Wow, Apakah Ini Tidak Terbalik???

Ini kisah yang pernah penulis alami. Dalam sebuah angkot penuh sesak, ada penumpang yang asyik merokok. Biasanya yang komplain adalah perempuan. Merokok di angkot jelas sebuah tindakan yang tidak tepat. Jelas melanggar hak asasi penumpang lain yang ingin udara bebas asap rokok. Dan ... yang seharusnya jadi perhatian adalah di sana ada penumpang yang masih balita!

"Mas, tolong rokoknya dimatikan," kata seorang perempuan.
Yang ditegur cuek saja, seolah tidak mendengar. 
"Mas, tolong rokoknya dimatikan. Di sini ada anak-anak, asap rokok tidak baik bagi kesehatan," ulang perempuan tadi.

Saat itu penulis masih SMP, cowok yang merokok itu dewasa dan ia tidak sendirian. Penulis hanya bisa diam jadi penonton, penumpang lain pun tidak bereaksi.

"Bu, kalau mau nyaman, jangan naik angkot. Naik mobil pribadi," jawab teman perokok tadi. Penumpang lain pun tidak bereaksi. Akhirnya perempuan itu minta sopir menyetop angkotnya dan ia turun meski tujuannya belum sampai.

Note:
Mungkin banyak yang lupa, setiap orang punya hak yang sama. Perokok punya hak asasi untuk merokok, orang lain punya hak asasi menghirup udara bersih.

Contoh kasus lain seperti ini: Anda bayangkan Anda sedang sakit gigi, tetangga Anda nyetel musik dengan suara kenceng-kenceng. Anda pasti marah. Jawaban tetangga Anda, "Ini radio saya, saya beli dengan uang saya, saya setel di rumah saya, kok lu yang sewot? Kalau nggak suka, pindah sono ke hutan.  

* * * * *

Di kemudian hari, penulis terlibat debat sejenis di dunia maya (topiknya tentang orang yang merokok di tempat umum, bertindak seenaknya saja tanpa peduli orang lain). 

Kali ini, lucunya yang membela perokok adalah seorang perempuan. Kami semua yang berdiskusi tidak dalam satu kendaraan, hanya diskusi dari status seseorang tentang tingkah laku perokok. Jadi di kasus itu, tak ada di antara kami yang berdiskusi ini, terlibat langsung dalam kejadian tersebut.

"Kalau mau nyaman, nggak terganggu asap rokok, tinggal saja di hutan," kata perempuan itu.

Wow ... dunia memang sudah terbalik.

Ada orang yang bertindak tidak sesuai norma, kita yang harus pergi. Jika ada tetangga sebelah rumah Anda komplain saat Anda membakar sampah di depan rumah Anda yang mengakibatkan asap dan abu pembakaran masuk ke rumahnya, Anda tinggal teriak saja, "Kalau tidak mau terganggu asap, tinggal saja di hutan."

Hmmm ... penulis tak sanggup berkata-kata lagi.

Kalau pun akan bicara, mungkin kalimat ini yang akan penulis lontarkan, "Halo, Ibu sehat???"


Catatan
Pada posting dengan label "Sebatang Rokok", penulis akan menceritakan banyaknya efek negatif rokok bagi kesehatan dan lingkungan. Penulis yakin, banyak orang yang tidak sepakat dan akan memberikan aneka bantahan. Itu sah-sah saja, semua orang bebas berpendapat.

Silakan saja merokok, asalkan jangan bagi racun (baca: asap-nya) kepada orang di sekitar Anda. Anda bebas merokok (Anda yang beli dan risiko Anda yang tanggung sendiri), ya itu tadi, asal jangan bagi racun ke lingkungan di sekitar Anda.
0 Responses

Posting Komentar

abcs