Melintasi Masa, Mengenang Semua (Bagian 4)

Bagi yang suka musik, tentu tak asing dengan kaset yang biasa disetel di tape recorder atau walkman (yang praktis bisa dibawa ke mana saja karena kecil dan menggunakan tenaga batere). Sampai sekarang, kaset masih ada, tapi juga disertai produk yang lebih baru: CD.

Ternyata kaset (media penyimpanan data biasanya berupa lagu), bukanlah media awal penyimpan lagu. Awalnya media penyimpan lagu ini berupa piringan hitam (biasa disingkat PH), yang disetel/ dioperasikan dengan alat bernama gramaphone.

Meski tidak pernah memiliki secara langsung, penulis sempat melihat dan mendengar langsung instrumentalia dan lagu dari piringan hitam milik kakek dan paman penulis. Yang paling akrab dengan piringan hitam adalah profesi DJ (Disc Jockey).

Setelah piringan hitam, muncul kaset yang lebih simpel (kecil dan praktis dibawa dan disimpan). Setelah itu muncul Laser Disc atau dikenal dengan singkatan LD. Laser Disc mirip dengan piringan hitam, hanya saja warnanya putih perak (mirip CD sekarang namun ukurannya sebesar piringan hitam). Seingat penulis, di antara media yang lain, usia Laser Disc yang paling singkat masa jayanya.

Dari LD beralih ke CD yang kita kenal sekarang, tapi hebatnya kaset digunakan masih ada hingga sekarang. Yang paling penulis ingat dari kaset adalah pitanya sering kusut di dalam tape recorder. Setelah dikeluarkan, pita kasetnya tidak rapi. Bahkan tidak jarang pitanya rusak parah. Solusinya: buang bagian pita yang rusak parah (guting), lalu sambung dengan kuteks (cairan bening pelapis kuku). Tapi jadinya lucu, lagunya bisa loncat karena ada bagian pita yang sudah terpotong.

Berikut gambar-gambarnya.




Laser Disc (yang kecil CD)


Laser Disc Player
(di atas laser disc player ada CD, bandingkan ukurannya dengan LD)

0 Responses

Poskan Komentar

abcs