Nonton Film A Man Called Ahok


Jumat, 9 November 2019 penulis sekeluarga ke Festival Citylink, Bandung. Pertama untuk mengantarkan si bungsu ke pesta ulang tahun temannya, kedua ingin menonton film. 

Sambil menyelam minum softdrink, sambil menonton film (kumpul bersama keluarga) penulis berharap ada nilai-nilai positif yang bisa dipetik dari film. Kami merencanakan menonton film A Man Called Ahok. Ini film ketiga yang kami tonton dalam rangka edukasi lewat film. Pertama film Sabtu Bersama Bapak, lalu film LIMA (dalam rangka hari lahir Pancasila), dan film A Man Called Ahok (menjelang hari Pahlawan).

Menyaksikan sepak terjang Ahok dari berita di layar kaca, membaca kisahnya dari dunia maya, plus film ini, penulis teringat kisah-kisah orang jujur yang memang semakin langka di dunia ini.

Dalam sejarah Indonesia, ada 2 sosok yang langsung terlintas di benak penulis jika membicarakan tentang kejujuran. Pertama Bung Hatta (Proklamator) dan kedua: Jendral Hoegeng Imam Santosa (mantan kapolri).

Kembali ke soal film Ahok. Niatnya ingin nonton film sekitar pukul 19.00, tapi apa daya, jam tayang terdekat semuanya nyaris penuh. Hanya menyisakan 2 baris terdepan! Daripada harus datang besok lagi atau memaksa nonton film di deretan depan, penulis putuskan membeli tiket pukul 21.30. Itu pun bagian tengah sudah penuh, terpaksa kami memilih yang kursi di deretan kanan (yang penting tidak di barisan depan).

Khawatir juga nonton film malam-malam. Khawatir kedua buah hati kami tertidur (biasanya paling telat jam sembilan malam mereka sudah tidur) dan khawatir sulit mendapatkan ojek online saat pulang. Untungnya kedua kekhawatiran itu tidak terjadi. Kedua buah hati kami tidak tertidur dan saat pulang sekitar 23.15 kami tidak kesulitan mendapatkan transportasi online.

Penulis termasuk orang yang sangat sensitif. Tidak harus menyaksikan film sedih, dengar lagu atau bercerita tentang sesuatu yang inspiratif pun, air mata bisa mengalir deras. Nonton video YouTube What Would You Do? penulis selalu menitikkan air mata.

Nonton film Ahok? Jelaslah air mata mengalir deras. Pop corn dan softdrink tidak tersentuh. Penulis terhanyut pada kisah mantan gubernur DKI Jakarta. Bagus nggak filmnya?

Silakan Anda saksikan sendiri. Saat menulis artikel ini penulis baru tau, ternyata ada "perang" antara film Ahok dengan film Hanum & Rangga. Ahok dikenal dekat dengan Jokowi (capres petahana) dan film H&R yang diangkat dari novel Hanum Rais, putri Amien Rais (pendukung capres Prabowo) yang beberapa waktu lalu jadi topik pembicaraan karena membela Ratna Sarumpaet. 

Ada 3 kesamaan di kedua film nasional ini: sama-sama diangkat dari buku  (satu karya Hanum Rais, satu karya Rudi Valinka), sama-sama tayang perdana 8 November 2018, dan meski kisahnya bukan tentang politik tapi keduanya ada "aroma politiknya". Film mana yang lebih laris? Nanti kita lihat saja beritanya di media.
.
Anda ingin nonton yang mana, terserah kepada Anda. Itu pilihan Anda. Pilihan penulis untuk film keluarga kali ini adalah film Ahok. Tidak ada unsur politis. Kami menonton dengan membeli tiket (antre sendiri, pakai uang sendiri, tidak ada pembagian tiket gratis atau promo beli 1 gratis 1). Saat kami antre tiket, kebetulan  antrean pembeli tiket film Ahok lebih panjang daripada antrean pembeli tiket Hanum & Rangga.

Silakan pilih film yang akan Anda tonton, selera kita mungkin berbeda. Begitu juga pilihan kita saat pilpres nanti. Apa pun pilihan Anda, kita tetap berteman, kita sama-sama cinta NKRI dengan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika-nya.

Bagi penulis, setidaknya ada 2 hal yang bisa dipetik dari film ini, kejujuran dan toleransi. Salut atas didikan King Nam (ayah Ahok) yang menanamkan nilai kejujuran (jujur dan berani melawan ketidakjujuran) dan toleransi (tak peduli suku Padang, suku Jawa, suku Ambon, suku Papua, atau suku mana pun, bantulah mereka yang membutuhkan).
0 Responses

Posting Komentar

abcs