Aneka Akronim Aneh...

Artikel ini penulis beri labels: Artikel Kelirumologi. Penulis sendiri tidak begitu yakin, semua artikel yang masuk di kategori ini layak disebut artikel kelirumologi. Karena kelirumologi itu sendiri diartikan sebagai ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang oleh masyarakat umum terlanjur dianggap benar, tetapi sebenarnya keliru. Jadi, artikel ini hanya kekeliruan biasa saja atau termasuk kelirumologi, silakan pembaca yang menilai.

Kali ini penulis akan menuliskan tentang akronim (singkatan yang bisa dibaca). Tidak ada aturan baku tentang bagaimana membuat akronim. Mau diambil dari suku kata awal, tengah, akhir atau kombinasinya, silakan saja. Yang penting enak dibaca dan disukai masyarakat, jadilah akronim itu (memasyarakat dan dikenal umum).

Pada awalnya, minuman keras sempat memiliki 2 akronim,
miker (minuman keras) dan miras (minuman keras). Tapi akhirnya miras-lah yang menang dan populer.

Contoh akronim lain,
kapolresta (kepala kepolisian resort kota), Anda bisa lihat sendiri dari mana saja asal kata atau huruf itu diambil. Ada dari depan (res), ada akhir (ta), ada tengah (pol), dan kombinasi depan dan akhir (ka).

Hari pendidikan nasional pernah jadi harpenas, pernah juga hardiknas. Kepala sekolah pernah memakai kepsek, dan pernah juga kasek. Semula pemilihan kepala daerah menggunakan akronim: pilkada, tapi sekarang lebih sering dipakai pemilukada.

Untuk akronim, huruf e sering dianaktirikan. Kalau dalam kata itu ada huruf a, maka orang condong memakai a daripada e. Seperti kata kepada, lebih sering dipakai ka daripada ke.

Cara baca akronim juga tak ada aturan bakunya. Meski kata asalnya huruf e (e lemah seperti pada kata: kera), lebih sering dibaca: é (e keras seperti pada kata bérés). Contoh kata: ampera (amanat penderitaan rakyat) sering dibaca ampéra. Padahal asal katanya: penderitaan bukan pénderitaan.

Akronim untuk menteri pun demikian. Meski asal katanya men (menteri), tapi dilafalkan mén. Perhatikan saja pengucapan kata: menkes (menteri kesehatan) sering dilafalkan ménkés. Atau yang lain: menkokesra, menpera, atau yang lain.

Anehnya lagi akronim untuk menteri dalam negeri dan menteri luar negeri pun tidak diseragamkan. Menteri dalam negeri akronim-nya: mendagri, tapi menteri luar negeri akronim-nya: menlu (bukan menlugri). Biasanya memang begitu, mana yang lebih dulu dipopulerkan, enak diucapkan dan didengar, ya dipakailah akronim itu.

Ehm... balik ke akronim aneh, seperti judul posting ini.

Anda tahu kesebelasan asal kota Jepara? Ya, nama kesebelasan asal kota Jepara ini Persijap
(persatuan sepakbola Indonesia Jepara). Lho... kok bukan Persijep? Dari mana muncul kata: Jap dari kata Jepara?

Sebelumnya, penulis pernah menemukan sebuah stasiun TV menayangkan berita kriminal dengan nama: Tikam (Tindak Kriminal). Silakan Anda perhatikan kata "kam" (bagaimana kata itu muncul dari kata "kriminal")? Sekarang acara berita ini sudah tidak ada.

Kata nomor dalam bahasa Indonesia disingkat no. Dalam bahasa Inggris, kata ini juga disingkat No. Nomor dalam bahasa Inggris adalah number, ayo cari dari mana muncul huruf "o" untuk singkatannya yang juga No.? Ada yang menyebut, singkatan ini berasal dari kata: numero (bahasa Latin).

Ada satu lagi, tapi ini singkatan, bukan akronim. Umumnya kalau membuat singkatan adalah mengambil huruf awal tiap kata. Misalkan: Sekolah Dasar (SD), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan lain-lain. Tapi coba Anda perhatikan Kontes Dangdut TPI (singkatannya KDI bukan KDT).

Sekian dulu artikel ini. Anda menemukan akronim lain yang unik? Silakan tuliskan di komentar, nanti penulis tambahkan di artikel ini.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs