Seriuskah Anda Berbisnis???

Untuk mencuci pakaian, penulis menggunakan jasa laundry kiloan. Dari beberapa kali pindah jasa laundry (karena tidak cocok) penulis melihat "ketidakseriusan" pengelola jasa cuci setrika ini.  

Pertama sebut saja laundry L. Awal-awal cuci di sini, semua baik-baik saja (meski sering tidak tepat waktu). Tapi setelah agak lama, pakaian yang sudah selesai tidak kunjung diantar (meski iklannya ada antar jemput gratis). Lalu ada pakaian yang tertukar dan hilang, akhirnya diganti.  

Terakhir kali, ada beberapa permasalahan pada hasil cucian. Kaos baru robek di bagian punggungnya. Celana panjang, setrikanya terlalu panas sehingga warna kain jadi mengkilap dan ada tanda setrika. Celana jeans anak terkena noda pemutih (warna jeans biru jadi ada bintik-bintik putih). Saat itu juga penulis komplain sambil bawa pakaiannya. Kasih tahu pimpinan Anda, ada beberapa masalah di pakaian yang penulis cuci.

Ketika mengantarkan pakaian yang akan dicuci, penulis tanya lagi, apa komentar Boss Anda? Saya belum ketemu Boss. Ya, sudah. Penulis tidak akan cuci lagi sebelum ada tanggapan dari Boss.

Seharusnya jika ada permasalahan, pakaian robek atau terkena noda pemutih, beritahukan kepada konsumen dan minta maaf sambil menanyakan kami harus bagaimana (bentuk pertanggungjawaban). Bukan pura-pura tidak tahu.

Sampai sekarang, tak ada tanggapan dari pimpinannya. 
 

 * * * * * 

Pakaian penulis bawa ke laundry lain, sebut saja laundry LS. Dua kali cuci, ada permasalahan juga. Pertama ada pakaian yang hilang, kedua tidak tepat waktu. Banyak tempat yang berani janji 2 hari selesai, tetapi ketika 2 hari konsumen datang, pakaian belum selesai. Jawaban pun tidak memuaskan. Setidaknya ada kata maaf, misalnya beberapa hari ini hujan terus, orderan terlalu banyak sehingga tidak tepat waktu. Tapi pelayannya, hanya bilang belum selesai. Coba nanti sore, atau besok. 

Yang parah, ada pakaian anak yang akan dipakai pada perayaan Imlek di sekolah. Janjinya 2 hari selesai. Saat akan diambil belum selesai. Coba sore. Sore datang, juga belum selesai. Katanya sudah selesai, tapi di kantor pusat. "Coba Bapak ambil ke sana."

"Lha, saya cuci di sini, ambil di sini. Lagi pula, ini kesalahan Anda, sudah 2 hari belum selesai. Kok malah saya yang harus ambil ke tempat lain?" Tak ada jawaban memuaskan. Tolong antar ke rumah saya. Jawabnya: ya dan penulis kasih alamat. Tidak juga diantar sampai malam. Ketika dihubungi, tokonya sudah tutup dan karyawan itu sudah di rumahnya (nomor kontak ternyata nomor karyawan tersebut). 

Besok pagi akan saya ambil karena ada pakaian yang dipakai untuk acara sekolah. Jam berapa buka? Ternyata jam buka setelah jam masuk sekolah. Anak saya nyaris tak mau ke sekolah karena kaos yang akan dipakai untuk perayaan Imlek tidak ada. Terpaksa pakai kaos lain!

Siang harinya ketika saya ambil, apa kata karyawan tersebut? "Saya sudah cek Pak, tidak ada seragam sekolah di cucian Bapak." Luar biasa karyawan seperti ini. Kalau jadi karyawan penulis, karyawan ini ada di urutan pertama pensiun saat itu juga!

Bukan minta maaf malah menyalahkan konsumen, seolah konsumen menipu. Penulis bentak, "Memang bukan seragam sekolah. Ini perayaan Imlek, harus pakai kaos merah yang ini" kata penulis sambil menunjuk pakaian dalam plastik. Kalau Anda kurang percaya, silakan ke sekolah (yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari lokasi laundry). 

Penulis tidak mengerti bagaimana pemilik mengajari karyawannya bersikap seperti ini kepada konsumen!

* * * * * 
  
Pindah ke laundry ketiga, sebut saja HH. Kinerjanya kurang lebih sama. Tidak tepat waktu. Sampai penulis bilang pakaiannya nanti diantar karena sudah 2 kali datang, masih juga belum selesai. Jawabnya: ya, tapi tidak juga diantar. Telpon atau SMS pun tidak. Parahnya lagi, ketika jumlah cucian yang tertera di bon tidak sama (kurang), bon dicoret-coret hingga tak terbaca baru ditulis angka yang sesuai dengan jumlah pakaian yang ada. 

Waktu cucian diantar, mereka langsung hitung jumlahnya, misal 20 potong. Waktu akan ambil, ternyata ada 18 potong, tapi di bon asli angka 20 sudah dicoret sampai tak terbaca, dan ditulis 18 potong. Copy bon yang ada di tangan penulis diminta saat pengambilan. Sampai di rumah, ternyata pakaian hanya 18 potong (seingat penulis di bon tertulis 20 potong). Waktu komplain, apa jawab pelayan? "Pas, Pak. Ini tulisannya 18 dan Bapak hitung di rumah ada 18 potong" kata pelayan. 

"Gimana tidak pas, angka 20 dicoret, jadi 18 sesuai pakaian yang ada. Kalau saya cuci 30 potong, waktu cuci hilang atau saat dijemur terbang dan hilang, sisa 10 potong pun, Anda tinggal coret angka 30 lalu ganti jadi angka 10. Pasti pas! Di sini 'kan ada perinciannya, 20 potong itu terdiri dari berapa kemeja, berapa kaos, berapa celana, dan lain-lain. Kalau Anda salah hitung, kenapa 20 potong itu ada perincian sekian kemeja, sekian kaos, dan lain-lain hingga 20 potong?" Tak ada jawaban (memang karyawan ini agak susah diajak bicara). Capek berdebat dan penulis pun tidak ingat pakaian mana yang tidak ada dan kantor pusatnya juga jauh, lupakan saja.

Jasa laundry lain masih banyak!

* * * * *  
 
Sekarang ada di jasa cuci setrika keempat. Apakah masih bermasalah? Sejauh ini belum, tapi laundry ini, sebut saja F, unik sekali. Silakan klik links berikut tentang uniknya laundry ini. Timbangan Unik Versi Laundry.


Penulis bertanya-tanya. Konon katanya, pembeli konsumen adalah raja. Kepercayaan harus dijaga agar kelangsungan usaha terjaga. Apakah para pebisnis laundry menyadari hal ini???
0 Responses

Poskan Komentar

abcs