#5DinBali: Yang Sering Dijumpai (Bagian 05/06)

Pulau Bali yang dihuni penduduk yang mayoritas beragama Hindu. Nuansa keagamaan (Hindu tentunya) terasa sangat kental di sini. 

Hampir di setiap depan setiap rumah/ toko terdapat penjor (janur), ada sesaji, ada patung (altar), dan yang khas dibalut kain motif papan catur (kotak-kotak putih hitam).

Kain motif papan catur, slah satu ciri khas Bali. Sampai-sampai tisu resto di Bandara Ngurah Rai ini menyablon tisunya dengan motif tersebut. Penulis lupa catat nama resto-nya, tapi yang penulis ingat, harga nasi putih-nya Rp 20.000/ porsi





 Penjor ditemukan di mana-mana

 Kain motif kotak-kotak hitam putih (papan catur), salah satu ciri khas Bali

Penjor di Hotel Pop, Kuta

Tempat sesaji di Penjor (Hotel Pop, Kuta)

 Sesaji ditemukan hampir di depan setiap toko, rumah, bahkan bank


 Tempat sesaji, Hotel Pop, Kuta

Saat penulis berjalan-jalan di pertokoan di sekitar Kuta-Legian, penulis beberapa kali melihat umat Hindu melakukan upacara/ pujabakti di depan toko mereka.



 Tetap khusyuk beribadah di tengah ramainya wisatawan lalu lalang


Soal ukiran (memahat batu), karya seniman Bali memang sudah sangat dikenal. Di berbagai tempat di Bali, penulis menjumpai patung-patung indah dari batu. Ini salah satu tempat penjualan patung yang penulis foto dari mobil.


 
 
Di pantai dan beberapa tempat lain, penulis melihat burung (perkutut?) hidup bebas di alam, tak ada yang mengganggu (menangkap atau menembaknya). Di kota lain, umumnya penulis hanya menemukan burung gereja yang hidup bebas.

 Burung perkutut dipantai


Umat Hindu melaksanakan pujabakti di pura (Tanah Lot)













Bali memang hidup dari sektor pariwisata dengan banyaknya pantai yang sangat indah, budaya yang menarik. Tidak heran jika di mana pun kita akan dengan mudah menemukan turis (baik yang dari Eropa/ Amerika yang biasa kita sebut bule) maupun turis dari negara-negara di Asia. Turis bersantai di pantai, berjemur, dipijat, asyik di-tatto,... Segala fasilitas pendukung juga lengkap: hotel, resto, cafe, money changer, toko souvenir, penyewaan papan selancar, penyewaan parasol, penyewaan sepeda/ motor, dan lain-lain. 


Siap dibuat tatto

Turis asyik belajar selancar

Turis sedang berjemur

Turis sedang bersantai di pantai

Turis sedang dipijat

Money changer ada di mana-mana


Minimarket menjamur di mana-mana. Yang jaringannya luas (Indomaret dan Alfamart). Jika di Bandung, minimarket yang sering penulis temukan adalah Yomarty, di Bali penulis sering menemukan Mini Mart. Mungkin ini minimarket lokal Bali?

Ketika di Bandung, penulis diminta membayar Rp 200 jika menggunakan kantong kresek untuk mengisi barang belanjaan, tapi selama di Pulau Dewata penulis tidak pernah diminta bayar (mungkin tempat-tempat penulis belanja dekat dengan daerah wisata, yang pasti harganya lebih mahal, dan mungkin saja harga barang sudah termasuk harga kantong kresek-nya).

Kalau ingin puas liburan di Bali, tampaknya harus lama. Wisata pantai saja sangat banyak yang bagus untuk dikunjungi. Maklum saja, ini Pulau Bali (sekeliling pulau tentu saja pantai). Silakan jelajahi sekeliling Pulau Bali untuk menikmati pantainya.

Yang disayangkan, penulis tidak sempat berkunjung ke salah satu ikon wisata belanja (kaos) di Bali, yakni Joger (pabrik kata-kata). Entah kenapa, yang sering penulis dengar dari teman, mereka selalu menyebut kata ini dengan e keras (Jogér). Saat menyebut tempat belanja kaos ini kepada Kadek (sopir mobil rental), ia bingung. Ternyata ia melafalkannya dengan huruf e lemah Joger. Mana yang benar ya?
  
0 Responses

Poskan Komentar

abcs