Di Tengah Bencana, Masih Ada Setitik Harapan

Berita penyanderaan pengunjung  kafe di The Lindt Chocolate Cafe, Martin Place (Sydney, Australia) yang dilakukan Man Haron Maonis menyentak kita semua. Penyandera meminta sandera "mengibarkan" bendera hitam dengan kalimat syahadat di jendela kafe. Dalam peristiwa penyanderaan hampir 17 jam tersebut, 3 orang meninggal: Man Haron Maonis (pelaku penyanderaan), Tori Johnson (manajer kafe), dan Katrina Dawson (pengacara), serta 4 orang terluka. 

Peristiwa ini menyebabkan kekhawatiran akan adanya serangan balas dendam kepada muslim. 

Tapi membaca berita ada seorang warga Australia, Rachel Jacobs yang menulis di FaceBook bahwa ia akan mendampingi seorang wanita muslim berjalan hingga ke tempat tujuan demi melindungi wanita muslim tersebut, mata penulis berkjaca-kaca. Ini bermula saat Rachel Jacobs yang sedang berada di kereta api melihat seorang wanita muslim melepas hijab-nya karena khawatir akan ada aksi balas dendam atas peristiwa penyanderaan di Lindt Cafe tersebut. 

Tagar #illridewithyou yang dibuat Rachel Jacobs langsung direspon dan banyak orang. Tidak hanya menawarkan mendampingi umat Islam yang takut bepergian, bahkan ada yang menawarkan rumahnya sebagai tempat berlindung.

Sudah selayaknya kita tidak lagi melihat seseorang berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan-nya. Semua manusia pada dasarnya sama, kita menilai seseorang dari tindakannya. 

Jangan membenci seseorang hanya karena SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) karena kita tidak bisa memilih kita akan terlahir dari suku/ etnis apa, agama apa. Dan..., semua agama mengajarkan kebaikan.  


#illridewithyou, Pesan Dukungan Australia untuk Warga Muslim

Puluhan ribu pesan muncul di media sosial untuk mendukung warga Muslim di Australia, setelah penyanderaan di Sydney dikhawatirkan akan memicu Islamofobia di negara tersebut.

Pesan-pesan dengan hashtag atau tanda pagar #illridewithyou bermula dari catatan yang ditulis pengguna Facebook Rachael Jacobs.

Di media sosial ini ia menceritakan seorang penumpang perempuan di kereta yang duduk di sampingnya. Perempuan ini diam-diam melepaskan jilbabnya.

"Saya katakan 'pakai lagi (jilbab Anda)'. Saya akan berjalan dengan Anda. Ia menangis dan memeluk saya selama sekitar satu menit," kata Jacobs.

Kisah Jacobs dan perempuan berjilbab ini kemudian menginspirasi pengguna Twitter untuk menggunakan tagar #illridewityou.

'Dukungan nyata'

Bentuk dukungan ini disambut sangat positif oleh pengguna Twitter Salim Kassam yang menulis menjadi Muslim bisa menakutkan setelah terjadi serangan teroris.

"Terima kasih Australia untuk #illridewithyou," tulisnya.

Dukungan tidak berhenti di alam maya. Banyak pengguna media sosial yang secara tulus menggunakan tagar untuk menyampaikan keinginan mendampingi warga Muslim yang tengah bepergian melalui transportasi umum.

Twitter Australia mengatakan dalam waktu dua jam terdapat 40.000 pesan dengan tagar tersebut dan angkanya berlipat menjadi 150.000 dalam tempo empat jam. 

Kekhawatiran bahwa warga Muslim akan menjadi sasaran sempat diungkapkan oleh warga 
Muslim Indonesia di Australia, Citra Rizal.

Kekhawatiran ini muncul karena dalam penyanderaan di Sydney sempat dipajang gambar bendera hitam dengan kalimat syahadat di jendela kafe.

Sumber: BBC


Baca juga: 
  1. Solidaritas Tweeps Bagi Warga Muslim
  2. #IllRideWithYou, Solidaritas bagi Muslim di Australia Menyusul Penyanderaan di Kafe
  3. Martin Place Siege: #illridewithyou Hashtag Goes Viral
0 Responses

Poskan Komentar

abcs