Yang Mengadu dan Diadukan, Mana yang Jujur???

Dalam banyak kasus kita dihadapkan pada pilihan, mana yang jujur? Misalkan pada kasus korupsi, si A mengaku memberikan uang ke si B. Saat dikonfirmasi, si B mengatakan kenal saja tidak. Tidak pernah bertemu atau sekedar berkomunikasi via telepon atau SMS atau BBM. 

Jika ada 2 pernyataan yang bertentangan, menurut penulis, kemungkinannya adalah: salah satunya berbohong. Si A atau si B yang tidak jujur alias berbohong? Kita tidak bicara mana yang benar dan salah. Karena dalam kasus perselingkuhan, kemungkinan kedua belah pihak punya kontribusi dalam perbuatan itu dan keduanya bersalah (seks pranikah atau juga selingkuh).

Dalam tulisan ini, penulis fokuskan pada kasus hubungan pria dan wanita. Seringkali muncul ke publik, seorang wanita mengaku hamil dan minta pertanggungjawaban seorang pria (yang penulis bahas adalah kasus para public figure).

Sebelum mengarah pada logika berpikir penulis menarik kesimpulan, mana yang jujur, ini analisa awal penulis. 

Kita sudah sama tahu bagaimana hukum di negeri ini. Masih sering sekali terjadi, pihak yang salah bisa menang, pihak yang benar menjadi pihak yang kalah. Bisa karena uang, bisa juga plus kekuasaan.

Hukuman bisa disesuaikan dengan uang yang sanggup diberikan kepada penegak hukum. Bisa dinyatakan tidak bersalah, hukuman yang relatif ringan, sampai fasilitas istimewa ketika dinyatakan bersalah dan dipenjara. 

Dengan mengetahui fakta tadi, penulis beranggapan jika seorang wanita (karena biasanya wanita yang mengungkapkan/ mengadukan kasus ini karena merasa dirugikan) "waras" saat memutuskan untuk mengungkapkan kasus ini, wanita inilah yang jujur.

Mengapa penulis sampai pada kesimpulan ini? Anda yang benar pun (punya bukti yang menguatkan pun), jika berhadapan dengan kekuatan uang dan kekuasaan, belum tentu menang. Apalagi jelas-jelas itu sebuah kebohongan!

Jadi, kalau wanita ini "waras" ("waras" di sini bukan berarti tidak gila, tapi sudah menghitung peluang untuk menang saat melawan public figure) besar kemungkinan wanita inilah yang jujur. Jujur di sini hanya sebatas dia mengatakan pria X yang dituduhnya tidak bertanggung jawab tersebut, memang benar adalah pria X.  Fakta lain masih mungkin bohong, misal tidak pernah memberi nafkah dan hal-hal lain. Jujur di sini hanya fokus bahwa yang dituduh menghamili dan tak bertanggung jawab adalah pria X. Sedangkan pria X yang dituduh, umumnya berkelit dan bilang tidak kenal, biasanya adalah yang tidak jujur alias berbohong.

Mengapa logika berpikir seperti itu? Tuduhan melakukan perselingkuhan atau seks pranikah tentu sebuah aib baginya dan keluarga besarnya. Berita ini muncul di acara gosip ataupun berita, tentu sebuah aib yang harus segera diklarifikasi, bukan dibantah saja.

Andai Anda yang jadi pria tersebut, mungkinkah Anda (sebagai public figure yang punya reputasi baik dan punya kekuatan uang atau kekuasaan) hanya mengeluarkan ucapan: "Saya tidak kenal dengan wanita itu. Kenal saja tidak, apalagi punya hubungan sampai dia hamil dan seterusnya..."

Saya yakin, pernyataan Anda (jika benar Anda tidak kenal dan tidak punya hubungan khusus apalagi sampai mengakibatkan wanita itu hamil) dan bosan dikejar-kejar wartawan untuk berita tidak penting dan merusak nama baik Anda dan keluarga besar Anda, "Silakan bawa wanita tersebut ke sini. Suruh dia bawa foto atau rekaman kedekatan kami. Undang pakar telematika untuk meneliti foto dan video tersebut. Setelah itu, jika anak itu sudah lahir, silakan tes DNA dan saya bersedia dikonfrontir kapan saja dia mau. Masyarakat luas boleh hadir di acara ini, bila perlu siaran langsung di media televisi."

Penulis pikir, pernyataan seperti itu jauh lebih tepat daripada membantah tidak kenal, tidak punya hubungan khusus, tidak perlu menanggapi pernyataan wanita itu, dan lain-lain.

Jika Anda tidak bersalah (memang benar tidak bersalah dan tidak kenal apalagi punya hubungan intim dengan wanita tersebut), mengapa seperti berbalas pantun di infotainmen? Mengapa membiarkan keluarga besar dam nama baik Anda tercemar dan membuat keluarga besar Anda direpotkan dengan pemberitaan ini? Ini jelas pemberitaan negatif. 

Tantang balik, ikuti prosedur tes DNA dan apa pun untuk membuktikan Anda tidak bersalah. 

Secanggih apa pun teknologi, andai ada foto dan video yang dikeluarkan si wanita, saya yakin pakar telematika bisa mengetahui asli tidaknya barang bukti itu. 

Dengan logika berpikir seperti ini, sebagian besar analisa penulis benar. Masa' Anda senang dan membiarkan orang lain merusak reputasi Anda dan membuat keluarga besar Anda pun terkena getahnya?

Logika lain: Berani karena benar! Jika Anda benar, sampai ke mana pun Anda dan apa pun tantangannya, pasti Anda berani. Apa pun tantangannya (termasuk sumpah pocong, sumpah kuntilnak, sumpah genderuwo,...), penulis yakin jika Anda benar, pasti Anda terima tantangan itu!

Penulis berpikir, "luar biasa gilanya" jika seorang wanita yang tidak kenal dan tak punya hubungan intim dengan seorang pria public figure tiba-tiba muncul dan mengaku hamil atau melahirkan anak akibat hubungan intim dengan public figure yang tak pernah dikenal dan tak punya hubungan apa pun. 

Hal itu benar dan Anda punya bukti pun, Anda masih sangat mungkin kalah. Apalagi membuat cerita khayalan tanpa bukti. Anda bisa dipenjara, disuruh minta memasang iklan permintaan maaf di media masa nasional, dan lain-lain.

Silakan analisa berita di bawah ini (mana yang jujur, mana yang tidak):

  1. Diterpa Isu Wanita Siri, Rektor IPDN Mundur
  2. Cut Tari Mengaku, Ariel Membantah 

0 Responses

Poskan Komentar

abcs