Pilkada DKI yang Penuh Kejutan

Politik memang sukar diprediksi. Tidak ada kawan abadi ataupun lawan abadi. Yang ada mungkin hanya "kepentingan abadi".  

Pendaftaran pasangan cagub-cawagub DKI sudah ditutup. Ada banyak fakta yang mengejutkan publik. Banyak nama cagub yang beredar, banyak yang sudah dekalarasikan diri jauh-jauh hari, sudah mengunjungi banyak partai untuk pencalonan dirinya, sudah mengunjungi pasar dan pusat keramaian, tapi sampai detik-detik terakhir, namanya tidak juga muncul sebagai cagub dari salah satu parpol. Ada cagub DKI yang ditangkap KPK.

Yang paling mengejutkan publik, mungkin munculnya nama Anies Baswedan dan Agus Harimurti sebagai cagub (yang selama ini jauh dari pemberitaan). Muncul di detik-detik terakhir. Sedangkan nama-nama lain yang sudah wara-wiri di dunia nyata dan maya, malah tidak jadi cagub. Bahkan ada cagub yang sudah daftar ke KPU lewat jalur independen (perseorangan), tapi ternyata KTP yang dibutuhkan, ternyata sangat jauh dari yang disyaratkan (Ichsanuddin Noorsy).

Sandiaga Uno yang semula akan jadi cagub, akhirnya jadi cawagub. Hebatnya daya tarik pilgub DKI, 3 mantan menteri juga terjun jadi cagub: Adhyaksa Dault (mantan Menpora), Yusril Ihza Mahendra (mantan Menteri Sekretaris Negara Indonesia, Menteri Hukum dan Perundang-undangan Indonesia, Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Indonesia, yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang/ PBB), dan Anies Baswedan (mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan). Bahkan Yusril dan Anies pernah jadi calon presiden. Yusril diusung Partai Bulan Bintang, Anies calon presiden dari Konvensi Partai Demokrat tahun 2014.

Uniknya lagi, semua cagub bukan "orang partai" (bukan pengurus partai): Ahok, Agus Harimurti, Anies Baswedan. Entah karena kaderisasi tidak berjalan dengan baik atau pertimbangan politis untuk meraih kemenangan, atau hal lain.

Siapa pun yang menang atau terpilih? Penulis pastikan, yang menang pasti si A! Entah ia:

Ahok
Agus atau
Anies


Dan yang paling menarik perhatian adalah kutipan berita berikut ini: 

 Presiden: Perwira TNI-Polri 
Jangan Bercita-cita Jadi Gubernur



Selasa, 22 Desember 2009 22:28 WIB
Surabaya (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan para perwira lulusan akademi TNI dan Polri sebaiknya tidak bercita-cita menjadi kepala daerah mulai dari tingkat gubernur, bupati, dan walikota.

Dalam pengarahan kepada taruna, pengasuh, dan perwira TNI-Polri di Graha Samudra Bumi Moro, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, Selasa malam, Presiden mengatakan adalah hal wajar dan benar apabila seorang prajurit berkeinginan untuk menjadi jenderal, laksamana atau marsekal, demi pengabdian yang lebih luas lagi kepada negara.

"Yang tidak benar kalau kalian memasuki akademi TNI Polisi lantas cita-citanya ingin menjadi bupati, waikota, gubernur, pengusaha, dan lain-lain. Tidak tepat," ujarnya.

Presiden mengatakan para taruna lulusan TNI dan Polri harus bercita-cita menjadi perwira yang berhasil di lingkungannya.

Namun, dalam mengejar karir menuju pucuk jabatan tertinggi, Kepala Negara mengingatkan agar mereka tidak menghalalkan segala cara atau menjatuhkan teman-teman sendiri untuk menghilangkan pesaing.

"Bisa saja dalam perjalanan kehidupan nanti ada dinamika, takdir, jalan kehidupan kalian memasuki profesi yang lain, tapi saya ingin hati dan pikiran kalian semua mulai besok saya lantik hanya satu ingin berbakti dan mengabdi di lingkungan TNI Polri dan berhasil menjadi perwira," tuturnya.

Menurut Kepala Negara, untuk itu Para taruna harus mau bekerja keras dan berjuang menjalankan tugas sebaik-baiknya.

"Hanya dengan cara itulah kalian berhasil menghadapi rintangan dan tantangan tugas yang tidak ringan," ujarnya.

Dalam pengarahannya, Presiden Yudhoyono menyampaikan tiga hal penting berdasarkan pengalamannya sendiri untuk dipegang para taruna selama perjalanan karir mereka.

Tiga hal itu adalah mengemban tugas apa pun di mana pun secara sungguh-sungguh dengan selalu memberikan yang terbaik, terus menerus belajar sendiri guna meningkatkan kemampuan, serta tidak pernah menyerah dalam mengatasi persoalan.

Bahkan sebagai seorang kepala negara pun, Presiden Yudhoyono mengatakan tiga hal itu masih ia pegang teguh hingga sekarang.

Sebanyak 1.092 taruna akademi TNi dan Polri lulusan tahun 2009 akan menjalani pelantikan dan pengucapan sumpah atau prasetya perwira (praspa) di Dermaga Ujung, Markas Komando Armada Kawasan Timur, Surabaya, pada Rabu 23 Desember 2009 dalam upacara pelantikan yang dipimpin oleh Presiden Yudhoyono sebagai inspektur upacara.

Taruna tersebut terdiri atas 275 taruna akademi militer, 195 taruna akademi angkatan laut, 123 aruna angkatan udara, serta 434 taruna akademi polisi dan 65 taruni akademi polisi.(*)
Editor: Ruslan Burhani

Sumber: Antara News
1 Response

Poskan Komentar

abcs