Ketika Uang di Atas Segalanya (bagian 2)

Dhika, putra sulung penulis ikut les bahasa Inggris di sebuah tempat kursus rumahan di dekat sekolahnya. Selain menerima murid les bahasa Inggris, ternyata guru tersebut juga menerima les bahasa Mandarin.

"Waktu les, buku bahasa Inggris dari sekolah juga dibawa ya?" kata Ibu guru les. "Nanti akan dilihat pelajaran bahasa Inggris-nya sudah sejauh mana?" Kalau ada PR akan kita bahas" lanjutnya saat penulis mendaftarkan Dhika dan diwajibkan membayar uang pangkal Rp 50.000.

Suatu hari, Dhika dapat tugas menghafalkan puisi bahasa Mandarin. Yang jadi problem, buku cetak sekolah ini menggunakan buku yang biasa digunakan sekolah di Singapore. Jadi di bawah puisi yang bertulisan kanji tersebut, tak ada tulisan latin cara membacanya. Kalau ada huruf latinnya, penulis bisa mereka-reka bagaimana lafalnya. Meski nyaris buta aksara Tionghua, penulis masih mengerti sedikit percakapan bahasa Mandarin.

Tugas Dhika adalah menghafal puisi tentang rumah yang terdiri dari 4 baris tersebut dan mendeklamasikannya di depan kelas.

Ketika Dhika pulang, penulis menanyakan, "PR-nya sudah selesai?" Ternyata Dhika menggelengkan kepalanya. "Lho... kok belum selesai? Lupa tanya ke Miss?" tanya penulis. "Sudah, kata Miss tidak boleh tanya PR bahasa Mandarin karena Dhika les Inggris" kata Dhika.

Busyet.... baru kali ini penulis menemukan guru yang setega itu. Anak kecil (kelas 2 SD) menanyakan PR bahasa Mandarin kepada guru les bahasa Inggris-nya, dijawab seperti itu. Apa salahnya sekali ini dijawab lalu bilang lain kali tidak boleh tanya PR bahasa Mandarin kalau les bahasa Inggris.

Kalau penulis tanya pada teman di milis bahasa Mandarin, tetangga atau bahkan bertemu orang tak dikenal di jalan (yang mengerti bahasa Mandarin pun) rasanya mereka akan dengan senang hati menjawab. Ini bukan menerjemahkan akte kelahiran, surat kontrak kerja, atau dokumen negara lainnya. Juga bukan menerjemahkan novel untuk diterbitkan dan dijual secara komersial.

Hanya 4 baris kalimat puisi anak kelas 2 SD (yang tentu saja kosa katanya belum rumit). Entah karena memang tak cocok dengan cara guru itu mengajar, Dhika hanya les 1 bulan dan tak melanjutkannya lagi.

Akhirnya penulis minta bantuan Papa penulis (kakek Dhika) menerjemahannya. Berikut hasil terjemahannya (meski Anda, para pembaca blog ini bukan murid les penulis, penulis beritahukan isi puisi tersebut dalam lafal Mandarin dan artinya dalam bahasa Indonesia, GRATIS). Silakan disimak...



Su lin li, chau ti sang
(Di dalam hutan, di atas tanah/ rumput)

Yiu ce fang ce, cen phiau liang
(Ada sebuah rumah, yang sangat indah)

Hung de chiang, li te chuang
(Berdinding merah, berjendela hijau)

Cin se de ta men, san cin kuang
(Berpintu warna emas dan memantulkan cahaya keemasan)



NB:
Waktu mendaftarkan Dhika les di sana, penulis tidak sempat menanyakan nama Miss tersebut, apalagi nama Tionghuanya (karena selain tidak penting, penulis juga tidak siap kalau untuk tahu nama Mandarin-nya pun penulis tidak akan diberitahu karena tidak les Mandarin padanya). Sukses selalu Miss dan pertahankan prinsip hidup Anda. Salut!!!

Bagian pertama silakan klik: Ketika Uang di Atas Segalanya
0 Responses

Poskan Komentar

abcs