000. Sebagai gantinya banyak sekolah mengubah nama kegiatan. Ada yang menjadi Orientasi Kehidupan Kampus (OKK), Masa Pengenalan Akademik (MPA) atau nama lain yang sifatnya mewajibkan siswa baru mengikuti acara yang diselenggarakan senior untuk pengenalan sekolah. Tetapi, ada kesamaan: tetap memakan korban. Tahun 2013 tiga orang tewas akibat kegiatan itu dengan berbagai motif.

Ternyata sudah dilarang, tapi masih berlangsung dengan pola sama, hanya berganti nama


Ingin berbagi tulisan ini? Ini tautan singkatnya: www.tiny.cc/STOP-PLONCO


Setelah tulisan ini dibuat, masih ada lagi korban yang jatuh (silakan klik):
  1. Ini Kesadisan Senior Dimas Dikita Handoko di STIP (tanggal berita: 26 April 2014) 
  2. Siswa SMA 3 Jakarta Tewas, Guru dan Senior di Eskul Pecinta Alam Diperiksa Polisi (tanggal berita: 21 Juni 2014)
  3. Siswa Sekolah Usaha Perikanan Tegal Tewas Dianiaya 3 Senior (tanggal berita: 23 Juni 2014)
  4. Korban Tewas Akibat Plonco di SMA 3, Tambah 1 Orang Lagi (tanggal berita: 3 Juli 2014)
  5.  
Jika tradisi perploncoan tidak dihentikan, "arisan" seperti ini masih terus berlanjut. Orangtua jadi selalu deg-degan, harap-harap cemas jika anak mereka masuk SMA atau kuliah, dan hanya bisa berdoa, semoga pada "kocokan arisan" tersebut bukan nama anak mereka yang keluar. 

Masih haruskah daftar nama korban terus bertambah???

0 Responses

Poskan Komentar

abcs