Barongsay = Budaya

Saat menjelang Tahun Baru Imlek, ada satu hal yang sering menarik perhatian penulis, yakni barongsay. Penulis senang melihat atraksi barongsay (juga tarian naga) yang begitu enerjik dan sering menampilkan atraksi yang butuh ketrampilan khusus.

Tapi bukan itu saja, setiap ada rombongan barongsay tampil di mal, ada satu hal yang jadi pusat perhatian penulis. Para pemainnya!

Pemainnya tidak hanya dari suku Tionghoa saja tapi juga dari suku lain di Indonesia (maaf ini bukan ingin bicara soal SARA). Penulis senang melihat kesenian (budaya) Tiongkok ini digemari dan diterima berbagai suku. Pertunjukan barongsay di tempat terbuka dan dapat dinikmati siapa saja. 

Barongsay dan tarian naga (liong) dan perayaan Tahun Baru Imlek adalah budaya, seni dan bukan ritual agama. Dari namanya (Tahun Baru Imlek) jelas itu hanya perayaan menyambut tahun baru berdasarkan kalender Tiongkok. Karena banyak suku Tionghoa beragama Buddha dan juga Konghuchu, perayaan ini juga dilakukan di tempat ibadah mereka (vihara dan kelenteng).

Tapi tetap saja itu adalah perayaan menyambut tahun baru (menyambut musim semi di Tiongkok sana). Bukan perayaan agama. Ini adalah budaya, seperti juga halnya barongsay dan tari naga.

Dalam beberapa  kesempatan, penulis senang sekali melihat para pemain barongsay yang multietnis dan penulis abadikan lewat foto dan video. 

Minggu, 15 Februari 2015 ada atraksi barongsay dari kelompok barongsay Djin Hoo di mal Riau Junction, Bandung. Ini rekaman video dari penulis. Anda dapat menyaksikan cewek cantik berpakaian biru dengan hijab hitam yang termasuk dalam rombongan barongsay ini. Silakan simak video yang menampilkan indahnya kebersamaan:


 Video lainnya bisa Anda lihat di (klik saja): Barongsay = Budaya
0 Responses

Poskan Komentar

abcs