Rasa Sungkan dan Perasaan "Kurang Enak"

Sikap hidup kita, dipengaruhi oleh pola asuh dan pola didik orangtua kita. Semua kita dapatkan dari melihat contoh (merekam apa yang dilakukan orangtua).

Contoh kecil adalah soal makan. Di keluarga kami, semua (anak dan kedua orangtua penulis) bila makan tidak pernah menyisakan sebutir nasi pun. Yang tersisa biasanya tulang, irisan cabe (jika tidak suka), dan nasi jika memang kekenyangan. Tapi untuk nasi, jarang terjadi karena kami sudah diajarkan agar mengambil secukupnya dulu, jika kurang tinggal tambah. Tidak boleh membuang nasi. Orangtua menceritakan begitu jauhnya perjalanan sebutir beras hingga jadi sebutir nasi di piring kami. Banyak orang yang berkontribusi dalam proses ini.

Jadi, hingga kini, makan di mana pun (rumah sendiri, pesta, hingga rumah makan), kami sekeluarga (termasuk istri dan anak penulis), tidak menyisakan sebutir nasi pun.

Nilai-nilai kehidupan seperti ini memang didapatkan secara nonformal, bukan didapatkan secara informal di sekolah.

Kebetulan penulis dan istri menganut nilai-nilai yang sama. Satu hal lagi, menukar uang. Kalau kami tidak punya uang kecil (misalnya kebetulan membawa uang Rp 50.000 atau Rp 100.000) dan nantinya perlu uang kecil seperti membayar uang parkir misalnya, kami tidak berani menukar uang secara cuma-cuma. kami akan berpura-pura membeli sesuatu untuk mendapatkan uang kecil (kembalian). 

pernah kami akan ke pesta pernikahan saudara di Jakarta. Dalam perjalanan baru teringat bahwa angpao yang kami bawa lupa di-lem. Beli lem, tentu tanggung. Minta lem, rasanya sungkan dan ada rasa "kurang enak." Kami berhenti di tempat peristirahatan (biasanya pom bensin di sepanjang jalan tol) lalu ke warung yang menjual nasi. Mau minta nasi beberapa butir saja kami sungkan. Kami pura-pura membeli beberapa butir permen (meski tidak sedang ingin makan permen), setelah itu baru bilang "Bu, bisa minta lem atau beberapa butir nasi?"

Sungguh berbeda dengan keadaan yang pernah penulis temui. Waktu menjaga toko milik orangtua. Ada seorang bapak masuk ke dalam toko, lalu menyodorkan uang Rp 100.000 sambil berujar "Tukar uang kecil..." tanpa basa-basi atau minta tolong. Karena tidak ada, penulis bilang "Tidak ada..." dan si bapak nampaknya kesal dan marah.

Luar biasa... Tidak belanja, tidak bilang minta tolong, tidak dikasih tukar uang, lantas dia marah. Hahaha... Belajar di mana cara bersikap seperti itu Pak? Apa Anda pikir penulis ini adalah Bank Indonesia yang bertugas menukarkan uang sesuai kebutuhan Anda?

Pantas saja sekarang di kasir berbagai swalayan dipasang tulisan: Maaf, tidak melayani penukaran uang.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs