Nama Unik Produk dan Catatan Editor

Bulan Oktober adalah bulan bahasa. Hmmm... menulis tentang apa ya? Nah... ini saja. Catatan penulis yang berkaitan dengan bahasa Indonesia dan oleh-oleh untuk pembaca yang merupakan hasil jepretan kamera penulis (dari sisi editor yang dituntut jeli melihat kekeliruan berbahasa). 

Selamat menikmati...

Nama makanan di Bandung, terkenal dengan singkatannya. Sebut saja batagor (bakso tahu goreng), cireng (aci digoreng), comro (oncom di jero), gehu (toge di dalam tahu), basreng (baso goreng), dan masih banyak lagi.

Nasi goreng sudah lazim disingkat nasgor, penulis lihat ada penjual roti bakar menuliskan di spanduknya rotbak, ada pula yang iseng pakai singkatan tikar. Tapi yang menjual roti kukus menuliskan nama lengkap, roti kukus Pak Anu... Anda mau memulainya dengan menuliskan jual roti kukus menjadi jual tikus?

Ada yang menjual cireng (aci digoreng) dengan sebutan baru. Produsen menyebut produknya cireng lebay dan menyingkatnya cibay (penulis yang berasal dari Palembang) hanya bisa tersenyum membacanya. Sebutan "cibay" mempunyai arti (maaf) alat kelamin perempuan. Coba deh klik tulisan "cibay" yang berwarna biru tadi (itu tautan ke blog orang lain yang penulis temukan saat googling). Ternyata Wikipedia pun memasukkan kata ini meski dengan akhiran huruf "i", silakan klik: "cibai". Bahkan menurut Wikipedia, istilah yang berasal dari bahasa Hokian ini dikenal masyarakat di 3 negara: Malaysia, Singapura, dan Indonesia (nah...lo).

Terbayang kalau penjual cireng lebay ini seorang perempuan menawarkan dagangannya sambil berkeliling dan bertanya kepada pria calon pembelinya (yang bisa jadi orang Palembang): "Pak, mau beli cibay?"




Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Kalau penulis sedang mengedit naskah, dua putra penulis (Dhika dan Ray) kadang juga nimbrung. Alhasil, mereka juga sedikit banyak tahu mana kata yang baku dan mana yang tidak baku (calon editor juga nih...).

Waktu ke swalayan, Dhika menemukan kesalahan ketik pada keterangan nama produk. Ini yang ditemukan Dhika (seharusnya soap = sabun, tertulis soup = sop).

Hand Soup atau Hand Soap?

 Sanksi Tegas ditulis Sanksi Tewas (TransTV)


Saat berselancar di dunia maya, penulis menemukan iklan ini. Mungkin maksudnya "membantu" atau memang beliau bisa membuatnya jadi sekeras batu ("membatu")? Entahlah... 

 MEMBATU atau MEMBANTU

Anda tentu tahu jika di Bandung (bahasa Sunda, banyak kata yang terdengar "e" lemah tapi dalam penulisannya ditulis "eu"). Contohnya? Pasangan Kabayan (kita dengar namanya disebut "Iteng" tapi penulisannya "Iteung"). Basah dalam bahasa Sunda disebut "baseh" tapi penulisannya "baseuh", lalu tertawa (terdengar "seri" seperti berseri-seri dalam bahasa Indonesia, penulisannya "seuri").

Bagi penulis, itu sudah biasa (memang dalam bahasa Sunda tulisannya seperti itu). Nah... tapi saat berhenti di lampu pengatur lalu lintas, penulis menemukan rambu petunjuk jalan yang menggunakan "eu" termasuk untuk bahasa Indonesia.

Semua ditulis dengan bahasa khas Sunda, pakai "eu"

Penulisan nama jalan/ daerah: Pasteur memang begitu setahu penulis (pakai "eu"). Tapi untuk pusat jins di Kota Bandung, setahu penulis tulisannya Cihampelas, tapi di sana tertulis Cihampeulas. Dan satu lagi, Biasanya ditulis Setiabudi, pada rambu petunjuk itu juga ditulis Seutiabudi. 

Tidak perlu protes. Jika Medan mengenal istilah "Ini Medan Bung!", mungkin di Bandung penulis bisa menyebut "Ini Bandung euy...!"

Atau yang membuat rambu petunjuk jalan ini nge-fans berat dengan slogan "Rebo Nyunda"-nya Kang Emil? Hehehe...
0 Responses

Posting Komentar

abcs