Melihat Sisi Positif di Balik Sesuatu yang Negatif

"Ada sisi positif dari hal negatif sekali pun" demikian yang sering ditulis dalam kalimat bijak. Ada hikmah di dalam setiap peristiwa, hanya terkadang kita tidak mampu melihatnya. Benarkah demikian?

Ini sedikit catatan penulis. Ketika jalan di lingkungan kompleks perumahan kami mulai rusak, RT kami mengajak para penghuni kompleks perumahan untuk patungan memperbaikinya (di-hotmix). Tentu saja ini sifatnya sukarela. Yang bersedia ikutan, silakan bayar, yang tidak bersedia, tidak usah ikutan. Kami sih berharap, semua ikut sehingga jalanan jadi mulus dan nyaman dilalui saat berkendara. Untungnya semua warga sepakat ikut dan sekarang jalanan jadi mulus.

Tapi... di bagian lain (di kompleks perumahan yang sama), saat penggalangan dana untuk memperbaiki jalan, tidak semua warga bersedia ikut. Hasilnya jalanan jadi tidak sedap dipandang (ada bagian yang bolong/ tidak diaspal) dan becek saat musim hujan. 

Meski bukan bersebelahan langsung, tapi penulis yakin, orang yang berdekatan dengan warga yang tidak ikut partisipasi memperbaiki jalan, tentu merasa kecewa. Setiap hujan turun, di dekat rumahnya ada jalanan yang lubang dan menampung air. Biasanya lubang ini akan ditambal dengan reruntuhan dari tembok dari orang-orang yang sedang merenovasi rumah (reruntuhan bangunan ini biasa disebut berangkal). jadi biasanya ditimbun dengan bata, pecahan tembok, keramik bekas, bahkan juga tanah merah. Lumpur yang ada di lubang jalan ini tentu akan dibawa roda kendaraan yang lewat dan menimbulkan becek di sepanjang jalan. 

Bagaimana kalau musim panas? Tentu kotoran/ lumpur ini mengering dan menjadi debu yang beterbangan. 

Tentu ini terlihat negatif. Tapi ketika ada yang memperbaiki rumah, lubang ini akan jadi positif. Jika semua jalan sudah mulus diaspal, tidak ada tempat untuk membuang berangkal. Jika tidak ada tempat membuang berangkal? Anda harus keluar uang ekstra membayar orang untuk membuangnya. Kalau ada jalan yang belum mulus? Buang saja berangkal ke sana. Dalam beberapa waktu, lubang tersebut akan terbentuk lagi karena isinya sudah jadi lumpur saat hujan dan terbawa roda kendaraan, lalu jadi debu yang beterbangan saat terkena sinar matahari. Begitu selalu siklusnya. Bersyukurlah jika ada jalan yang berlubang karena saat Anda merenovasi rumah, Anda memiliki tempaty untuk membuang berangkal tanpa harus keluar uang ekstra.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs