Bolehkah Kita Berbohong???

Banyak orang menanyakan, bolehkah kita berbohong? Secara umum, jawabnya tentulah tidak boleh. Semua agama mengajarkan kita untuk jujur alias tidak berbohong.

Tapi sering kali kita berada di posisi yang dilematis. Jujur ada perasaan tidak enak, berbohong merasa bersalah.

Kejadian dilematis ini pernah penulis alami saat aktif di kegiatan kampus. Penulis lupa kejadian itu tepatnya pada acara apa. Kalau tak salah ingat, itu saat kami mengadakan seminar. Teman penulis jadi panitia dan bertugas sebagai fotografer. Saat itu kamera digital belum trend seperti sekarang ini. Jadi masih pakai kamera konvensional dengan isi film. Tugasnya tentu memotret momen penting di seminar.

Tapi seperti biasa, teman-teman banyak yang narsis kalau lihat kamera. Minta foto bersama dengan jaket almamater, dan lain-lain. Tak dilayani rasanya tak enak. Tanpa disadari akhirnya film di dalam kamera habis (termasuk bonusnya, biasanya film yang isi 36 ada bonus sekitar 3 kali jepretan).

Pas acara selesai, ketua panitia mengumpulkan semua panitia (termasuk penulis) dan mengatakan kita akan foto bareng dengan dosen, dekan dan pembicara. Dosen, dekan, dan pembicara sudah siap foto bersama kami, para panitia seminar. Tinggal atur posisi, fotografer memberi kode pada ketua panitia, film sudah habis. Harus bagaimana? Mau ngomong jujur ke dosen, dekan, dan pembicara bahwa film di kamera sudah habis, tidak berani. Apalagi pembicara adalah tamu (bukan dari kalangan kampus). Beli film lagi bisa saja, tapi apakah mereka mau menunggu?

Maka kami sepakat berbohong. Fotografer pura-pura mengatur posisi yang akan difoto, setelah rapi, cukup mainkan blitz-nya saja. Ada anggota panitia yang tidak mau masuk ke barisan untuk difoto karena jelas-jelas tahu tidak ada film-nya, tapi yang lain justru ada yang sangat "antusias" untuk difoto.

Hasilnya? Jelas tak ada hasilnya, cuma mainkan blitz-nya kok. Untungnya dosen, dekan, dan pembicara tak ada yang minta dicetakkan foto tersebut. Kalau ada? Harus bohong sekali lagi, foto bersama tidak jadi.

Posting ini tak bermaksud mengatakan bahwa bohong itu tindakan yang benar. Bagi penulis, kalau penulis berada pada dilema antara bohong atau jujur, penulis pilih mana yang lebih banyak sisi baiknya atau yang mana akibat buruknya lebih kecil. Biar bagaimana pun, bohong tetap salah.

Bagaimana menurut Anda???
0 Responses

Poskan Komentar

abcs