Ingin Kalahkan Ahok? Tunjukkan Prestasi Nyata

Sebenarnya penulis agak segan menulis tentang SARA (Suku Agama Ras Antargolongan). Zaman sudah semodern ini, teknologi sudah jauh sampai ke luar angkasa, sementara kita masih ribut soal SARA. Tapi tidak apalah singgung soal SARA sedikit, toh penulis bukan bermaksud mendiskreditkan atau menjelekkan. Hanya sebagai contoh kasus.

Sifat nepotisme (dari Wikipedia penjelasannya seperti ini: Nepotisme berarti lebih memilih saudara atau teman akrab berdasarkan hubungannya bukan berdasarkan kemampuannya). Dalam pandangan umum, nepotisme diartikan lebih memilih yang masih ada hubungan (hubungan darah atau bisa hubungan daerah). Pejabat tingginya misalkan dari suku Jawa, staf yang dipilihnya kebanyakan suku Jawa, dan biasanya diartikan negatif karena dipilih berdasarkan ada hubungan tadi (darah ataupun daerah), bukan prestasi.

Menurut penulis, itu sifat alami manusia. Dalam keseharian, misalkan saat bertemu orang baru misalkan di tempat wisata atau dalam rombongan tour saat bepergian. Sangat wajar jika seseorang lebih cepat akrab dengan orang yang satu kota asal (meski awalnya tidak kenal) atau satu suku. Ngomong jadi lebih lancar (bahasa sama) atau bisa tukar cerita soal masa kecil di kota asal, dan lain-lain.

Anda juga perhatikan, jika sedang membeli sesuatu, ternyata penjualnya adalah suku yang sama atau berasal dari daerah yang sama, biasanya mereka langsung akrab. Dan tidak mustahil, misalkan beli nasi plus lauk, orang yang sama daerah atau sama suku lalu bicara dengan bahasa daerahnya, pembeli ini akan dapat lebih (mungkin porsi nasinya lebih banyak daripada pembeli lain). Kesamaan ini bisa merembet ke persamaan lain, misalnya agama. Bahkan kesamaan agama bisa membuat pengaruh jauuuh lebih besar.

Bagi penulis, nepotisme yang logis, masih wajar. Bagaimana yang logis? Ya, soal beli nasi di warteg atau di rumah makan Padang. Kalau Anda asli Tegal dan beli nasi di warteg, Anda dapat nasi lebih banyak atau harga lebih murah daripada pembeli nonTegal, selama pembeli lain tidak dirugikan, itu hal yang wajar. 

Porsi dan harga pembeli lain tetap sesuai standar. Jadi bukan nasi untuk pembeli yang orang Tegal lebih banyak tapi pembeli nonTegal nasinya dikurangi (jatah nasi pembeli ini dikurangi untuk menutup kelebihan nasi yang diberikan ke pembeli yang orang Tegal tadi). Atau harga untuk pembeli asal Tegal ini lebih murah daripada harga normal (murah Rp 1.000), tapi pembeli nonTegal dinaikkan Rp 1.000. Itu tidak adil.

Jadi selama harga nasi telor misalnya Rp 7.000, pembelinya orang Tegal harus bayar Rp 7.000 (tapi dapat nasi lebih banyak) dan pembeli lain tetap Rp 7.000 dengan jumlah nasi dan lauk standar, tidak ada masalah. Yang "rugi" adalah penjual (dia ambil untung lebih sedikit dari orang sedaerahnya).

Lain soal kalau isi nasi dan lauk sama, orang Tegal dapat harga Rp 6.000 lalu pembeli lain disuruh bayar Rp 8.000. Ini jelas pembeli lain yang dirugikan karena mensubsidi Rp 1.000 ke pembeli yang orang Tegal tadi.

Atau personalia yang akan memilih 1 karyawan di antara sekian karyawan yang melamar kerja. Jika hasil tes dari pihak lain (lisan dan tertulis) para pelamar laki-laki yang sudah lolos seleksi dan sampai ke meja manajer personalia hasilnya sama, semua nilainya misalkan 90. Tinggal pilih salah satu. Pas baca, tempat tanggal lahir, salah satu calon karyawan ternyata 1 kota dengan manajer personalia dan itu yang dipilih. Wajar? Kalau menurut penulis, ini masih dalam tahap wajar dan bisa ditoleransi. Lain soal kalau orang sedaerah nilai tes-nya 80, yang lain 90, tapi manajer personalia pilih yang nilai 80!

Itu sifat alami manusia. Lantas apa hubungannya dengan pilgub DKI yang akan datang?

Kesamaan ini pula-lah yang sedang ramai dibicarakan, dan jadi senjata lawan Ahok. Pilih pemimpin yang seiman. Penulis sama sekali tidak akan ikut campur tentang kebenaran dalil ini ada di dalam agama. Sama sekali tidak berniat karena memang tidak punya kapasitas untuk bicara tentang itu.

Penulis sangat maklum tentang anjuran memilih pemimpin yang seiman. Hal ini sudah pernah dilakukan saat pilgub DKI lalu (Jokowi berpasangan dengan Ahok, yang santer disebut kafir) atau saat pilpres (Jokowi pun diragukan agama-nya). Tapi toh... dalam kedua pemilihan tersebut, keduanya tetap menang.

Lantas dalam logika berpikir penulis, penulis coba menganalisa, mengapa pasangan pemimpin yang agamanya sama dengan agama mayoritas pemilih, kok bisa kalah dengan pasangan yang beda agama? Padahal pasangan yang seagama ini, adalah agama mayoritas penduduk atau pemilih di DKI. Pasangan yang tersedia hanya 2: Jokowi-Ahok dan Foke-Nara.

Apakah para pemilih ini tidak percaya pada anjuran agama-nya untuk memilih yang seiman? Atau pemilih sudah bosan dengan janji pemimpin yang selama ini tidak sesuai kenyataan? Janji akan sejahterakan rakyat tapi ternyata lebih mementingkan partai atau pribadi (korupsi). Atau pemilih lebih memilih calon pemimpin yang track record-nya jelas baik dan sesuai dengan janji? Track record (rekam jejak) Jokowi memimpin Solo dan Ahok memimpin di Belitung Timur dinilai masyarakat baik dan itu yang lebih jadi dasar dalam menentukan pilihan.

Menurut penulis, kemenangan Jokowi atau Hok lebih ditentukan rekam jejak (kinerja dan tidak korupsi). Setidaknya mereka tidak jadi tersangka oleh KPK. Bukan pula dengan politik uang ataupun kampanye hitam. 

Kalau dulu Ahok hanya jadi orang ke-2 (wakil gubernur), sekarang Ahok akan jadi nomor 1 (gubernur), pilih pemimpin yang seiman pasti akan lebih mengemuka. Pasti lebih lantang disuarakan. Akankah lawan Ahok menang? Atau Ahok akan kembali sukses melanjutkan jabatan gubernur DKI? Biar waktu yang akan menjawabnya.

Tapi logika penulis sebenarnya sangat sederhana. Ingat soal contoh beli nasi di warteg atau manajer personalia pilih karyawan tadi? 

Jika masyarakat menilai rekam jejak pasangan lawan Ahok-Heru sama baiknya, misal nilainya sama di mata masyarakat (katakanlah sama-sama punya nilai 90), penulis yakin mayoritas pemilih pasti tidak akan memilih yang seiman (itu hal yang wajar). Anda akan membeli mie instan. Mie instan di toko A Rp 1.500, mie instan di toko B Rp 1.500. Merek dan kualitas mie instan sama. Toko A adalah milik orang sedaerah atau satu agama dengan Anda, sangat wajar dan bisa dimaklumi jika Anda memilih untuk beli d toko A.

Balik ke kasus pilgub DKI 2017. Bagaimana jika pemilih yang tidak sama agama dengan pasangan yang ada? Anggaplah yang Kristiani semua pilih Ahok-Heru, yang Buddha, Hindu, dan Konghucu juga pilih Ahok-Heru, yang Islam pilih lawan Ahok-Heru. Saya yakin, hasil akhir pasangan Ahok-Heru akan kalah dan pasangan lawannya akan menang. Itu jika masyarakat memilih berdasarkan agama dan penilaian masyarakat kedua pasangan itu dapat nilai yang sama. Ditambah lagi ada penilaian cara bicara Ahok dianggap kasar, tidak sopan, bisa jadi yang seagama pun pindah ke lawan Ahok (ingat asumsi: nilai kedua pasangan ini sama).

Menurut saya, ada 2 cara mengalahkan pasangan Ahok-Heru. 

Pertama: cari pasangan yang prestasinya minimal sama dengan Ahok-Heru. Kalau bisa yang jauh lebih bagus.

Kedua: (jika berharap isu pilih pemimpin seiman ini berpengaruh besar), usahakan pasangan yang maju untuk pilgub DKI 2017 hanya 2 pasangan. Sama seperti pernyataan Abraham Lunggana yang mengatakan kalau sekarang pilgub dan hanya ada 2 pasangan, Ahok dan saya: yang tidak pilih Ahok pasti pilih saya, yang tidak pilih saya pasti pilih Ahok, dan saya yakin saya menang.

Penulis coba cari video ucapan Lulung yang mengatakan "Yang tidak pilih Ahok pasti pilih saya, yang tidak pilih saya pasti pilih Ahok, dan saya yakin saya menang" belum ketemu. Sementara itu, penulis tampilkan video ini dulu deh...


Menurut penulis, keputusan pemilih untuk memilih pemimpin seagama, sesuku,  atau sedaerah asal, bukanlah sebuah keputusan yang buruk (selama nilai calon pemimpin itu sama baiknya). Itu sudah jadi sifat dasar manusia, menurut penulis, itu secara otomatis akan dilakukan pemilih. Ingat kasus beli mie instan di toko A atau B. 

Kalau calon pemimpin yang diusung sama baiknya dengan calon lawan atau bahkan lebih baik, tak perlu iklankan pilih pemimpin seagama, sesuku, atau sedaerah, pasti akan menang.

Kalau iklan seperti ini tetap dimainkan? Menurut penulis, itu artinya kemampuan, prestasi, rekam jejak, program atau  visi misi dari calon yang diusung tidak sebagus lawan atau bahkan bisa jadi lebih buruk daripada lawan sehingga hanya iklan seperti ini yang bisa diandalkan.

Menurut penulis, negara kita tercinta memang sangat kekurangan orang jujur. Coba saja Anda diminta sebutkan 10 tokoh publik yang jujur (penulis rasa, Anda akan kesulitan), tapi kalau diminta sebut 10 koruptor, Anda tentu akan dengan mudah menyebutkan nama-nama mereka.

Jika yang muncul di kertas suara (pasangan Ahok & pasangan Mr. X), kualitasnya sama baiknya (atau bahkan lebih baik), tanpa iklankan  pilih yang seiman pun, penulis yakin Ahok pasti kalah. Pilih yang satu agama, satu daerah, satu suku, adalah insting dasar manusia (jika pilihan yang ada sama baiknya).


Baca juga:

Bicara pilgub, andai penulis ikut pilgub DKI dan ada ini pilihannya (klik nama untuk melihat foto mereka):

Artalyta Suryani alias Ayin (Kristiani)
Risma Triharini (Islam) 

Dengan mantap, penulis pilih Risma Triharini.
Catatan: (sebenarnya segan untuk menuliskan data ini), penulis keturunan Tionghoa dan beragama Buddha.


Kalau cagub-nya di bawah ini, penulis pilih mana?
Ridwan Kamil (Islam)
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (Kristiani)
Risma Triharini (Islam)

Penulis angkat tangan deh. Tidak bisa memilih (bukan karena agama, suku, atau daerah asal). Semua sama bagusnya... (mereka pemimpin idaman).
Tapi siapa pun yang terpilih, penulis ikut bahagia.

Tapi itu hanya berandai-andai, penulis tinggal di Bandung, jadi tidak ikut pilgub DKI.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs