Pengemis Minta Gaji Rp 4 -10 Juta per Bulan!

Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung berencana menertibkan gelandangan, pengemis, pengamen, anak jalanan agar Kota Bandung menjadi lebih tertib. Mereka ditawari kerja menjadi tukang sapu jalanan dan mendapat tempat tinggal di mes Persib yang memiliki fasilitas kamar mandi dan tempat tidur yang tentu lebih layak daripada di emperan dan kolong jembatan.

Apa reaksi mereka? Mereka berdemo dan menolak. Mereka mendatangi kantor DPRD Kota Bandung serta lalu melanjutkan aksinya ke kantor Wali Kota Bandung. Mereka minta gaji Rp 4-10 juta! Kalau Rp 700 ribu tidak cukup.

Kang Emil (sapaan akrab Ridwan Kamil) hanya geleng- geleng kepala. Namun Kang Emil secara tegas meminta kepada pengemis untuk mau mengikuti ketentuan dari Pemkot Bandung. Jika tidak, penertiban akan terus dilakukan. Pekerjaan sudah disiapkan, fasilitas tempat tinggal sudah ada, dan makan diberi. Jika tidak mau, ya suka tidak suka harus taat aturan yang ada. Jalanan harus bebas dari pengemis dan anak jalanan," kata Kang Emil. 


* * * * * * * * * * *


Bagaimana logika berpikir seperti ini. Lulusan S1 yang baru bekerja pun tidak mendapat gaji sebesar itu. Mereka harus dimaklumi karena pendidikan mereka tidak tinggi? Tidak juga. Logika berpikir seperti ini tidak harus berpendidikan sarjana kok. Anda bisa lihat begitu banyak orang yang bukan sarjana tapi mereka masih punya mental juang dengan bekerja apa saja yang halal (penarik becak, pedagang, kuli, jualan sayur, dan lain-lain). Banyak kerjaan lain, pilihan bukan hanya pengemis! 

Bisa Anda bayangkan besarnya penghasilan mereka dalam sebulan. Gaji buruh pabrik atau bahkan sarjana lulusan S1 terbaru pun tidak sampai sebesar itu. 

Sudah terbiasa malas kerja, hanya menadahkan tangan, pasang muka memelas, bila perlu sewa bayi atau membuat luka bohongan agar penghasilan lebih tinggi. Kerja santai, tak perlu banyak pikir, jam kerja bebas, dan lain-lain, penghasilan jauh lebih besar daripada sarjana yang kerja kantoran. 

Maju terus Kang Emil. Kota Bandung harus jadi lebih baik. Yang mau ikut, silakan. Tidak ikut, peraturan harus ditegakkan. 

Pemerintah sudah berbaik hati memberi solusi, masih minta apa lagi? Masyarakat Bandung juga harus mendukung kebijakan pemerintah dengan tidak memberikan uang kepada pengemis. 

Logika kita selama ini, kita memberi karena posisi kita secara ekonomi lebih baik daripada mereka. Tapi tahukah Anda jika penghasilan mereka jauh lebih besar daripada Anda yang kerja kantoran dari pagi sampai sore (itu pun orangtua kita sudah menyekolahkan kita hingga sarjana dengan biaya tidak sedikit).

Jika mereka dibiarkan mengemis dan masyarakat masih mendukung (memberi uang kepada mereka), "profesi" ini akan terus ada selama masih memberikan hasil yang menguntungkan. Kita secara tidak langsung mendidik mereka jadi pemalas. Turun temurun "profesi" ini akan diwariskan karena enak dan juga anak jalanan tidak punya kesempatan mengenyam pendidikan untuk masa depan yang lebih baik.

Banyak tempat yang lebih pas untuk menerima uang yang kita sisihkan (panti asuhan, panti wredha, anak-anak penderita kanker, dan lain-lain).

Penulis jadi tertawa geli ketika terlintas pikiran lucu. Jika pengemis berdemo mendatangi Wali Kota dan minta gaji Rp 4-10 juta per bulan, bagaimana jika pekerja pabrik atau karyawan kantoran yang gajinya tidak sampai sebesar itu ikut berdemo ke pimpinan mereka.

"Pak, kami minta gaji kami dinaikkan, minimal Rp 4 juta per bulan. Kalau tidak, mendingan kami jadi pengemis saja deh..."
0 Responses

Poskan Komentar

abcs