Ahok Nggak Ada Apa-Apanya???

Dalam berbagai kesempatan, penulis membaca berita dan menonton tayangan berita terkait Ahok, gubernur DKI dan juga sebagai cagub DKI 2017. Dan dalam kesempatan itu, reporter mewancarai banyak tokoh publik (terutama yang antiAhok), penilaian mereka relatif sama. Komentarnya kurang lebih sama: Tidak ada bagusnya, banyak negatifnya. Masyarakat tidak suka pemimpin yang kasar. Banyak pemimpin lain yang jauh lebih banyak daripada Ahok, dan lain-lain. Intinya, nyaris tak ada apresiasi atas kinerja Ahok. Buruk di mata mereka dan juga di mata masyarakat DKI Jakarta (ini menurut mereka). Hanya segelintir orang yang suka atau bahkan dibayar Ahok untuk mendukung beliau.

Tapi penulis melihat fakta di lapangan sangat berbanding terbalik. Jika mereka yakin seburuk itu kinerja Ahok, sangat banyak yang benci (mayoritas tidak suka), banjir masih ada, macet juga, sering menggusur rakyat kecil, dan lain-lain, tapi kok segerombolan orang sepakat melakukan segala cara untuk menjegal Ahok (kalau bisa, dalam surat suara nanti, nama dan wajah Ahok tidak muncul)? Bukankah jika seburuk itu kinerja Ahok, apa yang perlu dikhawatirkan? Bukankah sebagian besar rakyat DKI Jakarta tidak suka Ahok?

Lawan politik sangat sibuk memikirkan cara untuk menjegal Ahok, bukan meyiapkan program kerja yang bagus untuk kemajuan DKI Jakarta. Langkah paling awal tentu menjegal lewat isu SARA (Suku Agama Ras Antargolongan).

Sebegitu buruknya kinerja Ahok di mata mereka, tapi faktanya sebegitu takutnya mereka pada kekuatan seorang Ahok yang maju dari jalur perseorangan/ independen tanpa dukungan partai???


Silakan klik tautan berita berikut ini:
  1. Yusril: Mau Kumpulin KTP 3 Juta kalau Enggak Ada Cawagubnya, Harus Diulang (Teman Ahok harus kumpulkan ulang KTP dukungan pasangan Ahok - Heru Budi Hartono)
  2. Parpol Dukung Calon Independen Tak Sadar Lakukan Deparpolisasi
  3. Sekjen PDIP Klaim Bujuk Ridwan Kamil Tak Maju di Pilkada DKI
  4. PDIP Siapkan Risma Hadang Ahok di Pilkada DKI
  5. Diperintah Megawati, Ganjar Pranowo Siap Maju di Pilgub DKI
  6. Perberat Syarat Calon Independen, Upaya Terbaru DPR Jegal Ahok  (semula 6,5-10% dari DPT, akan naik jadi 10-15% atau 15-20% dari DPT)
  7. KPU Ingin Dukungan Bakal Calon Perseorangan Pakai Meterai (ini perlu dana 3,1 miliar hingga 6 miliar untuk biaya materai saja)
  8. KPK Belum Temukan Indikasi Korupsi dalam Kasus Sumber Waras (ini reaksinya: Fadli Zon, Lulung CS, Demonstran, Mahasiswa, dan masih banyak lagi)
  9. Tak di Rumah Saat Petugas Verifikasi KTP untuk Calon Independen, Dukungan Gugur?
  10. Jika 10 KTP Saja Bermasalah Saat Diverifikasi,Maka Ahok Akan Didiskualifikasi
  11. Niat Busuk Fahri Hamzah Ingin Gagalkan Ahok Terbongkar, Seperti Ini Modusnya 

Kita tunggu saja, apakah nama dan foto Ahok akan muncul di kertas suara pilgub DKI Jakarta. 

Buat yang dukung Ahok (Teman Ahok), selamat bekerja. Perlu kerja ekstrakeras untuk sekedar memunculkan nama di surat suara pilgub DKI  (belum lagi usaha untuk memenangkan Ahok menjadi DKI 1 untuk periode kedua ini).

Buat yang antiAhok, selamat memperjuangkan aspirasi Anda. Semoga siapa pun yang terpilih nanti, itulah yang terbaik untuk NKRI tercinta. 


Melihat aksi lawan Ahok, penulis analogikan seperti ini.

Sekolah X akan mengadakan pertandingan lari 100 meter antarsekolah. Salah satu pesertanya adalah Ahok (dari sekolah lain). Mr. X adalah salah satu peserta lomba lari yang berasal dari sekolah X. Badan Mr. X kekar, atletis, larinya cepat. Bagaimana Ahok? Menurut Mr. X, badan Ahok kerempeng, tidak jago lari, malah (maaf) kakinya pincang. Mr. X sudah sering melihat Ahok lari dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari seorang Ahok. Mr. X sangat yakin, dengan mudah ia dapat mengalahkan Ahok.

Menurut logika berpikir Anda, apa yang pantas dilakukan oleh Mr. X menghadapi hari H lomba lari 100 meter yang diadakan di sekolahnya?

Menurut penulis, logisnya Mr. X bisa bersantai saja hingga hari H. Postur tubuh Ahok tidak bagus (tidak atletis), kakinya pincang (pasti larinya lebih lambat), Mr. X sudah sering lihat Ahok berlari (tidak cepat), lombanya di sekolah Mr. X (keuntungan buat Mr. X, ia sudah kenal lapangan tempat lomba, supporter pasti lebih banyak, dan lain-lain). 

Kalaupun harus latihan, cukup latihan seperti biasa saja. Atau malah saat perlombaan, agar fair Mr. X, malah kasih kemudahan pada Ahok. Waktu start bersamaan, tapi Ahok boleh 5 meter di depan Mr. X.

Tapi tahukah Anda apa yang dilakukan Mr. X, yang menurut penulis tidak logis dan tidak sejalan dengan pernyataannya.

Mr. X mengusulkan agar Ahok didiskualifikasi saja. Ia usul agar lomba ini hanya terbuka bagi orang normal saja (yang tidak cacat fisik). Ia usulkan agar ada aturan bahwa peserta tidak boleh diantar naik mobil/ motor ke  tempat lomba (harus jalan kaki dari rumah ke tempat perlombaan). Ia siapkan banyak supporter untuk mem-bully Ahok. Di lintasan lari yang akan digunakan Ahok, ia menuangkan minyak agar licin dan menebar paku payung.

Hah??? Bagaimana masyarakat bisa percaya perkataan Mr. X jika Ahok itu tidak ada apa-apanya sedangkan tingkah laku Mr. X menunjukkan bahwa  ia takut berhadapan dengan Ahok.

Bagaimana pendapat Anda??? 
0 Responses

Poskan Komentar

abcs