Belajar Sportivitas dari Sea Games

Usai Sea Games ke-26 (Jakarta-Palembang, 11-22 Nov 2011), penulis berselancar di dunia maya dan menemukan 2 berita menarik. Sama-sama dari dunia olahraga (yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas). Satu dari cabang sepakbola, dan satu lagi dari pencak silat (olahraga asal Indonesia). Namun kedua berita tersebut saling bertolak belakang: satu tentang sportifnya seorang pelatih, satu lagi atlet (termasuk ketua penyelenggara cabang pencak silat dan wasit?) yang tidak sportif.

Berita lengkapnya (termasuk komentar para pembaca), silakan Anda baca di (klik saja): Rahmad Darmawan: Maaf, Saya Gagal Jalankan Tugas dan Aksi Gigit Pesilat Indonesia.

Untuk RD, penulis sepakat dengan sebagian besar pembaca yang berkomentar. Salut atas keberaniannya secara jujur mengakui bahwa beliau gagal. Sebagian besar pembaca malah salut atas sikap "gentle" seorang RD. Selama ini, yang kita lihat sebaliknya, bila gagal, tokoh di balik itu akan cari kambing hitam. Sikap RD ini malah mendatangkan banyak simpati dan dukungan.

Sebaliknya, Dian Kristanto, pesilat kita (dan para petinggi negeri ini, termasuk juga wasit) mendapat kecaman sebagian besar pembaca.

Olahraga yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas (lebih parahnya lagi ini olahraga asal Indonesia), malah bersikap tidak sportif. Bukankah atlet beladiri identik dengan ksatria? Bagaimana negara kita yang jadi asal olahraga pencak silat bisa disegani dan dihormati kalau begini?

Pesilat kita berlari-lari menghindari lawan lalu ke luar arena pertandingan, bersembunyi di balik punggung wasit, bahkan menggigit bahu lawan. Kalau memang sudah tidak sanggup bertanding (entah kehabisan stamina atau cedera), bukankah lebih baik hal ini diserahkan kepada dokter yang mengawasi pertandingan dan wasit? Jauh lebih terhormat mendapat medali perak daripada dapat medali emas dengan cara seperti ini.

Banyak pembaca yang bahkan menyarankan agar kita mengembalikan medali emas tersebut! Atlet Thailand lebih pantas menerimanya. Karena tindakan tidak sportif itu, di situs berita maupun situs YouTube yang menampilkan video tersebut, bangsa kita jadi bahan olok-olok dan caci maki. Apa mau dikata?

Andai timnas U-23 ingin bermain dengan cara seperti ini saat melawan Malaysia di final Sea Games, bukan mustahil medali emas sepakbola ada di tangan kita. Setelah unggul 1-0, pemain kita selalu membuang bola. Setiap menguasai bola, tendang jauh-jauh ke arah gawang lawan atau buang ke luar lapangan. Tapi apakah kita akan bangga dengan medali emas dengan cara seperti itu? Penulis yakin, kita lebih bangga pada Garuda Muda yang sudah berjuang maksimal dan sportif, meski harus kalah adu penalti dan meraih medali perak. Kalah tapi terhotmat.

Silakan Anda berkomentar. Jangan lupa baca kedua berita tersebut dan tonton videonya (klik tulisan --> YouTube atau klik video di bawah ini).





Video dengan durasi lebih panjang bisa dilihat di sini, klik saja tulisan ini -->
YouTube by KamuLettew
YouTube by Orojiimaru


0 Responses

Poskan Komentar

abcs