Artikel No. 16-20

16. Bukan Segalanya

“Kamu dapat uang berapa?” tanya rekan kerja penulis. Hal ini berkaitan dengan tercatatnya nama penulis di Muri (Museum Rekor Dunia Indonesia) dan mendapat piagam rekor. “Tidak serupiah pun” kata penulis. Hanya selembar piagam dan kadang ada bingkisan berupa produk jamu, dari pabrik milik Jaya Suprana yang menjadi donatur utama Muri.

“Wah... untuk apa capek-capek kalau nggak dapat uang?” dia bertanya lagi. Untuk kesekian kalinya penulis harus cerita panjang lebar bahwa Muri itu lembaga nonprofit. Hanya bisa kasih selembar piagam, toh... kalau Anda berkunjung ke sana juga tidak dipungut biaya. Dana operasional Muri bersumber dari kantong pribadi Om Jaya dan keuntungan pabrik jamu.

“Hanya kepuasan batin dan rasa bangga” jawab penulis. “Tidak semua hal di dunia ini bisa diukur dengan uang. Kamu punya uang, coba kirim ke Muri dan bilang: Saya mau piagam rekor sebagai pembuat baju terbesar. Apakah kamu akan mendapatkannya?” tanya penulis.

Pelajaran: Uang bukanlah segala-galanya.


***********

17. Bukan Uang

“Uang bukanlah segala-galanya, tapi segala-ganya perlu uang.” Anda tentu pernah mendengar kalimat itu ‘kan? Yah... kenyataannya memang hampir seperti itu.

Tapi ada juga momen yang menunjukkan ungkapan itu tidak berlaku. Kisah ini masih berkaitan dengan Muri. Ini terjadi saat penulis bersama sekitar 160 rekoris (pemegang rekor) diundang oleh Presiden Gus Dur ke Istana Negara untuk mengikuti Konvensi Muri (26 April 2000). Rekan sekerja penulis banyak yang tak percaya.

Saat ngobrol, ada yang nyeletuk, “Saya ikut ya? Biar saya yang bawain koper Hendry. Semua ongkos saya yang bayar, asal boleh ikut ke istana.” Wow... emang bisa begitu? Sekedar catatan, dari sekitar 450 rekoris yang tercatat di Muri, hanya 160 rekoris yang terpilih dan diundang ke Konvensi Muri pertama itu. Dan hanya rekoris yang masih balita yang boleh ditemani ortu.

So... mau bayar berapa pun, jika Anda bukan rekoris Muri, Anda tidak akan bisa ikut acara ini.

Pelajaran: Sekali lagi, uang bukanlah segala-galanya.


***********

18. Kesempatan Langka

Naik bis di Jakarta tanpa terjebak macet dan terhalang traffic light? Itu pengalaman tak terlupakan sebagai salah satu “hadiah” bagi rekoris. Rombongan kami dikawal 2 motor besar polisi yang membuka jalan menuju Istana Negara. Saat lampu merah atau di persimpangan jalan kami melaju terus tanpa hambatan. Dapat kesempatan langka ini karena kami jadi tamu orang nomor satu di Indonesia saat itu.

Sebagai rekoris, penulis pernah diwawancara dan tampil di RCTI, antv, TPI, Indonesiar, dan TV7 (sekarang Trans7). Berita tentang penulis pernah dimuat di Solo Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Galamedia, majalah SeRu!, majalah Gatra, dan tabloid Tokoh.

Penulis juga berkesempatan foto bersama Presiden Gus Dur, Dr. Jaya Suprana, Gesang (pencipta lagu Bengawan Solo), Kak Seto, Helmy Yahya, dan Novia Kolopaking. Juga bertemu dengan manusia serba ter, manusia dengan kemampuan unik dan langka, serta manusia dengan segudang prestasi.

Pelajaran: Ayo ukir prestasi, “hadiah” akan mengikuti.


***********

19. Teman Baru

Masih ada “bonus” lain dari ajang rekor yang penulis ikuti. Selain bertemu dengan public figure negeri ini (ada juga tak sempat foto bareng), penulis juga berkenalan dengan orang-orang dari industri kreatif (industri pertelevisian dan dunia jurnalistik). Dunia yang juga akrab dengan penulis.

Senang bisa kenal dan tukar pikiran tentang industri hiburan dengan Mas Maman Suherman (pemred majalah SeRu! yang kini di Avicom). Kenal dan ber-SMS-an dengan Lucia Saharui, reporter “Unik” RCTI yang kini karirnya makin gemilang setelah hijrah ke MetroTV (Sport Corner, Periskop, Headline News, dan Metro Malam). Juga Mbak Lestari, penyiar RRI Bandung yang mengasuh acara “Detak Pasundan”.

Dapat tanda tangan plus pesan dari Soedomo (mantan Pangkopkamtib), Ir. Ciputra (bos Jaya Group), dan tanda tangan serta alamat para rekoris yang membuat penulis geleng-geleng kepala atas prestasinya. Semua kenalan baru ini membuat wawasan penulis makin luas.

Pelajaran: Makin banyak teman, makin luas wawasan.


***********

20. Banyak Jalan

Pesta pernikahan adalah momen sekali seumur hidup. Maka segala upaya dikerahkan untuk membuat momen sekali seumur hidup itu menjadi kenangan tak terlupakan.

Yang sering jadi kendala adalah masalah budget/ keuangan. Kalau uang bukan kendala, Anda bisa minta bantuan EO (Event Organizer) buat pesta yang semeriah mungkin. Kalau uang minim? Di sinilah kreativitas berperan.

Ini yang kami lakukan (penulis & Linda, kini jadi istri penulis). Kerahkan segala kreativitas agar pesta pernikahan kami jadi momen tak terlupakan.

Singkat kata, hadirlah undangan pernikahan berbentuk unik (kubus) dengan 6 bahasa berbeda di ke-6 sisinya dan “Buku Mini Tanda Kasih” souvenir pernikahan kami. Unik? Jelas dong. Keduanya tercatat sebagai rekor Muri.

Kami yang orang biasa (bukan public figure), tapi berita pernikahan kami dimuat di koran dan beberapa kali kami diwawancara untuk acara TV. Diberitakan tanpa harus bayar se-sen pun! Sungguh kenangan yang tak terlupakan.

Pelajaran: Banyak jalan menuju Roma.


0 Responses

Poskan Komentar

abcs