Apakah Kasus Ini Juga Terjadi Pada Skala Besar???

Berita korupsi dan koruptor tertangkap oleh KPK bukan hal yang aneh. Itu sudah terlalu sering kita dengar. Kasus korupsi mulai dari PNS rendahan sampai level tinggi (anggota dewan, gubernur, sampai menteri) pernah terjadi.

Dalam berbagai kesempatan di TV, setiap kali ada wawancara atau diskusi atau debat, banyak pihak berkomentar tidak menyangka hal ini bisa terjadi, merasa heran kok hal ini bisa terjadi, kecolongan, atau bentuk pengingkaran yang lain. Apakah sebenarnya mereka yang berkomentar ini memang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Entahlah


* * * * *
Pada kasus markup atau bentuk kecurangan lain yang merugikan (penulis hanya bicara untuk skala kecil seperti pada perusahaan) dalam pengadaan barang atau jasa, menurut penulis adalah hal yang sangat umum terjadi. 

Markup (menaikkan harga barang/ jasa) atau memilih produk yang harganya lebih tinggi meski kualitasnya sama atau bahkan lebih jelek, atau memilih produk yang harganya sama tapi kualitasnya lebih jelek adalah "hal biasa" dan mudah dilakukan pemegang kebijakan untuk hal itu. 

Kasus ini adalah hal yang umum terjadi, tapi memang "tidak mudah" menangkap para pemainnya karena mereka pun tentu melakukannya dengan hati-hati. Andai saja tender pengadaan barang dilakukan secara transparan (banyak pihak yang dapat mengawasi), tindakan korupsi seperti ini bisa diminimalisir.

Penulis contohkan hal kecil yang penulis alami. Pekerja bangunan yang memperbaiki rumah penulis pun bisa melakukan hal ini. Ketika diminta referensi, toko bangunan mana yang bagus, dia mereferensikan toko bangunan B. Penulis biasa berbelanja di toko bangunan B. Oke deh, penulis ikuti sarannya, dia cerita toko A barnagnya bagus, harganya bersaing, dan barangnya lengkap.

Penulis dan pekerja bangunan mengendarai motor ke toko B. Sampai di sana, penulis memberitahukan barang-barang yang akan dibeli kepada karyawan toko B. Sementara penulis lihat pekerja bangunan ini mendekati pemilik toko. Dan ini yang terjadi, (maaf) bodohnya pemilik toko langsung salam tempel kepada pekerja bangunan dan mengucapkan terima kasih. Oo... ternyata ini peyebabnya si pekerja bangunan mereferensikan toko B yang ternyata tidak lebih besar dan komplet barangnya dibanding toko B.

Baru 1 atau 2 barang yang penulis sebutkan, penulis langsung bilang "Cukup, itu saja..." Langsung penulis ajak pekerja bangunan pindah ke toko A, langganan penulis.

Entahlah hal ini bisa disebut korupsi atau tidak, wajar atau tidak. Pemilik toko memberi tips karena pekerja bangunan mereferensikan tokonya adalah hal yang wajar. Ya, wajar tapi jika semua harganya tetap sama dibanding orang lain yang datang sendiri dan belanja di sana. Tapi umumnya, pemilik toko tidak mau kehilangan "uang tips" yang sudah diberikan kepada pekerja bangunan ini. Makanya semua harga barang dinaikkan sedikit-sedikit untuk mengembalikan uang tips tersebut.

Contoh lain adalah rumah makan tempat bis antarkota berhenti. Suka atau tidak suka, kita (penumpang bis) yang makan di sana, dikenai "tambahan harga" pada hidangan yang kita makan untuk membayar sopir dan kernet yang bisa makan kenyang sepuasnya (bahkan kadang plus uang tips) agar nanti sopir ini menghentikan bis-nya di sana lagi. 

Cerita lain dari teman penulis, ada oknum dokter yang nakal juga begitu. Menulis resep obat yang diproduksi pabrik obat tertentu yang memberi bonus atau fasilitas yang paling tinggi.

Sebagai penentu kebijakan, akankah kita tergoda untuk mengikuti apa yang didiktekan penjual, supplier, rekanan,  atau  apalah namanya karena ada "bonus" di balik itu ataukah kita memutuskan berdasarkan nurani dan perhitungan logis mana yang terbaik untuk kepentingan perusahaan tempat kita bekerja?

Jika kita dapat mengikuti hati nurani dan perhitungan logis mana yang terbaik bagi kepentingan perusahaan tempat kita mengabdi (bukan kepentingan pribadi) tentu inilah yang terbaik dan diajarkan agama kita.

Kadang pekerja bisa bertahan ikut hati nurani jika jumlah yang ditawarkan jumlahnya tidak seberapa, tapi bagaimana kalau jumlah angka nol-nya banyak (ratusan juta sampai miliaran rupiah)??? Atau gratifikasi seks yang ditawarkan???

Berdasarkan fakta yang ada dan logika berpikir, penulis meyakini hal ini terjadi pada skala yang lebih besar, meski tak berharap hal itu terjadi.

Pada bagian akhir tulisan, penulis tidak ingin membuat kesimpulan apa-apa. Berdasarkan fakta di lapangan di sekitar Anda, silakan Anda menilai, apakah "kasus kecil" seperti ini hanya terjadi pada lingkungan perusahaan kecil atau juga terjadi pada skala besar (pengelola dan penentu kebijakan untuk negara kita tercinta)??? Entahlah..
0 Responses

Poskan Komentar

abcs