Mau Bisnis Cara Licik??? Silakan Cari Sendiri Sis...

Ini pengalaman berbisnis dengan teman dari teman penulis. Teman dari teman saya ini cewek, sebut saja namanya EQ, kerja di sebuah perusahaan di Jakarta. EQ minta dicarikan contoh bordir logo sekolah. Harga sudah nego, contoh logo yang di-print di atas selembar kertas sudah diberikan kepada penulis. Intinya harga dan segala ketentuan dari EQ sudah penulis pahami dan kami sepakat.

Pokoknya harga satuan di bawah Rp 5.000 deal. Maka penulis mulai melakukan pencarian tempat pemesanan bordir ini di Kota Bandung. Setelah tanya sana sini, akhirnya dapat tempat yang mau melayani order ini. Penulis minta dibuatkan 1 contoh dulu (biar EQ bisa lihat langsung kualitasnya). Ternyata untuk membuat contoh ini tidak gratis, meski sudah diberitahu harga sudah oke. Begitu rekan penulis lihat dan oke, kami akan pesan banyak (katanya sih ribuan buah). 

Pemilik usaha bordiran sudah kasih tahu, tidak perlu contoh. Kami sudah biasa terima oderan seperti ini. Kami bordir dengan mesin dan sudah komputerisasi. Kami sudah biasa terima orderan logo kepolisian, TNI, pramuka, hansip,  sekolah, dan lain-lain. Semua yang dipajang di toko kami adalah hasil produksi kami. 

Penulis infokan hal ini ke EQ, tetap saja dia ngotot minta contoh. Oke-lah, penulis mengalah. Bisnis perlu pengorbanan dulu. Penulis pun pesan 1 buah bordiran logo sekolah dengan harga yang cukup mahal. Maklum saja, hanya pesan khusus 1 bordiran.

Hasil diserahkan kepada EQ. Kata EQ, sudah cukup bagus, tapi agak dikecilkan sedikit. Tolong buatkan 1 contoh lagi, kata EQ. Penulis lalu ke pemilik usaha bordir tadi. Bos pemilik bordir bilang, oke. Bisa. Mau dikecilkan, mau dibesarkan, mau ubah warna benang, atau hal lainnya. Gak usah buat contoh lagi, sayang biaya. Kami sudah biasa terima order seperti ini, jumlahnya jauh lebih banyak dan oke-oke saja. Tidak ada komplain. Permintaan pemesan ini terkesan mengada-ada.

Penulis lalu ketemu EQ lagi. Di sini baru ketahuan cerewet EQ yang tak beralasan. Minta ubah ini itu yang tidak beralasan. Ujung-ujungnya EQ bilang begini. "Kasih tahu saya saja alamatnya, biar saya bicara langsung pada bos pemilik usaha bordir ini."

Apa??? Oh...ternyata, bolak-balik banyaknya permintaan ini itu hanya agar penulis pusing dan menyerah, biar nggak kasih alamatnya saja (itu pun tanpa memberitahukan bahwa penulis nantinya akan diberi komisi sekian). Selama ini, penulis hanya berharap dapat untung dari selisih harga dari EQ dan tempat pemesanan bordir.

Menurut penulis, setelah tahu penulis dapat tempat order dengan harga yang diberikannya (penulis pasti dapat untung dong), ia masih merasa kurang puas dengan keuntungan yang ia dapat dari bos-nya. EQ ingin dapat untung lebih besar dengan menghubungi langsung tempat pemesanan.

Baiklah kalau begitu. Benar dugaan bos tempat pemesanan bordir, pemesan ini reseh. Penulis bilang nanti saya kirimkan alamat lengkapnya. Teman saya yang bantu carikan, jadi saya tidak tahu alamatnya (padahal penulis yang cari sendiri).

Sejak itu penulis tidak pernah lagi menerima telepon atau membalas SMS-nya. Biarlah hilang uang biaya pemesanan 1 buah contoh bordiran, biaya telepon, biaya transpor Bandung - Jakarta. Ini bukan calon pelanggan yang baik. Mana ada orang yang mau kerja dengan gratis? Cukup sekali saja kita berhubungan.

Dunia memang kompleks. Ternyata ada orang seperti EQ yang begitu yakin penulis akan memberikan nama, alamat, dan nomor kontak tempat usaha bordir secara gratis setelah bolak-balik Bandung - Jakarta dan  keluar biaya macam-macam. Ada-ada saja...

Penulis dianggap bodoh atau EQ yang idiot?
0 Responses

Poskan Komentar

abcs