Kisah tentang Anies Baswedan

Penulis termasuk satu dari banyak orang yang mengagumi beliau. Tokoh dengan banyak prestasi, termasuk tokoh intelektual muda dengan pemikiran yang mengagumkan. Salah satunya, beliau penggagas Indonesia Mengajar.

Tapi entahlah... beberapa hari setelah Pak Anies Baswedan jadi cagub dari Gerindra dan PKS, kok rasanya Pak Anies Baswedan berubah jauh dari yang selama ini penulis kenal (kenal dari media). Di media online juga banyak yang mengemukakan pendapat yang sama. Salah satunya Dewi Hapsari


Penulis sependapat. Hanya berpendapat saja, sangat mungkin penulis salah. Tapi, apa pun pilihan Pak Anies Baswedan, itu hak pribadi beliau. Hidup memang penuh pilihan, apa pun yang kita pilih, kita-lah yang akan menerima semua konsekuensi atas pilihan tersebut.  
 
Pertama adalah tidak disangka beliau jadi cagub dari Partai Gerindra dan PKS. Dan puncaknya saat baca berita dan lihat video ini:

Viral di Facebook, Foto Wajah Masam Anies Baswedan Saat Fadli Zon Baca Puisi

TRIBUNJATENG.COM - Anies Baswedan, mantan Menteri Pendidikan Indonesia ini bergabung dengan kubu Prabowo dalam Pilkada DKI 2017. 

Mencengangkan! 

Bagaimana tidak? 

Anies menjadi anggota tim sukses Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) pada Pemilihan Presiden Indonesia 2014 melawan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. 

Anies diketahui sering mengkritik Prabowo, namun sekarang ia justru ada di kubu Prabowo bersama kelompoknya. 

Momen ini ditangkap dengan jeli oleh mata netizen. 

Mereka dapat merasakan ketidaknyamanan Anies berada di antara kubu Prabowo. 

Seperti unggahan status seorang pengguna Facebook, Birgaldo Sinaga. 

 Ia mendeskripsikan bagaimana wajah Anies saat berdiri tepat di samping Prabowo dan harus mendengarkan puisi karya seorang pentolan Partai Gerindra, Fadli Zon. 

Puisi yang berjudul Tukang Gusur itu bisa dibilang menyindir Gubernur Jakarta saat ini, Ahok. Wajah Anies yang tampak tak bersemangat seperti orang-orang di sekitarnya itu menarik simpati netizen. 

"Jakarta malam itu diguyur hujan. Dingin. Angin kencang melanda sebagian Jakarta. Cuaca dingin itu menambah dinginnya perasaan Anies yang tidak nyaman berada di sekumpulan orang-orang yang berbeda pikiran dan watak dengannya. Berbeda habitat. Berbeda siulan," tulisnya. 

"Sungguh saya melihat tontonan menyedihkan, miris. Saat Anies Baswedan dengan wajah tertekuk terdiam seribu bahasa ada goncangan batin terasa. Senyum getir menyungging di bibirnya. Gesture wajahnya seperti tidak sanggup menolak semua nada sinisme nyinyiran ala Fadli Zon. Sesuatu yang aneh di matanya. Musuh yang dulu dilawannya kini mengitarinya. Mengepungnya." 

"Malam itu, Anies seperti tampak bukanlah Anies yang kita kenal dulu saat sama-sama berjuang memenangkan orang baik, Jokowi." 

"Malam itu Anies serasa seperti patung Socrates yang mulutnya terkunci dengan tangan menutup mulut. Anies tertegun diam tidak berani untuk sekedar menghentikan sajak murahan itu agar dihentikan. Anies melawan hati kecilnya." 

"Wajahnya tegang dan tertekuk menggambarkan konflik batin berada di tengah tengah orang orang yang dulu ditentangnya. Berkali kali tangannya menutup mulutnya seakan menutupi kegalauan perasaannya saat mendengarkan puisi sampah itu. Perang batin berkecamuk di dadanya." 

Netizen pun ingat kata-kata inspiratif Anies Baswedan yang sering ia ucapkan dulu. 


"Malam itu, Anies si orang baik diam dan mendiamkan sajak penghinaan dari mulut Fadli Zon. Anies diam dan mendiamkan pesan pesan tak bermoral meluncur deras dari mulut penghasut." 

"Anies persis seperti perawan di sarang penyamun. Diam, membisu ketakutan atas gerombolan bergigi taring yang siap menerkam Anies jika berani melawan tindakan mereka."

Sumber: Tribun


 Mimik Wajah Anies Baswedan yang Bertolak Belakang dengan Wajah Para Pendukungnya


Ini videonya:


Klik ini untuk membaca komentar netizen


Ini puisi 'Tukang Gusur" karya Fadli Zon

Sajak Tukang Gusur 

Tukang gusur-tukang gusur. Menggusur orang-orang miskin. Di kampung-kampung hunian puluhan tahun. Di pinggir bantaran Kali Cilieung. Di rumah-rumah nelayan Jakarta. Di dekat apartemen mewah, mal yang gagah. Semua digusur, sampai hancur. 

Tukang gusur, tukang gusur. Melebur orang-orang miskin. Melumat mimpi-mimpi masa depan. Membunuh cita-cita dan harapan. Anak-anak kehilangan sekolah, bapak-bapaknya dipaksa menganggur. Ibu-ibu kehabisan air mata. 

Tukang gusur, menebar ketakutan di Ibu Kota. Gayanya pongah bagai penjajah. Caci maki kanan kiri. Mulutnya serigala penguasa. Segala kotoran muntah. Kawan-kawannya konglomerat. Centengnya oknum aparat. Menteror kehidupan rakyat. 

Ibu Kota katanya semakin indah. Orang-orang miskin digusur pindah. Gedung-gedung semakin cantik menjulang. Orang miskin digusur hilang. 

Tukang gusur tukang gusur. Sampai kapan kau duduk di sana. Menindas kaum dhuafa.

Tukang gusur, tukang gusur. Suatu masa kau menerima karma. Pasti digusur oleh rakyat Jakarta."


Lalu muncul jawaban puisi tersebut:

"Tukang Kabur"

Tukang kabur tukang kabur
Mengaburkan fakta apa yang sebenarnya ada
Bahwa rakyat miskin hanyalah alat propaganda
Mereka di pelihara bahkan dibina
Untuk mendulang banyak suara
Tukang kabur tukang kabur
Benarkah rusun rawa bebek menyedihkan ?
Tentu saja jika dilihat dari kacamata orang kaya
Yang hidupnya dari kaca ke kaca
Bukan dari mata mereka yang tiap hari rentan terserang malaria
Karena hidup berteman dengan eek yang mengambang dimana-mana
Tukang kabur, wahai tukang kabur
Bicaralah secara fakta
Bukan karena ambisi politik semata
Anda teriak ketika banjir melanda
Tapi ketika ada yang mencoba memperbaiki sekuat tenaga
Memperbaiki kerusakan yang selama ini dibina..
Anda teriak juga..
Tanyalah diri anda, wahai tukang kabur
Anda itu teriak untuk apa ?
Tukang kabur, duhai tukang kabur
Sebelum menilai orang lain
Lihat di dalam rumah sendiri
Tidakkah anda lihat banyak kader anda yang korupsi ?
Belum lagi yang keluar negeri minta fasilitasi..
Malu dong sama Mukidi..
Oh tukang kabur..
Memang sakitnya tuh disini
Ketika ada kader terbaik yang terpaksa lari
Karena tidak mau disetir dan dipaksa korupsi
Enak dong, anda bahagia dia gigit jari..

Duhai tukang kabur
Bernimpilah yang panjang
Untuk bisa menguasai negeri ini
Tapi fakta berbicara
Alih2 jadi macan asia
Ternyata hanya sibuk naik kuda
Salam tukang kabur
Lidahnu adalah harimaumu
Berkacalah yang baik
Tidak akan pernah menang
Orang yang sibuk mencela orang
Tapi dirinya sendiri belepotan..
Salam,
23 September 2016
MUKIDI. (*)

Belum reda kehebohan tentang sikap Pak Anies Baswedan yang serbasalah dan kikuk saat Fadli Zon baca puisi (Pak Anies sama sekali tidak menunjukkan wajah gembira seperti yang lain, juga tidak bertepuk tangan). Muncul pernyataan Anies Baswedan seperti ini yang membuat netizen bereaksi keras. Silakan klik untuk membaca beritanya:

Anies Baswedan: Sungai di DKI bersih program Fauzi Bowo sejak 2009

Ini reaksi netizen: Denny Siregar

Semua Karena Fauzi Bowo

Ini reaksi dari Faisal Rizki Andika (Pasukan Oranye):

Pasukan Oranye Bungkam Anies Baswedan yang sebut Program Sungai Bersih Jakarta Program Foke, Sadis!

Meme tentang hal ini, klik saja: Kaskus, Twitter: Hariadhinih dan Kai

Masih ingat bagaimana ucapan Pak Anies di video ini (saat itu Pak Anies bilang beliau sangat yakin pilih Jokowi, tak ada beban jika pilihannya Jokowi atau Prabowo). Pak Anies Baswedan mengatakan Jokowi yang terbaik dan harus didukung, sebaliknya (meski tidak secara langsung alias dengan bahasa sopan santun), Pak Anies bahkan menyinggung Pak Prabowo soal "bocor" dan Prabowo merupakan bagian dari Orde Baru dan lain-lain.

Bagaimana sekarang? Sekarang Pak Anies Baswedan justru jadi cagub dari Partai Gerindra (yang ketua umumnya Pak Prabowo Subianto), yang dulu disebutnya bukan pilihan yang baik

Penulis sangat berharap Pak Anies bisa membuat pidato untuk menjelaskan alasan beliau mau dicalonkan sebagai cagub dari Partai Gerindra dengan (seperti pidato di bawah ini, saat beliau mendukung Jokowi), agar kita bisa "melihat dengan sangat jelas" apa sebenarnya alasan di balik keputusannya tersebut. 

Jadi kita bisa tahu, ternyata Prabowo-lah yang baik dan benar (sehingga Pak Anies mau dicalonkan jadi cagub dari Partai Gerindra yang didirikan dan diketuai Prabowo, padahal dulu mengatakan Pak Prabowo "bukan orang baik"), dan ternyata dulu Pak Anies menjelaskan dengan sangat baik dan logis bahwa Pak Jokowi itu orang baik dan harus didukung itu adalah sebuah kesalahan besar.

Sikap bertolak belakang inilah yang membingungkan penulis. Semula mendukung Pak Jokowi, malah masuk dalam jajaran kabinet Presiden Jokowi (di luar sana ada Partai Gerindra yang jadi partai oposisi). Sekarang justru jadi cagub dari Partai Gerindra. Bukan mustahil, kelak Pak Anies jadi capres dari Partai Gerindra. Ini pasti membingungkan anak-anak muda yang hadir dan mendengarkan langsung pidato Pak Anies waktu itu (termasuk penulis yang mendengarkan dari video ini). 

Atau tidak perlu-lah mencari tahu alasan di balik keputusan Pak Anies karena ada ungkapan yang mengatakan, "Dalam politik tidak ada kawan abadi atau lawan abadi, yang ada kepentingan abadi"? 

Ini tautan videonya, tulisan warna merah (WAJIB ANDA KLIK).

Tiap melihat video dan mendengar apa yang diucapkan Pak Anies Baswedan ini, membuat penulis merinding!!!


Bagaimana menurut Anda???
0 Responses

Poskan Komentar

abcs