Logika Berpikir: Uang vs Nama Baik

Kadang hal rumit di dunia ini, tidaklah serumit yang kita pikirkan. Menurut penulis, pada kasus tertentu, pilihannya hanya 2: uang atau nama baik?

Bagi pengambil keputusan, dalam benak penulis cuma 2 itu. Jadi kalau sampai pada dilema untuk memutuskan, tinggal pilih mau ambil uang atau tanpa uang tapi nama baik.

Kita ambil contoh kasus dalam lingkup kecil saja. Dalam sebuah perusahaan, ada yang berposisi sebagai pengambil keputusan (tapi bukan pemilik lho). Misalnya: kepala bagian pembelian.

Bukan hal yang aneh, bagian ini penuh godaan (kata orang sih lahan basah). Anda akan membeli bahan baku dari perusahaan mana (suplier mana)? Secara teori, tentu pilih yang kualitasnya bagus dan harga bersaing. Bukan kualitas bagus harga murah, jarang ada yang begini.

Tapi apakah Anda akan melakukan hal yang sesuai dengan teori jika ada banyak penawaran menggiurkan yang masuk. Perusahaan A memberi 5% dari tiap pembelian, perusahaan B menawarkan bonus kendaraan, dan lain-lain. Jika Anda mampu bertahan, teori = praktik (artinya Anda murni berpatokan pada kualitas barang yang sesuai kebutuhan dan harga termurah dari penawaran yang masuk), itu Anda memilih nama baik. Anda akan dikenal sebagai karyawan yang baik. Mudah-mudahan saja tak ada orang yang posisinya di atas Anda merasa terganggu rezekinya atas keputusan Anda ini. 

Kalau ada, belum tentu jujur mujur, curang tak menang. Yang terjadi malah jujur tersungkur, curang menang.

Bahkan pada contoh di atas, misal ada 3 pemasok yang kualitasnya kurang lebih sama, sebu saja perusahaan A, B, C. Sebenarnya semuanya juga menawarkan "komisi" untuk Anda. Anda bisa memutuskan untuk menawar harga dan tidak akan menerima "komisi" dalam bentuk apa pun. Kalau itu yang terjadi, Anda sudah di jalan yang benar, semoga karir Anda berjalan mulus, dan banyak orang yang tertular pandangan hidup Anda.

Logika berpikir ini, silakan Anda terapkan pada banyak kasus di dunia ini. Biasanya hanya 2 pilihan itu. Jujur atau tidak jujur/ korupsi. 

Penulis berpikir, seandainya Anda bukan di posisi pengambil keputusan. Teman Anda melakukan banyak kecurangan (terima uang dari orang luar dan berusaha "membela" kepentingan orang itu). Anda tidak mau terlibat, biasanya Anda akan dikucilkan. Bagaimana dengan posisi pengambil keputusan (atasan Anda). Kalau beliau tidak tahu sama sekali, rasanya janggal. Kecurangan-kecurangan ini adalah hal yang sangat biasa terjadi di mana-mana. 

Jika atasan Anda sama sekali "lugu" dan tidak tahu hal ini terjadi pada bawahannya, itu di luar bahasan kita. Tapi jika atasan Anda tahu, ya itu tadi, pilihannya ada 2: uang atau nama baik? Jika atasan Anda tidak pernah menerima (baca: tidak mau menerima) uang dari bawahannya yang berasal dari pemberian pemasok, pasti bawahannya tak berani juga menerima uang tersebut. "Uang dari mana ini?" tanya atasan. "Dari perusahaan A Pak" jawab bawahan. "Kembalikan..." kata si Boss. 

Saya yakin, semua bawahan tidak akan berani melakukan kecurangan. Mungkin inilah yang terjadi di masa kapolri Hoegeng Imam Santoso, sosok teladan yang dikenal dengan kejujurannya.

Anda bisa coba menganalisa hal-hal di sekitar Anda dengan logika berpikir seperti ini. Dan penulis yakin, Anda dengan mudah bisa mengambil kesimpulan.

0 Responses

Poskan Komentar

abcs