Pembeli Adalah Raja, Penjual Masih Cuek Saja

"Pembeli adalah raja" demikian slogan yang kerap kita dengar. Maka tidak heran jika penjual (barang ataupun jasa) berlomba-lomba melayani pembeli dengan sebaik mungkin agar pembeli tertarik untuk membeli dan jadi pelanggan.

Dulu, kalau ingin belanja, kita yang harus datang ke penjual (toko). Tapi sekarang, banyak penjual yang menyediakan layanan antar barang sampai ke rumah pembeli/ pelanggan. Beberapa penjual yang menerapkan layanan antar: restoran cepat saji, mini market, air galon isi ulang, dan lain-lain.

Tapi pada beberapa kasus yang penulis temui, tampaknya penjual atau pedagang masih kurang menyadari pentingnya pembeli. Sah-sah saja sih... tapi risiko ditanggung sendiri. Ketika penjual lain sudah berinovasi sampai memberi pelayanan yang lebih, penjual ini masih santai dan terkesan cuek kepada pembeli... Berikut salah satu contohnya.

Ini bukan kali pertama penulis mengunjungi pak penjahit itu (tepatnya khusus memperbaiki jahitan: memendekkan celana panjang, mengganti resliting, dan lain-lain atau biasa disebut tukang permak pakaian). Penjahit ini menyewa kios kecil kurang lebih 1,5 x 1,5 meter. 

Saat itu si penjahit sedang duduk santai di depan kiosnya. Penulis datang dengan sebuah kantong kresek berisi 6 potong celana dan baju yang akan dipermak. Kantong kresek sudah penulis letakkan di atas mesin jahitnya, si penjahit masih duduk santai di depan kiosnya dan tak beranjak dari tempat duduknya. Penulis buka kantong kresek si penjahit masih juga belum menyapa, padahal ia mengetahui kedatangan penulis.

Melihat reaksi yang kurang bersahabat, penulis langsung bilang "Aduh... salah bawa kresek." Penulis langsung menutup kembali kantong kresek dan siap pergi. Si penjahit baru bertanya "Kenapa Pak...?" Penulis jawab, "Salah bawa kantong kresek" dan berlalu. Si penjahit menampakkan muka masam, tidak jadi dapat rezeki. 

Salah sendiri, pikir penulis. Penulis berlalu dan mencari tukang permak pakaian yang lain. Ternyata... tukang permak pakaian banyak kok (bukan hanya bapak tadi). Jika ingin rezeki, layanilah konsumen dengan sebaik mungkin. Ketika penjual lain sedang berlomba-lomba memberi pelayanan lebih (ramah, harga lebih murah, beri potongan harga, dan lain-lain), Anda masih tidak mau menyapa rezeki yang sudah di depan mata. Dan... jika mendapat pelayanan yang kurang memuaskan, penulis langsung kapok dan jangan harap penulis akan datang ke sana lagi. Cukup sekali saja.

Anda masih "pantas sombong" (meski ini sikap yang tidak baik), jika Anda hanya satu-satunya yang menjajakan dagangan/ punya keahlian itu. Mungkin, meski menggerutu, konsumen masih akan menanti layanan Anda. 

Sementara itu, di sebuah restoran ayam goreng cepat saji, tepatnya di mesin register tertempel stiker tulisannya kurang lebih seperti ini "Jika kasir kami tidak tersenyum, makanan yang Anda pesan GRATIS."

0 Responses

Poskan Komentar

abcs