Banyak yang MAmpU, Hanya MAU atau Tidak MAU

Ketika Jokowi-Ahok terpilih jadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, ada pro dan kontra. Ada yang melecehkan dan menilai pasangan ini tak akan mampu mengurus Jakarta. Jakarta bukan Belitung, Jakarta bukan Solo.

Memang Jakarta berbeda dari kota asal pasangan yang dipercaya memimpin Jakarta ini. Kita berikan waktu dan dukung mereka untuk menuntaskan masalah yang sudah menumpuk dan parah ini (tumpukan masalah dari zaman gubernur sebelumnya).

Bagi penulis (mungkin berbeda menurut Anda), cara mereka bekerja sebenarnya tidak ada yang istimewa. Hanya menjalankan aturan yang sudah ada dan sudah diketahui semua gubernur (bahkan mungkin semua rakyat Indonesia).

Tidak boleh korupsi. Kita semua sudah tahu itu. PNS harus bekerja melayani rakyat dan bukan minta dilayani. Kita sudah tahu itu. Datang bekerja tepat waktu (bahkan sebelum jam masuk kerja), tidak menghilang setelah isi daftar hadir, tidak menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, tidak mempersulit segala sesuatu urusan birokrasi yang sebenarnya mudah. Kita semua sudah tahu itu.

Apa yang istimewa? Tidak ada. Yang membuat kinerja mereka terlihat istimewa adalah kinerja pejabat sebelumnya yang banyak berteori tapi sulit menjalankannya. Bilang antikorupsi, tapi saat korupsi ada dan nyata terjadi, tidak ambil tindakan nyata.

Jalanan tidak boleh dipakai untuk berjualan para PKL. Kita semua tahu itu. Tapi mengapa selama ini PKL di Tanah Abang tidak bisa ditertibkan? Entah di mana letak kesalahannya. Kalau dibilang tidak tahu, rasanya mustahil. Petugas (satpol PP ada), bahkan bila kurang bisa minta bantuan polisi dan TNI. 

Bukankah PKL itu manusia biasa yang sebenarnya bisa diatur jika pemimpinnya bijak? Mereka (PKL) bukanlah gangster atau teroris yang bekerja sembunyi-sembunyi,  bersenjatakan senjata otomatis dan bom serta tak mau mengerti. Masa' pemerintah yang diberi kuasa menertibkan PKL yang melanggar peraturan bisa kalah? 

Nyatanya sekarang di masa Jokowi-Ahok PKL di Tanah Abang bisa ditertibkan. Hanya memanusiakan manusia. Bukan main pukul dan usir PKL (tidak boleh mencari nafkah). Ditertibkan (dipindahkan ke tempat yang telah disediakan agar tak mengganggu kelancaran lalu lintas). 

Contoh sederhana lainnya. Waduk di Jakarta yang tak terpelihara (penuh sampah, jadi pemukiman). Rasanya mustahil jika pemimpin tidak tahu jika itu tanah negara dan tidak ada yang boleh mendirikan bangunan di sana. Masa' sih tidak tahu salah satu fungsi waduk untuk mencegah banjir? Masa' tidak tahu kalau waduk yang dangkal harus dikeruk agar bisa menampung air dalam jumlah besar?
 
Atau contoh lain. Pembersihan sampah dari sungai atau saluran air. Di banyak tempat, penulis melihat hal yang sama. Kotoran diangkat dari saluran air atau sungai, lalu dibiarkan berhari-hari tak diangkut. Kotoran jadi membuat jalan semakin sempit, terkena hujan kotoran akan masuk ke sungai dan saluran air lagi. 
Tidak banyak yang melakukan hal yang sudah diketahui ini dengan benar. Sampah diangkat dari sungai lalu diangkut ke tempat pembuangan sampah. Semua orang tahu hal seperti ini (bukan pemikiran brilian). Kalau dipikir, urusan sederhana seperti itu, sebenarnya banyak yang MAmpU, hanya MAU atau tidak MAU

Dan... jangan tanya kepada penulis, mengapa mereka tidak MAU.

Itu logika berpikir penulis. Bagaimana menurut Anda?
0 Responses

Poskan Komentar

abcs