Mari Korupsi Sejak Dini...

Busyet... judulnya kok begitu? Apakah Anda akan mengajarkan teknik korupsi? Atau Anda seorang koruptor kelas kakap yang akan membagikan ilmu Anda?

Ehm... semuanya tidak. Biasalah... judul hanya untuk menarik perhatian. Penulis hanya menuliskan pengamatan yang terjadi di sekitar penulis.

Mendengar kata korupsi, asosiasi kita tentu tertuju pada uang. Tapi sebenarnya kecurangan ini tak melulu soal uang, tapi memang kalau ditarik, ujungnya memang uang juga. Kita pernah mendengar istilah korupsi waktu. Memang yang dikorupsi bukan uang, tapi ujungnya juga uang.

Karyawan swasta atau pegawai negeri yang keluyuran pada jam kerja atau melakukan hal di luar kerja kantor padahal masih jam kantor. Dari yang ringan seperti asyik dengan BB (BlackBerry) alias asyik ber-BBM sampai yang serius menggunakan waktu kerja untuk keperluan (bisnis) pribadi.

Ini beberapa korupsi kecil-kecilan yang penulis temukan:
  1. Sejak lihat tayangan reportase investigasi tentang kecurangan pedagang dengan timbangannya. Memang benar, timbangan yang digunakan tidak pernah dibiarkan dalam keadaan kosong salah satu sisinya. Pasti di sisi tempat anak timbangan, ada saja benda yang ditaruh di sana. Mengapa? Kalau dibiarkan kosong, pasti ketahuan dari awal sisi tempat barang yang ditimbang dengan tempat anak timbangan tidak seimbang.
  2. Waktu nonton film atau masuk ke tempat wisata, biasanya tiket kita disobek sebagian (sebagian untuk penjaga, sebagian untuk kita). Sistem ini untuk menghitung berapa orang yang masuk. Tapi berkali-kali penulis menemukan penjaga yang curang. Caranya? Ketika penulis memberikan tiket, tiket penulis langsung dilipat dan disembunyikan di bawah sobekan tiket lain di tangannya, lalu mengambil bekas sobekan tiket orang sebelumnya lalu sobek sedikit dan diberikan kepada penulis. Ketika penulis komplain, dia lebih galak. Suruh penulis cepat-cepat pergi karena di belakang penulis banyak orang yang antri. Tiket yang utuh ini nanti diberikan kepada temannya untuk dijual lagi.
  3. Waktu penulis membeli minuman ringan bersoda di warung (pelayannya anak kecil). Penulis ditanya apakah akan diminum di sini atau diplastik? Penulis bilang diplastik. Anak itu langsung botol dan menuangkannya ke plastik, lalu menaruh botol kosongnya di etalase. Karena curiga dengan gerak-geriknya, penulis melihat ke etalase yang membatasi penulis dengan anak kecil itu. Memang botol itu agak tertutup barang dagangan lain, tapi jelas terlihat, botol tadi belum kosong!

0 Responses

Poskan Komentar

abcs