Akhirnya Pempek Palembang Menemukan Jodohnya di Floating Market, Lembang

Di dunia komedi (lawak) atau humor, kita seringkali mendengar orang mem-plesetkan kata-kata yang mengandung unsur "Pa" atau "Bu" dengan menyebutkan lawan jenisnya.

Misalnya ada binatang bernama buaya, maka akan muncul celetukan "Kamu tau nggak jika buaya itu betina?"

Yang ditanya ditanya akan heran, "Dari mana kamu tau?" 

Lha... kalau buaya jelas betina, kalau jantan itu namanya paaya. Hehehe...


Atau pantangan tertentu (tabu) dalam bahasa Sunda disebut pamali

Lantas ada yang bilang, "Itu sih untuk laki-laki..." 

"Lho... kok begitu. Pamali itu istilah tabu baik untuk laki-laki maupun perempuan." 

"Kalau untuk laki-laki istilahnya pamali, kalau untuk perempuan, istilahnya bumali," Hahaha... (ternyata hanya guyonan alias humor).

Selama tinggal di Palembang, penulis belum pernah menemukan dan mendengar keisengan memplesetkan kata Palembang. Selama ini Palembang hanya men-jomblo... (belum punya pasangan). Hahaha...

Pas liburan bersama keluarga ke Floating Market, Lembang (nama daerah ini hanya berbeda 2 huruf dari kota asal pempek, Palembang), penulis menemukan pasangan Palembang.

Sebuah counter makanan (perahu) menjual makanan khas Palembang yakni pempek. Di mana-mana, penulis menemukan promo penjual pempek dengan mencantumkan tulisan "Pempek Palembang" (entah memang penjualnya perantauan asli Palembang, pernah tinggal di Palembang, atau hanya sekedar menjual nama Palembang agar pempeknya laku).

Kata "Pempek" dan "Palembang" memang sudah satu paket seperti halnya dodol Garut, tahu Sumedang, dan lain-lain.

Kali ini penulis membaca plang nama "Pempek Ma'Lembang." Wow... akhirnya "pria" bernama Pempek Palembang tidak jomblo lagi, sekarang ia sudah punya pasangan bernama "Pempek Ma'Lembang", dua sejoli yang berjenis sama, yakni makanan khas warga kota yang dilintasi Sungai Musi ini.   

Bapak disapa Pak atau Pa, emak disapa Mak atau Ma.

Langsung saja penulis arahkan kamera untuk mengabadikannya buat Anda. Jangan tanya rasanya karena penulis tidak mencicipi makanan khas Palembang ini (penulis sudah 3 tahun ini menjadi seorang vegan, vegetarian).

"Dak tau apo yang jualnyo wong Plembang apo bukan. Pokoknyo, sekarang ni, Pempek Palembang la punyo bini, namonyo Pempek Ma'Lembang... Woi... teraso nian iwaknyo..."

Terjemahan bebas:

"Tidak tau apakah penjualnya orang Palembang atau bukan. Intinya, sekarang ini Pempek Palembang sudah punya istri, namanya Pempek Ma'Lembang... Woi... terasa sekali ikannya..."





 Welcome drink dan mata uang Republik Floating Market, Lembang
(ada 3 nominal, pecahan Rp 5.000, Rp 10.000, dan Rp20.000)
0 Responses

Poskan Komentar

abcs