Pengembangan Ide atau Plagiat?

Belasan tahun lalu (ketika kuliah), penulis pernah mengirim Surat Pembaca ke harian lokal dan dimuat. Isinya? Penulis mengomentari cerita anak karya seorang penulis. Mengapa penulis mengirim Surat Pembaca ini?
Beberapa cerita anak karya penulis tersebut (sebut saja AD), inti ceritanya sama persis dengan cerita anak yang pernah penulis baca saat masih SD! Cerita ini tentang kemampuan seorang anak menuntaskan kasus (detektif cilik). Di buku yang penulis baca, nama tokohnya Detektif Bintang.
Kok inti ceritanya sama? Akhirnya ditanggapi oleh AD. Di awal tulisannya ia mengucapkan terima kasih karena tulisannya untuk anak ternyata dibaca oleh mahasiswa. Kemudian AD menjelaskan itu bukan plagiat, tapi mengembangkan ide.
Penulis tidak melanjutkan "perdebatan" ini di harian tersebut. Pertama sudah tidak "sreg" dengan tanggapan. Kedua, disibukkan dengan kegiatan perkuliahan.
Tapi diskusi tentang hal ini dilanjutkan dengan teman penulis (Agus Mulyawan). Agus, teman kuliah penulis ini, anak seorang kepala sekolah. Kebetulan ia juga pernah membaca cerita Detektif Bintang ini.
Versi kami, cerita itu jiplakan/ plagiat (AD tak mengatakan kalau ia adalah penulis cerita Detektif Bintang yang asli). Jadi kesimpulannya, AD bukanlah penulis Detektif Bintang yang sebenarnya, yang duku pernah kami baca. Hanya cerita detektif karya AD ini "kebetulan" banyak yang mirip.

Terkadang orang sering berdalih, kemiripan itu hanya kebetulan saja. Tapi dalam kasus ini, beberapa cerita karya AD yang sudah dimuat, inti cerita (kasusnya) sama dengan cerita Detektif Bintang. Jadi bukan hanya 1 cerita saja. Tidak pas kalau dibilang hanya kebetulan (kebetulan kok berkali-kali sama)?

Ini pendapat pribadi penulis. Inti dari sebuah cerita, singkat saja. Contohnya sebuah kasus, hilangnya sepotong ikan goreng di rumah teman sang detektif. Bagaimana detektif memecahkan kasus ini? Ia meminta semua anak di rumah itu menyodorkan kedua tangannya ke kucing. Kucing menciumi satu persatu telapak tangan anak itu. Pas tangan "pencuri" kucing itu berhenti dan menjilat-jilat. Jadi meski sudah cuci tangan, kucing masih bisa mengendus aroma ikan goreng tersebut.

Itu saja inti ceritanya. Kalau hanya mengganti nama tokoh (misal: nama Bintang jadi Dewa), mengubah lokasi cerita (rumah Andi jadi rumah Toni), atau hal lain, bagi penulis, itu tak terlalu berpengaruh pada isi cerita.

Jadi kesimpulan penulis, karya AD itu jiplakan atau plagiat. Kalau bukan plagiat? Wah... kita mudah sekali menulis cerita/ cerpen. Tinggal ganti asesories ceritanya. Nama tokoh, lokasi, dan lain-lain yang tidak mengganggu inti cerita. Mirip dengan lagu. Kalau hanya mengganti syair, pantaskan kita disebut pencipta lagu? Nada/ melodi sama, hanya beda syair (baik itu menerjemahkan arti lagu aslinya atau syairnya benar-benar berbeda), tetap saja kita bukan pencipta lagu. Hanya kita tulis, lagu oleh si Anu, syair/ lirik oleh kita (itu pun kalau untuk komersial, harus izin dulu ke pencipta lagunya).


Sekali lagi, ini hanya pendapat pribadi. Maklum saja, pengetahuan penulis tentang dunia tulis menulis masih minim.

Catatan:
Tulisan dengan Labels: "Artikel Bahasa" ini ditulis dalam rangka Bulan Bahasa (Oktober 2010).
2 Responses
  1. Anonim Says:

    Saya juga pernah baca cerita Detektif Bintang ini...

  2. Hendry F.Jan Says:

    Terima kasih sudah mampir dan berkomentar.

    Salam,

    Hendry F.Jan
    www.rekor.blogspot.com

Poskan Komentar

abcs