Sapaan Ramah yang Tidak Tulus

Semakin maju dunia, semakin egois manusia. Semakin maju dunia, semakin sulit mencari uang. Jadi tidak heran kalau dalam pergaulan sehari-hari manusia jadi lebih cuek pada sesama. Banyak yang sibuk mengurus kepentingan diri sendiri. Ini tentu bukan sebuah kesimpulan umum, tapi setidaknya itulah sekilas hal yang penulis alami.

Kalau ada yang bilang, dulu manusia lebih peduli sesama, lebih akrab, lebih ramah, gotong royong dan toleransi lebih terasa, dan lain-lain, tampaknya memang begitu. Semakin maju, semakin banyak kebutuhan, semakin banyak persaingan, semakin egois manusia. 

Saat menjemput anak penulis yang pulang sekolah, penulis duduk di kursi yang tersedia di pelataran sekolah.  Banyak orangtua murid yang sedang menunggu untuk menjemput anaknya. Yang kenal akrab mengobrol dengan temannya, yang jarang menjemput dan tidak punya banyak teman asyik dengan ponselnya.

Tiba-tiba seorang ibu menyapa penulis "Pak, itu anak Bapak?" Anak bungsu memang sudah bubaran sekolah, sekarang menunggu kakaknya. "Ya..." jawab penulis.  Mendapat sapaan ramah, langsung alarm di kepala penulis menyala (hehehe biasanya ada udang di balik batu nih). "Anaknya kelas berapa?" "Kelas satu" jawab penulis. "Wah... pintar ya, masih kecil sudah kelas satu" lanjutnya. Penulis hanya tersenyum. 

Sebentar kemudian, "Pak, anaknya biasa minum vitamin apa?" Nah... 'kan ada tanda-tanda akan menawarkan dagangan nih. "Oh...vitamin yang diberikan dokternya. Tapi tidak setiap hari kok. "Ini ada vitamin bagus Pak. Produk MLM, anak saya semua pakai ini. Badannya selalu sehat, dan seterusnya" katanya berpromosi. "Oh... vitamin itu sudah pernah pakai, saudara saya juga ada yang jadi anggota MLM itu dan dapat harga khusus." 

Langsung promo produk MLM berhenti. Di lain waktu juga begitu. Ada yang menawarkan asuransi, makanan, buku, dan lain-lain. Jarak antara sapaan ramah dengan penawaran produk terlalu dekat. Cobalah akrabkan diri dulu, tinggal di mana, asal dari mana, anaknya mudah tidak jika disuruh belajar, dan lain-lain. Beberapa hari kemudian barulah menawarkan dagangan. Seringnya, hanya beberapa menit setelah beramah-tamah, langsung promo produk (baik brosur maupun langsung produknya).

Apakah salah cara seperti itu? Tidak kok, tidak ada yang salah. Salesman/ sales promotion girl mana pun seringnya begitu. Bertemu, sapa, lalu perkenalkan produknya. Sah-sah saja. Tapi jika Anda sebagai penjual menawarkan produk itu kepada penulis, yakinlah... penulis tidak akan beli.
0 Responses

Poskan Komentar

abcs