Ucapan Kontroversial Para Tokoh Publik

Banyak tokoh publik yang berani bernazar meski belum tentu konsekuen melaksanakan nazarnya. Penulis rangkum tautan ke berita tersebut dari berbagai media online, tinggal klik saja tulisan berwarna biru di bawah ini.
  1. Ahmad Dhani: Saya Akan Potong Kemaluan Jika Jokowi Menang
  2. Anas: Satu Rupiah Saja, Gantung Saya di Monas  
  3. Debby Rhoma, Putri Rhoma Irama Akan Pindah Negara Kalau Jokowi Jadi Presiden
  4. Ditanya Soal Potong Jari Koruptor, Akil Tampar Wartawan
  5. Nazar Amien Rais Berjalan Kaki ke Jakarta Ditagih
  6. Tuding KTP Ahok Palsu, Politikus Ini Mau Terjun dari Monas (Habiburokhman) 
  7. Lulung: Kalau Ahok Gugat BPK ke Pengadilan, Gue Potong Kuping Gue!
  8.   
  9.  
  10.  

Ada yang ditagih namun membantah pernah mengucapkan nazar tersebut. Zaman digital dan media sosial (medsos) seperti ini, apa pun yang sedang ramai dibicarakan, dengan mudah dapat diketahui. Semua informasi ada dalam genggaman (ada di dalam ponsel pintar).

Berita heboh (nazar) tersebut, tak mungkin tidak diketahui sang tokoh publik. Jika memang tidak pernah mengucapkan kalimat tersebut (akun medsos di-hack oleh hacker, nazar itu berasal dari akun palsu, itu hasil perbuatan orang tak bertanggung jawab,...) segeralah klarifikasi sebelum peristiwa terjadi. Misal nazar tentang hasil pilpres, sebelum pilpres dimulai, segera klarifikasi jika tidak benar. Itu untuk membersihkan nama baik sang tokoh publik itu sendiri.

Jika klarifikasi dilakukan setelah peristiwa terjadi, hal ini tidak akan banyak membantu untuk memulihkan nama baik dan kepercayaan masyarakat.

Bantahan yang bersifat permainan bahasa, tampaknya juga tidak akan banyak membantu. Misalkan penulis bernazar: jika presiden X terpilih, saya berani menembak kepala saya dengan pistol.

Sebelum pilpres tak ada klarifikasi. Setelah pilpres selesai, penulis ditagih, mulai berkelit dengan segala alasan. Misalnya: Penulis tidak bilang kapan nazar akan dilakukan (bisa 100 tahun lagi, artinya penulis sudah tidak hidup lagi). Atau penulis mengelak dengan mengatakan "penulis hanya berani, bukan akan menembak kepala" atau "penulis tidak mengatakan pistol itu berisi peluru atau kosong, pistol itu pistol air atau pistol beneran, dan lain-lain."

Ucapan tokoh publik di depan umum atau di-posting di medsos, sudah barang tentu artinya merupakan sesuatu yang sudah dimengerti sebagai kesepakatan umum. Jika disebut berani menembak kepala saya dengan pistol, itu tentu secara umum dipahami sebagai menembak kepala sendiri dengan pistol berisi peluru tajam/logam dan berakhir dengan kematian. Inti dari nazar itu, yang mengucapkan nazar akan mati (bunuh diri) jika apa yang diucapkan/ nazar-nya terjadi.

Itu yang penulis tangkap dari sebuah nazar. Jadi kalimat nazar ini bukan kalimat bersayap atau kalimat yang diucapkan pakar bahasa Indonesia dalam kuliah bahasa Indonesia yang maknanya bisa bermacam-macam. Jika akhirnya dibantah dengan seribu satu alasan, penulis yakin, kita semua berani bernazar seperti itu dan tidak ada gunanya media menulis dan mencatat nazar tersebut, karena isinya hanya lelucon saja.



Bonus, ucapan tokoh publik yang bertolak belakang dengan kenyataan: 

  1. Tuding Ahok Korupsi, Justru Sanusi yang Ditangkap KPK
  2.  
  3.  
  4.  
  5.  
  6.  
0 Responses

Poskan Komentar

abcs