Masih Adakah Teladan Negeri Ini???

Rabu malam, 9 Feb 2011 saya menyaksikan acara "Mata Najwa" di MetroTV episode "Krisis Pendekar Keadilan." Tayangan itulah yang kembali mengingatkan saya untuk menuliskan posting ini. Sebelumnya penulis telah berniat menuliskan posting ini ketika menyaksikan "Kick Andy" yang menampilkan sosok Hoegeng, mantan Kapolri, namun karena kesibukan akhirnya terlupa. Sekarang penulis tuntaskan niat tersebut.

Di tengah gencarnya berita tentang mafia pajak dan mafia hukum, korupsi yang merajalela di segala bidang, penulis "merinding" menyaksikan Mata Najwa episode Krisis Pendekar Keadilan, juga saat menyaksikan tayangan K!ck Andy episode Tribute to Hoegeng.

Penulis menuliskan sedikit profil mereka, yang menurut penulis sangat patut jadi teladan untuk kita semua. Tegas dalam bersikap, tak pernah takut siapa pun dalam melaksanakan amanat, termasuk presiden sekali pun. Siapa saja sosok teladan yang pernah ada di negeri ini, simak tulisan di bawah ini...
Hoegeng Imam Santoso (lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 – meninggal 14 Juli 2004 pada usia 82 tahun)

Ini sedikit cuplikan tentang beliau:

  1. Di Indonesia ini hanya ada tiga polisi jujur, yakni polisi tidur, patung polisi, dan Hoegeng. Begitulah setidaknya menurut Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Anekdot mantan presiden RI ini sekaligus sindiran karena cuma Hoegeng satu-satunya polisi jujur.
  2. Waktu pindah tugas ke Medan, rumah dinasnya sudah dipenuhi perabotan mewah oleh pengusaha di sana. Beliau menyuruh anak buahnya mengeluarkan semua benda tersebut dan menaruhnya di pinggir jalan. Setelah hanya tersisa inventaris rumah dinas saja, barulah beliau mau menempati rumah tersebut.
  3. Perusahaan motor merek Lambretta pernah mengirimkan dua buah motor, beliau segera meminta ajudannya untuk mengembalikan barang pemberian itu.
  4. Beliau tidak mengijinkan anggota keluarganya menggunakan fasilitas negara (fasilitas jabatan beliau). Tugas ke mana pun, beliau tidak membawa serta istrinya.
  5. Sampai pensiun pun beliau tidak mampu membeli rumah. Setelah pensiun, beliau hidup dengan bermain musik Hawaiian di TVRI dan menjual lukisan karyanya.
Antikorupsi tanpa kompromi. 

Video tentang beliau bisa dilihat di (klik saja):
  1. Riwayat Hidup Pak Hoegeng Imam Santoso: Sang Polisi Teladan
  2. Sekilas Sosok Teladan: Pak Hoegeng Imam Santoso, Polisi Antikorupsi



Sumber: Kick Andy, Kaskus, Kaskus
, Wikipedia



Baharuddin Lopa (lahir di Pambusuang, Balanipa, Polewali Mandar, Indonesia, 27 Agustus 1935 – meninggal di Riyadh, Arab Saudi, 3 Juli 2001 pada usia 65 tahun)
Ini sedikit cuplikan tentang beliau:


  1. Beliau tak pernah mau menerima parsel. Menurut putrinya, pernah ada yang mengantar parsel, ayahnya belum pulang. Namanya anak-anak, kami curi-curi mengambil coklat dan membungkus kembali parsel tersebut. Tapi ayahnya tahu. Menurut Abun Sanda, sahabat beliau, beliau sampai menanyakan di supermarket mana bisa membeli coklat itu. Setelah dapat, dimasukkan lagi, lalu dikirim kembali kepada si pemberi.
  2. Urusan makanan juga sangat adil, kata Abun Sanda. Waktu makan bersama, ketika tahu Abun mendapat 1 ikan, beliau 2 ikan, beliau membaginya sama rata. Bukan hanya terhadap sahabatnya, terhadap sopirnya pun demikian.
  3. Tak seperti para petinggi Republik yang tiba-tiba saja kebanjiran “hibah” semasa menjabat, Lopa mesti menabung sen demi sen gajinya untuk merenovasi rumah sederhananya di pinggiran Kota Makassar, di Jalan Merdeka 4. Salah satu tabungannya adalah sebuah celengan berisi uang receh. Abraham Samad, pengacara Ketua Komite Antikorupsi Sulawesi Selatan, bercerita pernah melihat Lopa membuka sejumlah celengannya. Ternyata uang itu belum cukup untuk membeli balok kayu dan batu. “Terpaksa pembangunan rumahnya ditunda dulu,” tuturnya mengenang. Padahal, ketika itu Lopa telah menjabat sebagai Direktur Jenderal Lembaga Pemasyarakatan (Dirjen Lapas).
  4. Untuk membeli sebuah mobil dengan harga termurah (yang diberi harga Rp 25 juta) saja beliau terpaksa mencicil selama 3 tahun 4 bulan. Beliau juga menolak ketika pengusaha mobil tersebut (Jusuf Kalla) akan menjual mobil tersebut seharga Rp 5 juta saja. Satu-satu keringanan yang dimintanya adalah boleh mencicil dan mohon tidak ditagih karena beliau hanya bisa mencicil semampunya.
  5. Kisah lain dituturkan oleh sahabat dan rekan kerjanya Prof Dr. Ahmad Ali Guru besar Fakultas hukum Unhas: Aisyah, salah satu putrinya, juga punya pengalaman unik. Pada 1984, ia menjadi panitia sebuah seminar di kampusnya, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Kekurangan kursi, Aisyah datang ke kantor ayahnya untuk meminjam kursi di aula Kejaksaan Tinggi Sul-Sel. Sebagai jawabannya, Lopa menarik salah satu kursi lipat dan memperlihatkan tulisan di baliknya. “Ini, baca. Barang inventaris Kejaksaan Tinggi Sul-Sel, bukan inventaris Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Jelas toh, ini milik kejaksaan dan tidak bisa dipinjamkan,” kata Lopa.

Sumber: Antenna, Tempo, Kompasiana, Tokoh Indonesia, Wikipedia, baca juga Blog Selokartojaya


Yap Thiam Hien (lahir di Koeta Radja, Aceh, 25 Mei 1913 – meninggal di Brusel, Belgia, 25 April 1989 pada usia 75 tahun)Ini sedikit cuplikan tentang beliau:

  1. Menurut Adnan Buyung Nasution, Yap tegas, jujur, dan tak takut siapa pun. Pernah kami sedang mengantri di bandara. Antrian begitu panjang, tiba-tiba seorang Jendral nyelonong dan langsung ke paling depan. Yap berteriak keras "Jendral, keluar! Orang antri sepanjang ini, Anda mau enaknya sendiri."
  2. Masih menurut Buyung, Yap sering mengatakan: "Kalau Anda ingin menang berperkara, jangan pilih saya jadi pengacara Anda. Tapi kalau Anda ingin mencari keadilan, boleh pilih saya." Beliau (Yap) tidak mau menghalalkan segala cara untuk menang. Biar yang jadi polisi, hakim, dan jaksa adalah temannya, dia menjalankan profesinya dengan jujur.
  3. Yap telah menjadi teladan dan guru bagi banyak advokat terkenal di negeri ini. Semangat juangnya untuk menegakkan keadilan dan hak asasi manusia (HAM) diukir dalam lambang Yap Thiam Hien Award dengan semboyan "Fiat Justitia, Ruat Caelum" yang artinya tegakkan keadilan, sekalipun langit runtuh. Sejak tahun 1992, secara cara kontinu, Yayasan Pusat Studi Hak Asasi Manusia memberikan Yap Thiam Hien Award kepada pejuang hak asasi manusia di Indonesia.
  4. Tokoh yang memelopori berdirinya Peradin (Persatuan Advokat Indonesia) dan kemudian menjadi pimpinan asosiasi advokat ini, pernah membela pedagang di Pasar Senen yang tempat usahanya tergusur oleh pemilik gedung. Saking ‘geram’-nya pria berjuluk “Singa Pengadilan” ini bahkan menyerang pengacara pemilik gedung itu dalam persidangan, dengan mengatakan: “Bagaimana Anda bisa membantu seorang kaya menentang orang miskin?”
  5. Yap, salah seorang pendiri Lembaga Bantuan Hukum Indonesia itu berani membangkitkan semangat wong cilik tertindas dan tergusur itu untuk menentang kebijakan pemerintah yang salah, demi tegaknya keadilan. Demi menegakkan hukum dan keadilan, anak sulung dari tiga bersaudara buah kasih Yap Sin Eng dan Hwan Tjing Nio ini selalu siap berjuang habis-habisan tanpa mengenal rasa takut. Sering kali ia membela klien yang sebelumnya telah ditolak advokat lain karena miskin atau unsur politik dan mengenai kepentingan pemerintah. Pada era Orde Baru itu, kerap kali para advokat menghindari membela kepentingan rakyat yang tertindas. Tetapi, Yap tetap teguh pada prinsip, ia berani dengan segala konsekuensinya membeli kepentingan para wong cilik. Beliau juga juga tampil teguh memosisikan diri membela para aktivis berhadapan dengan kekuasaan yang otoriter seperti pada Peristiwa Malari (Lima Belas Januari) 1974. Ia pun ditahan tanpa proses peradilan. Ia dianggap menghasut mahasiswa melakukan demo besar-besaran. Begitu pula ketika terjadi Peristiwa Tanjung Priok pada 1984, Yap maju ke depan membela para tersangka.
Sumber: Wikipedia, Univ. Muhamadiyah Aceh.



H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Fort de Kock, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada usia 77 tahun)Ini sedikit cuplikan tentang beliau:

  1. Rachmawati Soekarnoputri dalam tulisannya yang dimuat di Harian Kompas, 9 Agustus 2002, Mengenang 100 Tahun Bung Hatta. Dalam tulisan tersebut, putri mendiang Bung Karno tersebut mengatakan, suri teladan yang perlu diteladani dari Bung Hatta adalah sifat dan perilakunya yang fair dan jujur. “Jujur di sini, tidak hanya terbatas pada tidak melakukan praktik KKN selama berkuasa atau menjabat. Namun, lebih dari itu, Bung Hatta jujur terhadap hati nuraninya,” kata Rachmawati. Bung Hatta yang tidak sepaham lagi dengan Bung Karno memilih mengundurkan diri 1 Desember 1956. Kejujuran yang diperlihatkan Bung Hatta dalam hal ini justru menunjukkan sikap ksatria seorang negarawan yang patut dihargai dan dicontoh. Kendati demikian, hubungan pertemanan antara Bung Hatta dan Bung Karno tidak lalu berubah menjadi permusuhan, malahan Bung Hatta melakukan kerja sama yang kritis terhadap Bung Karno (critical cooperation). Bahkan, adakalanya Bung Hatta memberikan masukan langsung datang ke Istana selain menulis surat atau menelepon. Dan, Bung Karno pun tetap menganggap Bung Hatta sebagai teman bukan musuh yang harus “dilumpuhkan.” Ketika Bung Karno sakit setelah terjadinya G30S/PKI tahun 1965, Bung Hatta tetap memberikan perhatian kepada Bung Karno. Bahkan, pada saat sakit yang diderita Bung Karno semakin parah pada tahun 1969 dan terpaksa harus dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Bung Hatta bersikeras menjenguk Bung Karno di mana tak satu pun pejabat atau tokoh lain mau menjenguk Bung Karno.
  2. Salah satu kisah mengugah dari Bung Hatta yang dikenang masyakarat adalah kisah tentang sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang berharga mahal. Bung Hatta, ketika masih menjabat sebagai wakil presiden, berniat membelinya. Untuk itulah, maka dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Setelah itu, dia pun berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Ini tak lain karena uangnya selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.
  3. Barang lain yang juga tak mampu dibelinya adalah mesin jahit yang juga sudah lama didambakan sang istri. Wah, mengapa bisa begitu? Ya, tak lain karena setelah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, 1 Desember 1956, uang pensiun yang diterimanya sangat kecil. Bahkan saking kecilnya, sampai-sampai hampir sama dengan Dali, sopirnya yang digaji pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, keuangan keluarga Bung Hatta memang sangat kritis. Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya, karena mencekik leher. Menghadapi keadaan itu, Bung Hatta tidak putus asa. Dia semakin rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Baginya, biarpun hasilnya sedikit, yang penting diperoleh dengan cara yang halal.
  4. Itulah sebabnya, mengapa Bung Hatta mengembalikan sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat ke Swedia. Di usia senja, Bung Hatta dikirim oleh pemerintah untuk berobat ke Swedia. Menurut penuturan dokter Mahar Mardjono yang mendampinginya, sebelum pulang ke Jakarta, Bung Hatta segera memerintahkan sekretarisnya, Pak Wangsa Widjaja, untuk mengembalikan uang sisa pengobatan kepada pemerintah. Itu dilakukan, karena beliau merasa uang sisa berobat itu bukan haknya. Santun, jujur, hemat, serta uncorruptable alias antikorupsi adalah sedikit dari banyak teladan yang dicontohkan proklamator RI, Wakil Presiden I RI, Bapak Koperasi Indonesia, negarawan, pahlawan, diplomat, dan ekonom ini.
  5. "Tuhan, terlalu cepat semua, kau panggil satu-satunya yang tersisa, proklamator tercinta. Jujur, lugu, dan bijaksana. Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa, rakyat Indonesia... Hujan air mata dari pelosok negeri, saat melepas engkau pergi… Berjuta kepala tertunduk haru. Terlintas nama seorang sahabat, yang tak lepas dari namamu… Terbayang baktimu, terbayang jasamu. Terbayang jelas… jiwa sederhanamu. Bernisan bangga, berkafan doa. Dari kami yang merindukan orang, sepertimu…" itulah lirik lagu Bung Hatta karya Iwan Fals.

Sumber: Wikipedia, Kaskus, Blog Nadya.

Itulah 4 nama dari sedikit contoh putra bangsa ini yang jujur, (antikorupsi) tegas, berintegritas, mengabdi tanpa pamrih pada negeri. Mungkin masih ada yang lain. Secara kebetulan, ke-4 putra bangsa ini berasal dari daerah yang berbeda (tanpa bermaksud membedakan suku bangsa yang menjurus ke SARA). Hoegeng dari Jawa, Lopa dari Sulawesi, Yap yang keturunan Tionghua, dan Bung Hatta dari Sumatera. Kita punya teladan yang luar biasa.

Sambil menulis artikel ini, mata penulis berkaca-kaca, tenggorokan tercekat, mengetahui di negeri tercinta ini pernah ada putra terbaik seperti mereka.

Masih adakah pengganti mereka di negeri ini?
Masih adakah teladan di negeri ini???


NB:
Beberapa tokoh teladan lainnya versi penulis:




Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
(lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 –
meninggal di Jakarta, 30 Desember 2009 pada usia 69 tahun
)
Bapak Pluralisme Dunia


Sumber: Perspektif, Zulfanioey.




Munir (Munir Said Thalib)
(lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965
– meninggal di Jakarta jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada usia 38 tahun)
Pejuang Hak Asasi Manusia
Sumber: Matanews, Wikipedia.


Sophan Sophiaan
(Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 26 April 1944
- meninggal di Ngawi, Jawa Timur, 17 Mei 2008)
Aktor, sutradara, politisi

Sumber: Inilah, Kompas, Wikipedia
0 Responses

Poskan Komentar

abcs