Liburan ke Yogya (2): Keraton Yogyakarta

Rabu, 26 Desember 2012 dari hotel di jalan Dagen kami menuju ke Keraton Yogyakarta. Tiket masuk hanya Rp 5.000 per orang. Dan untuk yang membawa kamera, dikenakan tambahan Rp 1.000 (izin untuk memotret).

Ada banyak pemandu untuk wisatawan, bisa dalam bahasa Jawa, Indonesia, juga bahasa Inggris, Belanda, dan lainnya. Pemandunya resmi dan berseragam. Koleksinya banyak sekali, dan hanya di beberapa tempat yang dilarang berfoto. Para pemandu memang sudah disiapkan dan berseragam. Anda tidak dikenakan biaya lagi karena Rp 5.000 itu sudah termasuk biaya pemandu wisata. Anda ingin keliling dan melihat-lihat sendiri pun tidak masalah. Anda bebas mau masuk ke gedung sebelah mana dulu dan mau berfoto di mana.

Penulis sekeluarga berfoto di banyak tempat dan memotret beberapa koleksi yang menarik di mata penulis. Penulis juga berfoto dengan salah seorang abdi dalem keraton serta memotret para abdi dalem yang sedang duduk santai. 

Setelah puas melihat suasana Keraton, ngobrol dengan salah satu pemandu di sana, dan puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Sari (tempat pemandian raja dan permaisuri Keraton).


Taman Sari

Tiket masuk Rp 3.000 per orang. Di sini tidak ada pemandu, jadi harap Anda berhati-hati. Sebaiknya jangan hiraukan orang yang "berbaik hati" menawarkan jadi pemandu. Kalau Anda ikut, di akhir kunjungan Anda dimintai uang tips. Satu hal lagi yang membuat tidak nyaman adalah pemandu wisata nyerocos terus tentang sejarah Taman Sari dan Anda tidak leluasa mau foto di tempat yang Anda suka. Selesai menerangkan satu tempat, dia akan mengajak Anda ke ruangan lain. Anda tidak bebas mau bersantai di mana, mau foto di mana. Pemandu tentu ingin cepat-cepat selesai, terima tips, lalu cari wisatawan lain.


Kota Gede
Lanjut ke kawasan Kota Gede yang terkenal dengan aneka kerajinan peraknya. Kami hanya window shopping. Kami bukan kolektor dan juga di rumah kami tidak ada tempat untuk menaruh pajangan berupa miniatur dan perhiasan lain yang harganya berjuta-juta.

Makan siang di sebuah rumah makan di jalan Parangtritis Km7. Lanjutkan perjalanan menuju Pantai Parangtritis. Ehm... sepanjang perjalanan penulis sering melihat tulisan Paris untuk menamakan toko atau  yang lain. Setelah berpikir sejenak, oh...jadi Parangtritis disingkat Paris. Ehm... jadi Bandung yang dapat sebutan Paris van Java punya saudara kembar juga di Jawa Tengah, Paris van Java = Parangtritis.

 
Pantai Parangtritis
Ehm... ini yang jadi favorit. Bermain pasir dan ombak di tepi Pantai Parangtritis. Tiket masuk Rp 5.000 (tiket masuk Rp 4.750 plus Rp 250 premi asuransi Jasa Raharja Putera) dan kendaraan Rp 10.000.    

Sewa tikar untuk duduk santai di pantai lalu bermain air laut dan pasir. Dan tak lupa berfoto, buat video serta mengambil pasir sebagai kenang-kenangan. Jika dibandingkan dengan Pantai Pangandaran, kami masih lebih suka Pangandaran.

Selesai main di pantai, makan, lalu mencari oleh-oleh lagi: bakpia pathok. Selesai belanja oleh-oleh, kami balik ke hotel. Pesan makanan di rumah makan di jalan Dagen untuk diantar ke hotel.

Beres-beres karena besok sudah harus kembali ke Bandung dengan kereta Argo Wilis. Sampai jumpa lagi Yogya... 


Catatan: Fotonya menyusul

0 Responses

Poskan Komentar

abcs