Begitu Sulitkah untuk TIDAK KORUPSI???

Banyak sekali koruptor di negeri ini yang tertangkap. Mungkin masih banyak juga yang tak tertangkap (mungkin karena nilainya mungkin dianggap terlalu kecil atau justru sangat besar dan dilakukan orang yang berkuasa). Pelakunya juga beragam, dari pegawai rendahan, sampai pejabat tinggi.

Nah... yang jadi pertanyaan, begitu sulitkah untuk TIDAK KORUPSI???

Menurut logika berpikir penulis, menjalankan tugas dengan jujur (TIDAK KORUPSI), jauh lebih mudah daripada KORUPSI. Benarkah???

  1. Tinggal Jalankan. Menjalankan tugas secara jujur, hanya menjalankan apa yang diamanatkan undang-undang. Semua sudah diatur. Ibarat Anda membeli ponsel, buku panduannnya sudah ada. Tinggal baca dan praktikkan. Apa yang sulit? Jika untuk membuat KTP (ini hanya misalnya lho...), misalkan biayanya hanya Rp 5.000 lalu syaratnya hanya akte kelahiran asli dan foto copy, selesai maksimal 2 hari. Petugas hanya perlu memasang banner besar di kantor kelurahan, masyarakat baca dan datang dengan persyaratan yang ada. Syarat lengkap, kerjakan, beres. Apa yang sulit??? 
  2. Berbohong & Mempersulit. Bagi yang ingin KORUPSI, jelas tidak semudah untuk TIDAK KORUPSI. Mengapa? Jika ingin jujur TIDAK KORUPSI), tinggal jalankan saja, kalang ingin KORUPSI tentu perlu persiapan. Apa persiapannya? Berbobong! Jika warga tanya apa syaratnya, pegawai yang ingin KORUPSI mulai mengarang (berbohong). Syaratnya ditambah-tambah: akte kelahiran orangtua, surat nikah orangtua, surat kewarganegaraan, dan lain-lain. Anda tidak punya (kurang lengkap)? Tiap kekurangan bisa dinegosiasikan, makin banyak kekurangan, makin besar "uang damai" yang harus dibayarkan. Intinya membuat hal yang akan dikerjakan jadi sulit (mempersulit). Cari tahu ke loket atau ruangan mana atau  bagian mana untuk mengurus dokumen pun terkadang tidak mudah (dipingpong ke sana ke mari).  Tidak hanya itu, terkadang berbohong tentang apa pun. Petugas berwenang sedang tidak ada di tempat, blangkonya habis, dan lain-lain... Biaya resmi pun akan ditambahkan sekian rupiah. Ingat, jika "Anda bermain sendiri" risiko ketahuan akan sangat besar. Makanya "biaya siluman" harus besar untuk dibagikan merata dari bawah hingga atas supaya saling tutup mulut. Ingatlah, sebuah kebohongan akan diikuti dengan kebohongan-kebohongan lain. Selain itu, yang KORUPSI harus pintar berbohong saat nanti diselidiki KPK. Perlu pintar menyiapkan alasan agar tak tertangkap KPK. Ini menjadikan KORUPSI itu jauh lebih sulit daripada JUJUR (TIDAK KORUPSI) yang tinggal menjalankan semua yang sudah diatur undang-undang.

Sebenarnya (menurut penulis) mengurus dokumen apa pun tak ada yang sulit (kecuali dipersulit). Jika Anda kaya raya (punya banyak warisan tapi Anda tidak pernah sekolah dan  buta huruf), Anda ingin liburan ke luar negeri, sulitkah membuat paspor? Rasanya tidak ada yang sulit. Hanya siapkan persyaratan yang diperlukan, datang ke kantor Imigrasi, ikuti prosedur, selesai. Rasanya tidak ada yang sulit. Anda tidak dites kemampuan berbahasa Inggris karena ingin ke luar negeri. Anda tidak dites IQ (apakah IQ Anda masuk kategori yang dipersyaratkan)? Anda tidak ditanya negara yang Anda tuju berada di sebelah mana Indonesia dan berapa koordinatnya? Apakah Anda dalam kondisi sehat? Bukankah justru banyak yang dalam keadaan sakit parah mau ke luar negeri untuk berobat.

Anda punya dokumen, datang ke kantor Imigrasi, Anda bayar biaya sesuai ketentuan, selesai. Anda buta huruf tidak masalah, Anda tak bisa berbahasa Inggris tak masalah (Anda bisa bawa dan bayar penerjemah), Anda tak hafal jalan-jalan di negara tujuan (Anda bisa bayar pemandu wisata), Anda (maaf) idiot pun tak masalah (asal ada uang dan ada yang menemani Anda berwisata). Anda tidak bisa berjalan (mungkin lumpuh) atau terbaring sakit pun tidak masalah, asal ada suster, perawat, a tau bahkan dokter yang menemani. 

Rasanya tidak ada proses yang sulit (malah lebih sulit UMPTN = Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau wawancara untuk kerja) daripada urus dokumen apa pun. Yang penting ikuti prosedur yang sudah ditetapkan. Jika selama ini sulit? Rasanya itu lebih karena memang dipersulit. Peraturan/ undang-undang dibuat tentu sudah memikirkan apakah nantinya persyaratan yang diminta dapat dipenuhi oleh calon yang mengajukan permohonan.

Lantas mengapa ada biro jasa (termasuk para calo) untuk mengurus segala macam dokumen jika sebenarnya semuanya seharusnya mudah??? Apakah memang banyak yang sengaja mempersulit atau saking sibuknya seseorang, mereka rela bayar uang dengan jumlah beberapa kali lipat ke biro jasa untuk menguruskan dokumen yang sebenarnya sangat mudah untuk diurus dan tidak bertele-tele??? Entahlah...


NB:
Ini pengalaman seorang teman, sebut saja namanya Ronny. Dulu, sebagai cucu tertua, Ronny dapat tugas menjaga beberapa sepupunya saat berlibur ke Singapura. Ronny pun buat paspor. Ternyata menurut petugas di kantor imigrasi ada persyaratan yang kurang dan ia harus kembali ke Cirebon (karena dokumen-nya ada di rumahnya di Cirebon). Saat cerita ke penulis, Ronny bilang dulu dia masih lugu banget. Dia pikir apa yang ada di dunia nyata, sama seperti yang dipelajari di sekolah. Besok sudah harus berangkat, hari ini paspor belum selesai. Wah gagal berangkat nih pikirnya. Dia sudah coba minta kebijakan pada petugas, tapi tetap saja kata petugas, tanpa dokumen tersebut tidak bisa buat paspor.

Saat akan keluar dari kantor imigrasi, ada yang mendekati Ronny (belakangan Ronny baru tahu, ternyata itu calo). "Ada apa?" sapa orang itu. "Saya mau buat paspor, tapi persyaratannya kurang, jadi tidak bisa" kata Ronny. "Oh... begitu, sini saya bantu" kata orang itu sambil meminta sejumlah uang. Karena sudah frustasi, Ronny pun bersedia. Ternyata, tanpa dokumen yang diminta pun paspor bisa jadi. Calo ini tidak tahu rumah Ronny, calo ini tidak ke Cirebon, tapi kok bisa jadi? Padahal kata petugas, tanpa dokumen tersebut tak bisa buat paspor.

"Saya dulu terlalu lugu" kata Ronny sambil tersenyum kecut.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs