Logika Berpikir Tentang Sumpah Pocong

Hmmm... Melihat seringnya Twitter Farhat Abbas (@farhatabbaslaw) melontarkan usulan Sumpah Pocong di berbagai kesempatan dan untuk penyelesaian berbagai kasus.

Penulis jadi tergelitik membahas masalah ini dari sisi logika berpikirnya.

Kita hidup di Indonesia, negara yang berdasarkan Pancasila, setiap warga negaranya harus punya agama. Dan, sebagai orang yang beragama (apa pun agama kita), menurut penulis, setiap orang percaya/ yakin akan kebenaran hal di bawah ini (silakan Anda baca dan Anda beri pendapat apakah Anda setuju dengan apa yang penulis tuliskan).


  1. Kita yakin dengan Tuhan kita. 
  2. Kita yakin dengan kebenaran agama yang kita anut.
  3. Kita percaya dengan kitab suci kita masing-masing. 
  4. Hukum di Indonesia (juga di dunia) umumnya tidak bertentangan dengan isi kitab suci.
  5. Siapa yang berani melecehkan kitab suci (baik secara fisik, ataupun isinya), ada jutaan umat agama tersebut yang akan bersiap membela.

Setiap pelantikan pejabat, pejabat disumpah sesuai dengan agama yang dianutnya (saat disumpah kitab suci dipegang petugas dan berada di atas kepala yang disumpah). 

Isi kitab suci adalah kebenaran yang tak terbantahkan dan diyakini umat pemeluk agama tersebut. Inilah kebenaran tertinggi. Apa yang dilakukan di dunia ini, kita selaraskan dengan apa yang diajarkan kitab suci.

Jadi sudah sepantasnya-lah jika sumpah jabatan dilakukan dengan menggunakan kitab suci sesuai agama pejabat yang dilantik. 

Kita semua yakin, apa pun yang akan kita dapatkan (kebahagiaan) di dunia ini, kita tidak akan kita tukarkan dengan kebahagiaan di akhirat nanti. Pada intinya seperti itu (minimal ucapan), meski pada praktiknya tidak demikian.

Sampai sejauh ini, apakah Anda setuju?

Nah... jika setuju, penulis tak habis pikir jika Farhat Abbas menempatkan "Sumpah Pocong" di atas (baca: lebih tinggi) daripada sumpah menggunakan kitab suci. Selama ini sumpah jabatan sudah dilakukan secara agama (memakai kitab suci), tapi dinilai tidak cukup dan... entah ditambah sumpah pocong atau diganti dnegan sumpah pocong. 

Logika berpikir seperti itu tidak bisa penulis terima (Anda boleh sependapat, boleh juga tidak). Bebas saja, ini demokrasi.

Farhat Abbas gencar mempromosikan Sumpah Pocong untuk presiden, koruptor, dan lain-lain. Yang penulis tangkap dari ucapannya, percuma saja sumpah jabatan dengan kitab suci (orang-orang tetap korupsi kok). Kalau berani, Sumpah Pocong saja.

Tapi bagi penulis, logikanya terbalik. Sumpah jabatan yang menggunakan kitab sucinya (agama yang ia yakini dan ia anut sejak lahir pun) masih berani dilanggar, apalagi sekedar Sumpah Pocong?

Penulis yakin, banyak yang berani menghina siapa pun di dunia ini kecuali menghina Tuhan. Penulis yakin, banyak yang berani saat berdemo menghina presiden, raja, menteri, dan lain-lain. Tapi, penulis tak yakin ada yang berani berteriak di depan umum menghina Tuhan (sekali pun itu Tuhannya sendiri). Pertama ancaman hukuman neraka kelak, kedua ada jutaan umat yang merasa marah/ murka atas ucapan tersebut karena itu bukan Tuhan Anda tapi juga Tuhan mereka.

Menurut penulis, untuk membuat jera pelanggar hukum (terutama korupsi, narkoba), maksimalkan hukuman penjara, jangan beri remisi, grasi, dan sanksi kerja sosial (misalnya menyapu di jalan umum, di pusat perbelanjaan, dan lain-lain). Tapi syaratnya, para penegak hukum kita mentalnya harus diperbaiki. Kalau masih bisa disuap, sama saja... Peran pemuka agama sangat diharapkan untuk memperbaiki moral masyarakat Indonesia.


Silakan berkomentar, asal jangan bawa SARA (Suku Agama Ras Antargolongan). Dalam tulisan ini, penulis tidak menyebutkan agama apa pun, semua agama pada dasarnya baik. Jika ada yang tidak benar, itu orangnya yang salah, bukan agamanya. Ayo diskusi yang sehat, jangan pakai emosi.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs